Ucapan Ajisaka berputar dalam kepala Zana. Bahwa Brama lebih dari apa yang bisa dilihatnya. “Darah papa mungkin tidak mengalir, Zana. Tapi tempaan dan ajaran Papa sudah mendarah daging pada Brama. Dia mungkin tidak mewarisi dari darah, tapi Brama diciptakan Papa untuk jadi senjatanya.” “Guru pertama Brama bukan ibunya, guru pertama Brama adalah Papa.” “Ajaran seorang Antasena, Brama yang mewarisinya, Zana. Bukan darahnya, tapi kekejamannya.” Zana juga mengingat apa yang Brama jawab padanya tadi. “Aku diajarkan untuk meminta maaf untuk semua hal yang salah, Zana.” Jawaban Brama menguatkan apa yang Ajisaka katakan padanya waktu itu. Zana mendengus pelan, ucapan itu benar adanya. Bahwa guru pertama Brama yang membuatnya jadi seperti sekarang, membangunnya menjadi apa yang Zana lihat sek

