9. —Pelajaran Dari Nonton

1076 Words
Ia tidak mau kalah di depan lelaki ini. Tangan Zana tidak diam. Ia mengangkat tangan kanan meraih pipi Brama. Mengelus pipi bersih tanpa jambang itu. Tatapan Zana merambati wajah lelaki di depannya dengan lebih teliti. Pipi yang bersih, bibir yang penuh terkatup rapat, hidungnya mancung, lalu alis tebal dan bulu mata yang membingkai matanya, lalu rambut hitam yang masih basah itu, dan berakhir di matanya. Mata hitam tajam itu menggelap menatap turun ke bibirnya. Senyum Zana makin menjadi saat kepalanya memutar apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Bibir Zana terbuka. Grek! Brama membelalakan matanya, terkaget dengan aksi tiba-tiba Zana. Tapi tidak menarik tangan. Ia hanya menahan gigitan Zana di jempolnya. Ia membiarkannya sampai Zana melepaskan gigitannya. Lalu menarik tangannya dan melepaskan Zana. Dengan otomatis tangan Zana juga melepaskan diri darinya. “Jangan masuk lagi ke kamarku!” geram Zana kemudian setelah melepaskan gigitannya. Meringis dan menatap ibu jarinya yang tercetak bekas gigi Zana, Brama kembali menatap Zana. “Kamu bisa bilang terima kasih, Zana.” Yang ditatap balas menatapnya tanpa takut. Benar-benar tidak ada ketakutan di sana. Benar-benar berbeda dengan apa yang Zana perlihatkan sore sampai malam tadi. Zanari di depannya benar-benar berbeda dengan apa yang diperlihatkan di depan semua orang. “Oke, makasih. Bye! Keluar dari kamarku!” Zana menunjuk ke pintu kamar dengan tatapan marah dan suara tertahan karena giginya yang berusaha menahannya untuk tidak berteriak. Berusaha agar ia tidak benar-benar meledakkan amarahnya. Brama menghembuskan napas, mengibaskan tangan kanannya. Menghilangkan rasa sakit di ibu jarinya, kemudian menggelengkan kepala menatap Zana tak habis pikir. Brama benar-benar tidak punya clue apapun tentang Zanari. Sekali lagi menghembuskan napas dan menatap Zana. Kakinya melangkah menipiskan jarak mereka. Dengan tubuh menjulangnya, Brama berdiri di hadapan Zana. Menunduk menatap tepat ke mata cokelat itu. “Saya tidak takut menyentuhmu karena Braja.” Zana mendongak, masih menatap Brama tanpa takut. Meski sudah terasa aura mengintimidasi dari sorot mata Brama. Zana tidak gentar. “Saya akan menyentuhmu saat kamu tidak dalam mood hancur seperti ini,” bisik Brama pelan. Suaranya dalam dan rendah. Emosinya yang tidak terpancing oleh gigitan Zana. “Kamu takut, Brama!” Zana berbisik. “Karena daripada kakak angkat Braja, kamu lebih seperti anjing peliharannya!” Brama mendesis, “Hati-hati, Nona, anjing ini bisa menggigitmu juga!” Tanpa Zana perkirakan sebelumnya, Brama mendorongnya ke tembok di sebelah kiri. Menarik kedua tangan Zana dan membawanya menjadi satu ke atas kepalanya, menahan tangan Zana di tembok. Kaki gadis itu yang menendang-nendang juga Brama tahan dengan kakinya. Membuat Zana tersudut dan tidak punya celah untuk melawan. Zana mengerjap kaget, terkesiap saat punggungnya membentur dinding yang dingin. Tangannya dicekal dengan satu tangan, kakinya ditahan tak bisa lagi menendang. Sebagai gantinya, ia menatap Brama dengan mata terbelalak padanya. “Mau apa lo?!” jerit Zana. Kedua tangan Zana dengan mudahnya bisa Brama tahan dengan satu tangan. Dengan tangan kiri mengukung Zana, Brama tersenyum padanya, mendekati wajah Zana. Memalingkan wajahnya, menjauhi wajah Brama yang mendekat. Tangannya terkunci di atas kepalanya. Ia tidak bisa melepaskan diri. Zana kalah tenaga dari lelaki tinggi besar dengan otot terbentuk di tempat yang tepat itu. Meski ia merasa belum kalah darinya. Kali ini, Brama bisa melihatnya. Sorot mata takut yang hanya sedetik berada dalam mata gadis di depannya ini. Bibirnya menyeringai. “Jangan mempertanyakan keberadaan saya, Zanari. Saya bisa melakukan apa saja. Jangan lupa dengan semua yang sudah saya lakukan kepadamu,” Brama kembali dengan suara rendah dan dinginnya. Berbisik tepat di telinga kiri Zana. Zana menarik napas dengan kasar. Ia masih berpaling dari lelaki yang sekarang menatapnya dengan marah itu. Masih memalingkan tatapannya. Tentu ia merasakan bagaimana Brama berbisik rendah di telinganya. Mengancamnya dengan terang-terangan seperti ini. Zana masih harus menguatkan diri. Tangan kiri Brama meraih dagu Zana, mencengkram rahangnya, memaksa menarik wajah Zana untuk menghadap pada wajahnya. Menekan pipi, bibir bulat dan pink Zana kini menghadap padanya dengan berani. Brama menatap mata cokelat membelalak milik Zana. Memberi tatapan tegas pada gadis itu. Memberi tahu dengan jelas dengan siapa gadis itu berhadapan. “Sekarang, mandilah dan segera tidur. Besok pagi kita pergi,” bisiknya sekali lagi. Zana tidak menjawab. Pipinya terasa sakit dalam cengkeraman tangan lebar lelaki itu. Namun meski bibirnya tidak bisa menjawab, tatapannya pada lelaki itu masih tajam. Tatapan penuh permusuhan. Tangan Brama terlepas, meninggalkan bekas merah di pergelangan tangan Zana juga di kedua pipinya. Lalu tanpa menunggu lagi, Brama berbalik dan meninggalkan Zana yang menurunkan tangannya yang mengepal. Pintu kamar Zana tertutup dan terkunci dari luar. Bahu Zana naik turun dengan emosi yang tertinggal di sana. Matanya melirik tajam pada pintu yang sudah terkunci. Air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Tapi secepat air mata itu meluncur, secepat itu juga punggung tangannya mengusap habis air mata di pipinya. Zana akan mengingat perasaan ini. Perasaan tidak berdaya yang ia punya. Perasaan yang akan ia bawa dengan kenangan buruk dan semua tuduhan yang datang padanya. Juga semua perbuatan yang sudah Brama lakukan padanya. Zana akan mengingatnya! -- Keluar dari kamar mandi, Zana sudah mengeringkan rambut basahnya. Memakai baju tidur lengan pendek dan celana panjang victoria secret. Kakinya sudah berbalut sandal bulu miliknya yang memang sudah ia sediakan sendiri di dalam kopernya. Matanya melirik nakas samping tempat tidur. Segelas air putih ada di sana. Matanya memicing, ia meraih gelas itu. Hangat. Airnya hangat. tangannya mengangkat gelas setinggi matanya, memerhatikan air di dalam gelas itu. Tanpa berpikir lagi, ia kembali ke kamar mandi. Menuangkan seluruh isi gelas ke sana. “Takut banget diisi yang aneh-aneh,” bisiknya penuh curiga. Akibat hiatus dua bulannya yang dihabiskan dengan menonton drama pendek itu, Zana jadi mencurigai air di gelas jika bukan ia sendiri yang menuangkannya. “Ada untungnya juga nonton drama ya,” akunya bangga. Tapi ia benar haus juga. Jadi ia memutar kunci pintu, membukanya pelan, lebih dulu melongokan kepalanya keluar pintu. Sepi. Matanya memindai living room, tapi Brama tidak terlihat dimanapun. Zana menghela napas. Ia berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Ada air dingin. Mengambil satu botol, ia lalu mendengar pintu ruang lainnya terbuka. Brama yang berdiri di ambang pintu bertatapan langsung dengannya yang sedang memegang sebotol air minum. “Saya membawakan air madu di kamar,” katanya santai. Seakan apa yang terjadi tadi tidak memengaruhinya sedikitpun. “Aku gak minum air aneh yang tiba-tiba ada kamarku,” jawab Zana sinis. Langkahnya kembali membawanya menuju kamar. Brama mendengus, “Takut banget saya apa-apain, ya?” Zana menoleh dengan seringaian di bibirnya, “Add to your file information about me, Tuan yang Tahu Segalanya Tentangku, aku gak takut sama anjing.” --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD