Arsyad menghentikan motornya tepat di depan rumah Shabrina. Gadis itu masih diam di jok belakang motor Arsyad. Gadis itu masih memeluk pinggang Arsyad dan membenamkan wajah mulusnya di punggung laki-laki itu. Suara isakannya bahkan masih terdengar. Gadis itu masih terus menangis, semenjak dia dan Arsyad meninggalkan gerbang sekolah. Arsyad menghela napas panjang dan menggenggam tangan Shabrina yang memeluk pinggangnya. Laki-laki itu seakan memberikan kekuatan bagi tubuh sahabat kecilnya itu. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir keduanya. Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. “Elva...,” panggil Arsyad lembut. Laki-laki itu terdiam lagi ketika suara isak tangis Shabrina masih terdengar. Arsyad berusaha mengendalikan amarahnya yang m

