istri yang mirip karung beras
Istri yang mirip karung beras
"Apa kurangku??" tanya Airin saat dia
memergoki Rangga suaminya tengah
berciuman panas di sebuat cafe yang
telah di dekorasi untuk acara ulang
tahun Rangga.
Rangga diam. Wanita cantik yang saat
ini bersamanya pun hanya diam, dan
menatap Airin yang saat ini juga
menatap suami dan selingkuhannya
dengan air mata yang sudah mulai
menggenang di pelupuk matanya.
"Aku dan Bunga menantimu di rumah
untuk merayakan hari ulang tahunmu
bersama. Aku menyiapkan segalanya
dari pagi hingga malam, hanya untuk
kamu Mas. Tapi kamu justru di sini
bersama ..." Airin tak mampu
berkata-kata lagi. Air mata yang sejak
tadi ia talhan pun akhirnya longsor
membasahi pipinya.
"Apa kesetiaanku selama lima tahun
ini kurang?? Apa aku kurang
mengurusmu di rumah??"
"Aku bahkan tidak tidur sebelum
kamu pulang kerja Mas. Aku akan
terus terjaga sampai kamu berada di
rumah. Aku tidak pernah
menelantarkan kamu dan putri kita.
Jadi dimana kurangku sebagai seorang
istri!" teriak Airin. Dadanya sesak,
hatinya sakit.
"Kamu tidak bisa memanjakan mata
suamimu saat Suamimu pulang kerja.
Jadi jangan salahkan jika suamimu
melirik wanita seksi di luar rUmah.
Kamu terus menunjukkan semua
kelebihanmu, pandai memasak,
mengurus anak, mengurus suami,
menyiapkan segalanya buat suami, tapi
semua itu percuma saja kalau
penampilanmu seperti karung beras!!!"
Wanita yang bernama Raisa itu maju
"Lihatlah penampilanmu dari atas
sampai bawah, memang ada yang bisa
bikin suami tertarik untuk betah di
rumah?" Raisa menyeret Airin
menghadap sebuah kaca besar yang
ada di Cafe tersebut, dan Airin pun
menatap dirinya di pantulan kaca itu,
berdampingan dengan Raisa, yang
tubuhnya terlihat begitu ramping dan
seksi.
Seketika Airin menatap Rangga
dengan mata yang basah. "Apa benar
kamu terganggu dengan penampilanku
Mas??
Apa karena aku gendut, makanya
selama ini kamu udah nggak pernah
lagi mengajakku untuk keluar walau
hanya sekedar makan malam??" tanya
Airin dengan raut wajah berharap jika
Rangga tidak akan mengiyakan
pertanyaannya.
"Jawab Mas!! Kenapa malah diam
saja??" Bentak Airin.
"Iya!!"
"Aku muak dengan penampilanmu!!
Aku manusia biasa yang selalu ingin
saat aku pulang bekerja, istriku bisa
memuaskan mataku dengan
penampilannya. Harusnya kamu
instrospeksi diri, kenapa aku berbuat
seperti ini. Lihatlah Raisa, dia begitu
cantik, tubuhnya terawat, wajahnya
terawat. Padahal anaknya sudah dua,
tapi dia pandai merawat tubuh dan
wajahnya. Dan lihat dirimu, anak baru
satu, tapi tubuhmu sudah melar seperti
karet. Jadi jangan salahkan aku jika
mataku puas saat melihatnya," jawab
Rangga.
Hancur sudah hati Airin saat
mendengar ucapan Rangga, suami
yang sangat di cintainya selama ini.
Jika orang lain yang mengatakan
tentang kekurangannya, mungkin
tapi saat suaminya sendiri yang
mengatakannya, hatinya luluh lantak
tak tersisa.
"Aku baru tahu kalau kamu
mempermasalahkan penampilanku.
Aku kira Mas beda dari orang lain
yang tidak akan memandang
kekurangan fisik istrinya," isak Airin.
"Pulanglah, kita akan selesaikan
semuanya di rumah," ucap Rangga.
Tanpa banyak kata Airin pun
meninggalkan cafe tersebut dan keluar
dari sana.
Airin memasuki mobil yang terparkir
di depan cafe tersebut sambil berucap.
"Jalan kenanga, rumah nomor delapan
belas ya Pak," ucap Airin dengan
isaknya yang tak bisa di hentikan.
Berkali-kali ia mengusap air matanya
yang terus turun tanpa henti.
Mengingat semua kejadian akhir-akhir
ini yang terus mengarah ke
perselingkuhan suaminya, tapi ia terus
menepis semua itu dan selalu
berpositif thingking.
Bahkan sahabatnya yang satu kantor
dengan suaminya kerap kali
mengingatkannya kalau Suaminya ada
<1StI yang mirIp Karung beras
main dengan wanita lain, tapi Airin
tidak mempercayainya, dengan alasa
kepercayaan harus ia junjung tinggi
terhadap suaminya. Dan malam ini ia
merasa menjadi wanita paling bodoh
di dunia karena mempercayai jika
suaminya tidak akan pernah selingkuh.
Karena nyatanya suaminya memang
berselingkuh dengan sekertarisnya di
kantor.
"Pak dia..."
"Jalan saja."
"Baik Pak."
Karena kesedihan yang teramat sangat,
<1SI yang mirIp Karung beras
Airin bahkan tidak tahu jika ia salah
menaiki mobil seseorang. Airin fikir
itu adalah taksi yang sedang mangkal
ternyata bukan.
Baru setengah perjalanan mobil pun
berhenti tiba-tiba.
"Berhenti!!" ucap seseorang yang ada
di samping supir.
"Nona turunlah, telingaku muak
mendengar tangisanmu yang tidak
bermutu itu!!!"
Airin yang kaget karena mobil yang
tiba-tiba berhenti hanya menganga
mendengar suara bariton yang
Karena Airin tak juga turun, pria itu
turun dari mobilnya dan membuka
pintu belakang, lalu menarik Airin
untuk turun dari sana.
"Awalnya aku akan mengantarmu tapi
karena kamu sangat berisik sepanjang
jalan, aku terpaksa menurunkanmu di
sini."
Airin hanya diam.
"Wanita memang hanya
menyusahkan!! cepat jalan!!"
"Baik Pak."
<1SI yang mirIp Karung beras
Mobil itu pun berlalu dari hadapan
Airin, dan tinggallah Airin yang kini
berjalan sendiri dengan ingatan yang
kembali saat ia mnelihat suaminya
berciuman dengan begitu mesra
bersama wanita lain. Airin bahkan
lupa kapan terakhir kali suaminya itu
menciumnya.
Airin baru sadar atas semua penolakan
suaminya akhir-akhir ini. Ternyata
bukan karena lelah, tapi karenan
Rangga mungkin muak dengan
tubuhnya yang sudah tak lagi menarik
seperti dulu.
Beberapa saat kemudian Airin pun
sampai di rumahnya, belum ada
tanda-tanda jika suaminya sudah
pulang, sedangkan putrinya ia titipkan
di rumah Ibunya saat ia pergi menemui
suaminya di cafe.
Airin masuk ke dalam kamar lalu
berdiri di depan cermin besar meja
riasnya. Mengamati tubuh dan juga
wajahnya yang belakangan memang
jarang sekali ia perhatikan karena
terlalu sibuk mengurus rumah dan juga
putrinya yang lumayan rewel.
Airin tidak punya waktu untuk olah
raga atau berdandan selama ini, karena
baginya kebutuhan anak dan suaminya
<1StI yang mirIp Karung beras
nomor satu. Airin setiap harinya di
sibukkan dengan pekerjaan rumah
tangga yang tidak ada habisnya
sehingga ia lupa akan mengurus
dirinya sendiri.
Tak lama pintu kamar terbuka dan
Rangga pun masuk tanpa berkata apa
pun. la langsung mengambil handuk
dan segera masuk ke dalam kamar
mandi.
Setelah Rangga selesai mandi, Airin
masih berdiri di depan cermin sembari
memperhatikan suaminya dari
pantulan cermin.
"Kalau aku berubah jadi cantik dan
seksi, apa kamu akan kembali
mencintaiku??" tanya Airin dan sukses
menghentikan langkah Rangga yang
hendak tidur di luar.
"Nggak usah ngaco," jawab Rangga.
"Dalam waktu tiga bulan aku akan
berubah menjadi cantik dan lebih seksi
dari selingkuhanmu," ucap Airin
dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana mungkin?? Itu adalah hal
yang mustahil." Rangga tersenyum
meremehkan, lalu menatap Airin dari
atas sampai bawah yang terlihat
"Bisakah bersabar sebentar saja? Aku
berjanji akan berubah dalam tiga bulan
dan membuatmu kembali mencintaiku
seperti dulu. Tapi kumohon sebelum
itu, jangan melakukan hal terlalu jauh
dengan wanita itu. Jangan melakukan
hal yang melampaui batas, karena
hanya aku yang halal untukmu."
Rangga menghembuskan nafas
panjang dan tetap keluar dari
kamarnya dan Airin.
"Tunggu saja, dalam waktu tiga bulan
aku akan tampil lebih cantik dari
wanita itu."