Chapter 4

4320 Words
8 tahun yang lalu.... “Jadi, nanti kamu mau bawain lagu apa?”             Gadis kecil itu tersenyum manis dan memainkan rambutnya yang panjang sepunggung. Kemudian, dia meletakkan biolanya di atas meja dan menopang dagunya dengan sebelah tangan. Matanya yang bulat memandang anak laki-laki disebelahnya dengan berbinar-binar.             “Chrisye yang judulnya kangen.”             “Kangen?” tanya si anak laki-laki. “Itu, kan, lagu untuk orang gede, Va....”             Gadis kecil itu mengangguk pelan. Senyumnya merekah. “Kan, kata Bu Siska, kita bebas buat bawain lagu apapun. Kebetulan, aku lagi kangen sama papa. Papa lagi kerja diluar kota,” balas gadis kecil itu dengan nada yang lucu.             Si anak laki-laki itu membulatkan bibirnya dan menggumamkan huruf O tanpa suara. Kepalanya diangguk-anggukan dan anak laki-laki itu mengambil secarik kertas yang berada di atas biolanya sendiri.             “Kalau Tyo, mau bawain lagu, apa?” tanya si gadis kecil bersemangat ketika melihat anak laki-laki yang dipanggil Tyo itu mengeluarkan secarik kertas.             “Aku mau nyanyi lagu Peterpan yang judulnya sahabat.”             “Sahabat?” ulang si gadis kecil. Tyo mengangguk antusias.             “Kenapa milih lagu itu?”             “Karena lagu itu aku bawain untuk kamu, Elva. Supaya kita akan tetap bersahabat selamanya. Elva dan Tyo selamanya. Janji?”             Tyo mengulurkan kelingkingnya dan menunggu Elva menautkan jari kelingking gadis itu ke jari kelingkingnya. Elva mengerjapkan matanya sebelum kemudian tertawa renyah dan menautkan kelingking mungilnya ke jari kelingking Tyo. Keduanya tertawa keras dan Tyo mengacak rambut Elva dengan gemas.             Elva berusaha menghindar ketika Tyo hendak mencubit pipi tembam gadis mungil itu. Elva berteriak pelan dan langsung memukul lengan Tyo ketika anak laki-laki itu berhasil mencubit kedua pipinya.             “Arsyad Prasetyo? Shabrina Elvariana? Ayo, masuk... sebentar lagi kita akan mulai kelas musiknya.” Ibu Siska memanggil kedua anak itu dengan nada pelan dan lembut yang langsung dijawab oleh Tyo dan Elva dengan anggukan kepala mereka.             Itu adalah terakhir kalinya mereka bertemu karena dua hari sesudahnya, Shabrina dan keluarganya pindah ke kota asal gadis itu karena ayahnya ditugaskan untuk kerja disana. *** Victor membanting ranselnya ka atas kasur dan menggeram pelan. Laki-laki itu kemudian menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas kasurnya. Victor menghembuskan napas berat dan keras kemudian menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Dadanya bergemuruh hebat. Laki-laki itu kemudian menaruh kedua lengannya di atas kepala.             “Siapa, sih, tuh cowok? Kenapa dia bisa ngantar Shabrina pulang?” tanya Victor pada dirinya sendiri. Laki-laki itu kemudian bangkit dari posisi tidurnya dan melempar bantalnya ke arah pintu.             “Sinting gue lama-lama!” gerutunya. Victor kemudian mengambil ponselnya dari dalam ransel dan langsung menekan angka satu yang akan menghubungkannya langsung dengan nomor ponsel sahabatnya itu. Beberapa detik lamanya dia menunggu panggilan teleponnya tersambung, namun nada tunggu itu malah digantikan dengan suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang sedang dituju oleh Victor sedang sibuk.             “Sial!” Victor melempar ponselnya ke atas kasur. Tadinya dia mau melempar benda itu ke pintu, seperti bantal malang yang sekarang sudah tergeletak di dekat pintu. Namun, kalau hal itu nekat dia lakukan, Victor sudah pasti tidak akan mendapatkan ponsel baru karena ini sudah yang ketiga kalinya laki-laki itu mengganti ponsel karena hilang.             “Kemana, sih, si Shabrina? Nggak tau apa gue lagi khawatir gini? Kalau dia diapa-apain sama cowok itu, gimana? Bener-bener b**o, tuh, cewek! Bisa-bisanya mau dianter pulang sama cowok yang nggak dikenal!” desis Victor kesal. Laki-laki itu meremas kuat rambutnya dan melangkah keluar kamar, menuju dapur untuk membuat es sirup kesukaannya. Siapa tahu dengan meminum minuman segar itu, pikiran dan hati Victor bisa kembali dingin, tidak panas seperti sekarang. *** Lezko menghentikan motor Kawasaki-nya di depan rumah Shabrina. Laki-laki itu berhasil membujuk Shabrina untuk menemaninya makan siang dan mentraktir gadis itu. Awalnya, Shabrina menolak ajakan Lezko karena dia baru saja mengenal laki-laki itu. Tapi, Lezko berhasil membujuk Shabrina dan meyakinkan gadis itu bahwa dirinya adalah laki-laki baik yang hanya ingin menebus rasa bersalahnya karena hampir saja menabrak gadis itu tadi pagi dengan motornya.             “Makasih, Kak, udah nganterin gue pulang dan nraktir gue makan siang,” ucap Shabrina tulus sambil tersenyum tipis. Lezko menaikkan kaca helm-nya dan balas tersenyum seraya mengangguk.             “Sama-sama. Gue senang kok bisa nganterin lo pulang dan nraktir lo makan siang.”             Shabrina hanya mengangguk pelan dan membalikkan tubuhnya. Tepat ketika gadis itu ingin membuka pintu pagarnya, dia mendengar Lezko memanggil namanya.             “Ya, Kak?”             Lezko menatap kedua mata Shabrina lekat-lekat. Wajah gadis itu benar-benar manis hingga untuk sesaat, Lezko merasa lupa bahwa ada ribuan gadis manis di dunia ini selain Shabrina.             “Kak Lezko?” panggil Shabrina hati-hati. Shabrina sedikit heran karena melihat Lezko yang tiba-tiba saja terdiam seperti arca hidup. Shabrina menggoyang-goyangkan sebelah tangannya di depan wajah Lezko. Hal itu membuat Lezko tersadar dan buru-buru tersenyum lebar.             “Boleh gue minta nomor ponsel lo, Shab?” tanya Lezko langsung. Laki-laki ini tidak mau berbasa-basi. Lezko segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menatap raut wajah Shabrina yang kebingungan.             “Nomor ponsel? Buat apa?” tanya Shabrina heran.             Lezko harus menahan diri untuk tidak tertawa mendengar pertanyaan bodoh yang dilontarkan gadis itu padanya. “Buat apa aja. Telpon lo, SMS lo, apa aja. Biar lebih dekat... siapa tau kita bisa jadi teman, gimana? Boleh?”             Shabrina terlihat menimbang-nimbang keputusannya. Apakah dia harus memberitahu nomor ponselnya pada laki-laki itu? Biar bagaimanapun, Shabrina baru mengenal Lezko hari ini, meskipun sikap laki-laki itu sangat baik padanya.             Tak lama kemudian, Shabrina mengangguk mantap. Dia menyebutkan beberapa kombinasi angka yang sudah dihapalnya diluar kepala. Shabrina yakin bahwa Lezko bukan orang jahat. Lezko langsung dengan sigap mencatat nomor ponsel Shabrina pada ponselnya dan segera menelepon nomor ponsel gadis itu.                   “Udah gue telepon. Jangan lupa disimpan ya, nomor ponsel gue....”             Shabrina mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Gadis itu malas untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam tas sekolahnya. Setelah itu, Lezko menurunkan lagi kaca helm-nya, menyalakan mesin motor, dan pergi dari hadapan Shabrina, setelah sebelumnya dia melambaikan tangan untuk gadis itu.             Sepeninggal Lezko, Shabrina menghela napas panjang. Gadis itu menundukkan kepala dan mendesah berat. Kembali terlintas dalam benaknya ketika dia melihat Victor bersama Anna. Menurut penilaiannya, Anna gadis yang baik. Dia ramah pada siapa saja. Tapi, Shabrina tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia cemburu pada kedekatan Victor dengan Anna. Walaupun Victor mengatakan bahwa Anna adalah sahabatnya saat kecil dulu, itu tidak menutup kemungkinan bahwa mereka berdua bisa saja berpacaran.             Shabrina menahan perih dalam hatinya. Matanya terasa panas. Ingin rasanya dia menangis sekencang-kencangnya. Menumpahkan semua rasa sesak dan sakit yang menderanya. Shabrina bukan gadis t***l. Dia bisa melihat dari cara Anna menatap Victor bahwa gadis itu menyukai sahabatnya. Bahwa Anna menyukai Victor.             Shabrina menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras. Rasanya dunianya berputar hebat. Dadanya bergemuruh. Matahari terasa sangat panas di dalam tubuhnya. Benarkah ini karena panas matahari? Atau karena panas yang lain? Baru saja Shabrina ingin mencari tahu sumber panas yang dirasakan pada tubuhnya, mendadak semua menjadi gelap. *** “Udah sadar?”             Shabrina mengerjapkan kedua matanya dan memandang sekelilingnya. Gadis itu mengerutkan kening ketika sadar bahwa saat ini, dia sedang berada di dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya. Shabrina bangkit dari posisi tidurnya. Rasa sakit itu kembali menyerang kepalanya. Gadis itu meringis dan merasakan dua tangan besar memegang pundaknya, membantunya untuk duduk. Kain kecil yang berada di puncak kepalanya terjatuh.             “Victor?” panggil Shabrina dengan suara serak ketika gadis itu menyadari siapa orang yang sedang membantunya untuk duduk. “Kok, lo bisa ada disini?”             Victor menghela napas panjang dan mengambil kain kecil yang terjatuh di sisi tempat tidur Shabrina. “Udah gue bilang, Shab, cuma orang b**o yang bisa demam disaat cuaca lagi panas-panasnya.”             Shabrina menyipitkan matanya dan berdecak. Gadis itu memukul lengan Victor dan mendengar tawa renyah dari bibir laki-laki itu.             “Gue serius nanyanya, monyet!”             “Iya... iya... maaf, nggak usah ngambek gitu, Shab.” Victor mengacak rambut gadis itu gemas, yang langsung ditepis oleh si empunya kepala. “Gue tadi kebetulan emang mau main kesini. Pas gue dateng, gue liat lo lagi nunduk. Begitu gue mau manggil elo, eh, elonya malah pingsan. Untung gue langsung nangkap tubuh lo, jadi kepala lo nggak harus beradu sama aspal.”             Shabrina hanya diam. Gadis itu menatap mata Victor, membuang napas dan mengalihkan pandangannya dari tatapan lembut yang diberikan Victor untuknya.             “Lo kenapa senang banget bikin gue cemas dan khawatir, sih, Shab?”             Shabrina menoleh dan mendapati raut wajah serius dari Victor. Shabrina belum pernah melihat wajah Victor yang sangat serius seperti ini sebelumnya. Gadis itu bukannya merasa takut, justru merasa nyaman dan terlindungi ketika menatap kedua mata Victor yang menatapnya dengan tajam.             “Maaf....” Shabrina menundukkan wajahnya. Tangannya meremas kuat selimut yang sedang berada di atas tubuhnya. “Lagi-lagi, gue bikin lo khawatir.”             Victor menatap gadis itu dengan tatapan lembut. Perlahan, kedua tangan Victor terulur dan menangkup wajah gadis itu agar menatap ke arahnya. Victor menatap kedua mata Shabrina lekat-lekat.             “Gue cuma nggak mau lo kenapa-napa, Shab. Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi sama lo, gue nggak akan pernah bisa maafin diri gue sendiri.”             Shabrina terpana. Victor memang seorang playboy. Entah sudah berapa kali, Shabrina mendapati sahabatnya itu berganti-ganti perempuan. Dari perempuan satu ke perempuan lain. Dia mungkin bukanlah laki-laki yang baik untuk para perempuan itu, tapi, Shabrina tahu bahwa Victor adalah laki-laki yang baik untuk sahabatnya sendiri.             Shabrina menghela napas panjang. Matanya menatap ke arah selimut yang menutupi kakinya. Wajahnya masih ditangkup oleh kedua tangan besar dan hangat milik Victor. Sahabat? Kenapa rasanya sesak sekali hanya mendengar satu kata itu? Demi Tuhan, Shabrina sudah bersahabat dengan Victor semenjak keduanya sama-sama masih mengenakan seragam putih-biru. Sejak keduanya masih sama-sama disebut anak ingusan oleh orang-orang dewasa. Sejak keduanya masih bersikap labil, dengan emosi yang mudah berganti dan meledak-ledak. Shabrina mungkin sudah ribuan bahkan jutaan kali mendengar kata sahabat berkumandang di telinganya. Entah oleh orangtuanya, atau oleh teman-temannya yang lain.             Tapi, coba lihat dirinya sekarang? Shabrina bahkan berharap kata sahabat itu bisa berganti. Berganti menjadi kata sepasang kekasih. Shabrina sudah menyukai Victor sejak lama. Mungkin sejak keduanya lulus dari bangku SMP dan berganti menjadi siswa SMA. Shabrina dengan pandai menutupi perasaannya dari Victor. Shabrina dengan sabarnya melihat perempuan-perempuan itu silih berganti berdiri di sisi Victor. Mengusap rambut laki-laki itu lembut. Menggandeng lengan laki-laki itu mesra. Bersenda-gurau dengan laki-laki itu sepuas hati mereka. Mendapat SMS-SMS penuh kata cinta dan sayang dari Victor. Mencium pipi laki-laki itu setiap mereka bertemu, semuanya. Bahkan, Shabrina rela dimaki-maki dan diteror oleh beberapa mantan pacar Victor, karena menganggap Shabrina lah penyebab mereka putus dengan laki-laki itu. Victor lebih mementingkan sahabatnya itu, dibandingkan dengan pacar mereka sendiri. Disetiap Victor sedang bersama perempuan-perempuan itu, Victor pasti akan langsung melesat ke tempat Shabrina, kalau Shabrina membutuhkan bantuannya.             Tapi, apakah bahkan pantas kalau Shabrina menyukai Victor? Menyayangi laki-laki itu lebih dari sekedar seorang sahabat? Apa yang harus dia lakukan seandainya rasa suka itu bahkan bertambah besar dan berganti menjadi kata cinta? Apa... apa Shabrina bahkan masih sanggup menampung rasa sesak dan sakit itu setiap harinya, nanti? Melihat wajah Victor saja sebenarnya membuat Shabrina harus ekstra menguatkan hatinya. Untuk tidak menangis, untuk tidak bersedih, untuk tidak....             “Shab? Kenapa nangis?”             Suara lembut Victor mengembalikan Shabrina kembali ke kenyataan. Tanpa gadis itu sadari, semua yang terlintas di benaknya membuatnya mengeluarkan cairan kristal itu. Shabrina buru-buru menghapus airmata sialan itu, namun gerakan tangannya dihentikan oleh Victor.             “Lo kenapa?” tanya Victor cemas. Shabrina masih enggan menatap mata Victor. Wajahnya masih setia ditangkup oleh tangan laki-laki itu. Tangan laki-laki itu begitu hangat. Atau... memang suhu tubuhnya yang semakin meninggi akibat demam yang dideritanya?             Shabrina menggeleng pelan. Meskipun sudah ditahan mati-matian, airmata itu akhirnya mengalir dengan deras. Suara isakan pertama yang keluar membuat Shabrina menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Hingga pada akhirnya, Shabrina membiarkan isakan tangis itu menggema di dalam kamarnya.             “Shab... lo kenapa?” tanya Victor lagi. Kali ini suaranya benar-benar terdengar khawatir. Shabrina menggeleng. Demi Tuhan... jangan bersikap terlalu baik sama gue, Vic... gue nggak sanggup.             Pelan namun pasti, Victor membawa tubuh Shabrina kedalam pelukannya. Victor mendekap tubuh Shabrina yang semakin panas karena demam dengan erat. Tubuh gadis itu gemetar hebat dalam dekapannya. Isak tangisnya pun semakin keras. Victor tidak tahu kenapa Shabrina tiba-tiba menangis seperti itu. Terlebih ketika kedua tangan Shabrina melingkar di lehernya dengan erat. Sangat erat, seolah-olah kalau kedua tangan gadis itu terlepas dari lehernya, Shabrina akan langsung terjatuh. Jatuh yang benar-benar jatuh.             Victor mengusap punggung gadis itu lembut.             “Ssst... jangan nangis lagi, Shab... gue nggak bisa liat lo nangis. Bilang sama gue, siapa yang udah berani bikin lo nangis kayak gini?”             Shabrina memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Elo, Vic... elo yang udah bikin gue nangis. Elo! Shabrina berteriak keras dalam hatinya.             Sisa waktu itu dihabiskan oleh Shabrina dengan memeluk tubuh Victor. Hatinya terasa beku. Gelap. Mati. Entah sampai kapan Shabrina sanggup menahan rasa sakit itu.             Tuhan... kalau Kau tidak bisa mempersatukan aku dengannya, bisakah Kau memisahkan kami?             Karena, kalau mau jujur, Shabrina hanya ingin menjadi seorang sahabat bagi Victor. Sahabat yang selalu ada untuk laki-laki itu. Sahabat yang selalu setia mendengar setiap keluh kesah dari bibir laki-laki itu. Sahabat yang selalu bisa diandalkan disaat apapun. Sahabat yang selalu bisa mengerti situasi hati Victor tanpa harus ada pertanyaan ‘kenapa’ yang terucap dari bibirnya.             Tanpa harus ada perasaan lebih di hatinya.             Persahabatan antara laki-laki dan perempuan memang tidak pernah bisa terjadi.             Kenapa?             Karena di salah satu pihak, pasti akan ada yang merasakan perasaan yang lebih untuk sahabatnya. Pihak yang selalu akan tersiksa dan memakai topeng. Pihak yang akan selalu mematikan hatinya untuk sahabatnya, agar perasaan lebih itu tidak berkembang pesat. Pihak yang akan menderita pastinya.             Dalam kasus ini, Shabrina lah pihak yang sedang mengalami hal itu.             Kenapa kehidupan di dalam novel itu selalu berbanding terbalik dengan kehidupan nyata? Membangkitkan harapan-harapan palsu dihati para pembacanya. Karena kalau bisa, Shabrina ingin sekali harapannya terkabul. Walau hanya untuk sehari. Walau hanya untuk sebentar saja. Selagi waktu itu masih ada. Karena Shabrina tahu betul bahwa waktunya tidak banyak.             Kalau sudah seperti ini, Shabrina hanya ingin mengulang kembali masa SMP nya. Dengan begitu, Shabrina bisa menghindari Victor. Tidak berkenalan dengan laki-laki itu dan tidak menjalin persahabatan dengannya. *** Victor memperhatikan Shabrina yang tengah tertidur pulas di atas kasurnya. Gadis itu bungkam seribu bahasa. Tidak ingin mengatakan alasan dibalik tangisannya. Tapi, apapun yang membuat gadis itu menangis, pastilah hal tersebut sangat gawat. Dan Victor mengutuki dirinya habis-habisan karena tidak bisa melakukan apapun untuk membuat gadis itu tidak menangis sesegukan seperti tadi. Victor mengutuki dirinya habis-habisan karena ternyata dia belum mengenal gadis itu dengan baik, sebaik gadis itu mengenal dirinya.             Perlahan, jemari Victor mengusap rambut Shabrina yang jatuh menutupi wajahnya. Disampirkannya rambut itu kebelakang telinga Shabrina. Shabrina terlihat sangat damai dan tenang. Walaupun wajahnya memerah karena habis menangis, namun hal itu tidak menutupi kecantikan gadis itu. Tanpa sadar, bibir Victor menyunggingkan seulas senyum.             “Lo cantik, Shab.” Victor mengelus pipi Shabrina lembut. Dan tanpa bisa dicegah oleh dirinya sendiri, bibirnya sudah mendarat di pipi dan kening gadis itu. Setelah itu, Victor mengerutkan keningnya ketika merasa ada perasaan aneh yang mampir di hatinya.             “Kenapa gue jadi deg-degan, gini?” tanya laki-laki itu pada dirinya sendiri. Sebelah tangannya terangkat ke d**a dan merasakan degupan liar jantungnya. Victor memperhatikan wajah Shabrina dengan lebih seksama lagi. Hal itu malah membuat degupan jantungnya semakin tidak karuan. “Gue kenapa, sih?”             Tanpa menimbulkan suara, Victor bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar Shabrina. Victor berdiri dalam diam di depan pintu kamar gadis itu. Laki-laki itu berusaha menormalkan detak jantungnya.             “Masa, sih, gue....” Victor membiarkan kalimat itu menggantung di benaknya. *** “Victor....”             Victor dan Shabrina menoleh ke sumber suara. Shabrina hanya tersenyum tipis ketika Anna memberinya seulas senyum. Shabrina kemudian melirik lengan Victor yang sudah digandeng oleh Anna. Shabrina menghela napas panjang dan melangkah menuju kursinya.             Sebenarnya Victor sudah melarang Shabrina untuk masuk sekolah karena keadaan gadis itu masih kurang stabil. Namun, Shabrina menolak usul itu karena hari ini ada ulangan Sejarah. Shabrina sangat menyukai pelajaran Sejarah, karenanya gadis itu tidak ingin melewatkan mata pelajaran itu.             “Hai, An....” Victor balas menyapa Anna. Dibiarkannya gadis itu menggandeng lengannya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabat kecilnya yang sekarang sudah menjadi gadis manis itu. Keduanya berjalan ke arah kursi Victor yang berada tepat di belakang kursi Shabrina. Ravina dan Amalina melihat kejadian itu dengan kerutan di kening mereka. Shabrina sendiri berusaha tidak ambil pusing dan cuek dengan hal tersebut. Padahal, hatinya saat ini seakan sedang dihunus ratusan pedang yang tajam.             “Nanti, mau anterin gue ke toko buku, nggak, Vic?” tanya Anna manis. Mendengar itu, Shabrina hanya bisa menghela napas panjang dan bangkit dari kursinya. Victor mengernyitkan dahi melihat tingkah Shabrina yang aneh itu.             “Mau kemana, Shab?” tanya Victor dengan nada tajam. Dia tidak ingin sahabatnya itu pingsan dimanapun karena kondisi gadis itu yang masih sakit. Shabrina menoleh sedikit kebelakang, melewati bahunya, dan tersenyum kecil. “Nyari udara segar. Gue butuh udara segar. Gue butuh oksigen.”             Victor yang baru saja bangkit berdiri langsung ditahan oleh Shabrina. “Lo nggak usah nemenin. Gue lagi pengin sendiri.”             “Tapi....”             Belum sempat ucapan Victor itu selesai, Shabrina melangkah menuju pintu kelas. Anna memperhatikan kejadian itu dengan kerutan heran di keningnya. Kenapa Victor sangat perhatian dengan Shabrina? Victor memang pernah cerita kalau dia bersahabat dengan Shabrina, namun apakah harus sedekat dan seperhatian ini? Anna tidak bisa menutupi kata hatinya sendiri. Sudah sejak lama, semenjak kecil, ketika dirinya dan Victor mulai berteman dan belum mengenal apa itu cinta, Anna sudah menaruh hati pada Victor. Maka dari itu, ketika Victor pindah, Anna merasa sangat sedih.             Shabrina membiarkan Victor menyerukan namanya. Dia ingin keluar. Dia harus keluar. Airmatanya mengancam akan jatuh kalau dia terus berada diantara Victor dan Anna. Gadis itu tidak sanggup. Dia perlu waktu untuk sendiri.             Saat akan membuka pintu kelas, pintu tersebut sudah lebih dulu dibuka. Shabrina terkesiap dan mundur beberapa langkah. Di depannya terlihat sosok Arsyad yang tengah mengatur napasnya yang tersengal, sambil menatap Shabrina dengan tatapan antusias.             “Lo ikut gue!” Arsyad menarik lengan Shabrina dan menyeret gadis itu keluar kelas. Shabrina yang terkejut hanya bisa berteriak pelan dan berusaha menjejakkan kakinya di lantai. Sia-sia, karena tenaga Arsyad jauh lebih besar dari tenaganya. Victor yang melihat itu berusaha mengejar, namun suara Anna menghentikan langkahnya.             “Kenapa, An?”             Anna menyentuh kepalanya dan meringis. “Nggak tau, nih, tiba-tiba kepala gue sakit.”             Victor langsung menangkap tubuh Anna yang limbung dan hampir jatuh ke lantai. Victor menyangga tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Anna menyandarkan kepalanya di d**a bidang Victor.             “Gue antar ke UKS, ya?”             Anna mengangguk pelan. Victor membantu gadis itu berjalan dengan cara memapahnya. Ravina dan Amalina melihat hal itu dengan kerutan yang semakin menjadi di kening mereka.             “Ini ada apa, sih? Kenapa kesannya si Shabrina sama Victor lagi main api? Kayak yang lagi manas-manasin satu sama lain, deh!” gerutu Ravina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Amalina hanya mendesah dan tersenyum jahil.             “Kan, gue udah pernah bilang sama lo. Shabrina dan Victor itu sebenarnya sama-sama saling suka, cuma mereka nggak nyadar. Jadi aja mereka cuma bisa main cemburu-cemburuan. Childish, isn’t it?” *** Shabrina menyentakkan tangan Arsyad dari lengannya. Gadis itu melotot dan menampilkan wajah tergalaknya ketika berhadapan dengan Arsyad. Saat ini, keduanya tengah berada di ruang OSIS dan Arsyad sengaja mengunci pintu ruangan tersebut agar tidak ada anggota OSIS yang masuk.             “Lo udah gila, ya?!” seru Shabrina langsung. Jujur saja, saat ini dia butuh pelampiasan atas emosinya. Atas kesedihannya. Mungkin Arsyad bisa menjadi tempat yang cocok untuk melampiaskan semua yang dirasakannya itu.             “Iya!” tandas Arsyad sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Matanya menatap Shabrina dengan teduh namun juga tajam. Ada sorot kerinduan di sepasang cara Arsyad menatap gadis itu. “Gue gila karena lo, Elva!”             Shabrina kontan melongo maksimal. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya dan menunjuk wajah Arsyad dengan telunjuknya. “Lo... kenapa bisa tau nama kecil gue?”             Arsyad tertawa. Laki-laki itu maju dengan cepat dan langsung merengkuh tubuh Shabrina erat-erat. Seolah tidak ingin Shabrina pergi darinya. Mendapat perlakuan seperti itu, Shabrina langsung berusaha mendorong tubuh Arsyad yang memeluknya. “Lo ngapain, sih, Syad?! Lepasin gue!”             Arsyad melepaskan pelukannya dan tertawa renyah. Hal itu kontan membuat Shabrina makin heran lagi.             “Gue nggak nyangka, udah delapan tahun kita nggak ketemu, kelakuan lo berubah drastis. Dulu lo gadis manis yang lucu dan menggemaskan. Pipi lo tembam dan lo jago main biola.”             Shabrina makin mengerukan keningnya. Siapa, sih, Arsyad sebenarnya?             “Lo siapa, sih? Kenapa tau nama kecil gue? Kenapa tau gue main biola, dulu?”             “Gue... Tyo.”             “Tyo?”             Arsyad mengangguk mantap. Shabrina terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya....             “Tyo?! Elo, TYO?! Tyo yang suka banget sama batman, itu? Tyo yang waktu nyanyi lagu Peterpan khusus buat gue, itu?! Tyo yang itu?! Sahabat gue waktu di tempat les musik?”             Arsyad mengangguk dan tersenyum lebar. Deg! Shabrina terpana dengan senyuman itu. Ini yang senyum yang tidak pernah Arsyad perlihatkan padanya juga pada teman-temannya yang lain. Arsyad memang baik, ramah, tapi laki-laki itu tidak pernah tersenyum sedikitpun, entah kenapa.             “Ya ampun! Gue nggak nyangka, deh! Lo, kok, bisa inget kalau gue Elva? Gue aja lupa kalau lo itu Tyo!”             Arsyad mengangkat bahu tak acuh. “Awalnya, gue juga nggak ingat. Waktu lo nyanyi di kelas seni kemarin, terus gue ngiringin lo, gue jadi keingetan suara lo terus. Suara lo itu kayak yang pernah gue kenal. Terus, gue ketemu sama Bu Siska waktu itu. Dia tanya kabar lo. Gue bilang, gue nggak pernah ketemu lo lagi semenjak delapan tahun yang lalu. Pas gue main ke tempat les itu, gue iseng buka album foto anak-anak angkatan kita. Pas gue liat foto lo dan baca nama lo, gue langsung kaget. Ternyata, Elva, sahabat kecil gue itu, Shabrina Elvariana, si gadis jutek bin ngeselin di kelas gue!”             Shabrina cemberut dan meninju lengan atas Arsyad pelan. Keduanya kemudian tertawa keras dan menggelengkan kepala mereka takjub.             “Kangen banget gue sama lo, Va... lo pergi gitu aja tanpa pamit sama gue.”             Shabrina menghela napas panjang dan tersenyum. “Maaf, Syad, bukannya nggak mau pamit, tapi gue nggak sempat. Gue juga sedih waktu itu. Harus pisah sama lo, harus pisah sama anak-anak di tempat les.”             Arsyad menggenggam tangan Shabrina. Shabrina menatap Arsyad dengan bingung. Terlebih ketika laki-laki itu kembali memeluk tubuhnya.             “Jangan tinggalin gue lagi, ya, Va? Lo ingat kan janji kita dulu? Elva dan Tyo selamanya....”             Shabrina terdiam. Gadis itu tersenyum dan mengangguk di pundak Arsyad. Tanpa keduanya sadari, Victor memperhatikan kejadian itu dari jendela ruang OSIS. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Rasanya, dia ingin sekali menghajar Arsyad detik ini juga. *** Victor berkali-kali melirik sinis ke arah Arsyad. Laki-laki itu terlihat sangat akrab dengan Shabrina. Keduanya mengobrol dan tertawa keras, seolah lupa bahwa sebelumnya, mereka berdua seperti anjing dan kucing. Bahkan Shabrina sudah memberi label musuh bebuyutan untuk Arsyad.             Tapi, coba lihat sekarang? Keduanya sangat dekat. Seakan-akan mereka berdua adalah teman lama. Mengobrol, sesekali Shabrina memukul lengan Arsyad pelan dan laki-laki itu mengacak rambut Shabrina dengan gemas. Victor mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Sial! Dia benar-benar ingin menghabisi Arsyad saat ini  juga!             “Kenapa, lo, Vic?”             Victor tersentak dan menoleh. Ravina dan Amalina tengah menatapnya dengan kening berkerut dan senyum kecil di bibir mereka. Saat ini sedang jam istirahat dan beberapa siswa lebih memilih tinggal di dalam kelas.             “Gue emang kenapa?” Victor malah balas bertanya. Nadanya terkesan cuek. Sesekali, mata Victor kembali melirik ke arah Arsyad dan Shabrina. Ya Tuhan, bahkan sekarang Shabrina sedang main rebut-rebutan pulpen sama Arsyad?!             “Lo... cemburu?”                    Victor langsung menatap Ravina. “Apa kata lo?”             Ravina mati-matian menahan senyumnya agar tidak berubah menjadi tawa.             “Iya... elo cemburu sama Arsyad?”             “Dih.” Victor mendengus dan mencibir. “Nggak level banget gue cemburu sama dia!”             “Tenang aja, Vic... tadi Shabrina cerita, katanya Arsyad itu ternyata teman kecilnya dulu di tempat les. Arsyad baru aja ceritain semuanya. Shabrina juga nggak nyangka, ternyata Arsyad itu teman sepermainannya dulu waktu kecil. Arysad sendiri baru tau soal itu.”             “Gue nggak peduli,” balas Victor. Matanya berusaha untuk tidak kembali menatap Shabrina. Namun, suara tawa gadis itu yang kencang membuatnya lepas kendali. Kapan terakhir kali Shabrina bisa tertawa lepas seperti itu karena dirinya?             “Nggak usah sok nggak peduli gitu, deh, gue tau, lo suka, kan, sama Shabrina?”             Victor kontan mengerjapkan mata dan tertawa keras. “Gue? Suka sama Shabrina? Ya nggak, lah! Dia itu sahabat gue doang! Kayak nggak ada cewek lain, aja!”             Hening.             Victor langsung merutuki ketololannya ketika sadar bahwa suaranya menggema di dalam kelas. Semua mata terarah padanya, termasuk Shabrina dan Arsyad. Victor bahkan bisa melihat tatapan sedih yang terpancar dari kedua mata Shabrina.             “Shab... dengerin gue dulu. Maksud omongan gue tadi—SHAB!”             Victor segera bangkit dari kursinya dan berniat mengejar Shabrina yang sudah berlari meninggalkan kelas. Victor sempat melihat gadis itu menyeka pipinya. s**t! WHAT HAVE I DONE?! Victor memaki dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak berniat mengucapkan kalimat menyakitkan itu. Hanya saja....             Mungkin benar, dia cemburu pada Arsyad karena berhasil membuat Shabrina terbahak seperti tadi! Mungkin benar kata Ravina... dia... dia sebenarnya menyukai Shabrina!             Astaga! Apakah itu hal yang wajar? Dia dan Shabrina itu bersahabat! Dan dia tidak ingin menghancurkan persahabatan yang sudah terjalin selama ini.             Victor sudah hampir keluar dari kelas, ketika tiba-tiba satu tarikan keras di lengannya membuat tubuhnya berputar. Victor meringin menahan sakit di punggungnya ketika beradu dengan kerasnya dinding. Satu tekanan kuat Victor rasakan di dadanya dan berasal dari lengan Arsyad. Laki-laki itu menatapnya tajam dan ada keinginan untuk membunuh, yang bisa Victor lihat dari kedua mata tajam itu.             “Lo bahkan nggak pantas disebut sebagai sahabat, Vic! Seorang sahabat nggak akan pernah menyakiti hati sahabatnya sendiri!” desis Arsyad tajam. Victor berusaha mengenyahkan lengan Arsyad dari dadanya, namun Arsyad justru semakin kuat menekan d**a Victor.             “Lo nggak tau gimana bentuk persahabatan gue sama Shabrina! Lo nggak ada hak untuk nge-judge gue kayak gitu!”             Arsyad terkekeh merendahkan dan berdecak. Tiba-tiba saja, dengan satu gerakan cepat, Arsyad menarik kerah kemeja Victor dan menghajar laki-laki itu hingga membuat Victor tersungkur. Ravina, Amalina dan beberapa murid perempuan yang berada di dalam kelas menjerit pelan. Sementara beberapa murid laki-laki mulai berdiri dari kursi mereka, bersiaga apabila adu jotos itu berlanjut nantinya.             Victor menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dan memandang Arsyad yang tengah menyeringai ke arahnya. Sorot matanya masih tajam dan dingin seperti tadi.             “Gue, sih, kepengin banget ngabisin lo sekarang juga, tapi, gue mikirin perasaan Shabrina. Gue nggak mau ngeliat dia nangis karena gue udah bikin lo mati!”             Victor menatap Arsyad dengan bara kebencian yang meletup di kedua matanya.             “Dengar baik-baik, Vic... gue udah pernah bilang, kan, sama lo, kalau suatu saat nanti lo akan kehilangan Shabrina disaat lo mulai menyadari suatu hal? Gue rasa, saat ini, lo sudah mulai sadar apa hal itu. Dan... gue kasih pernyataan perang ke lo! Gue... gue nggak akan pernah biarin lo dekat lagi sama Shabrina seperti dulu! Gue akan pastiin kalau Shabrina akan menjauh dari lo dan akan menjadi milik gue!” ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD