‘Aku jatuh cita, Zana.’ Suara Rima yang menggema di telingnya kembali membuat Zana menghela napas. Suara pelan yang seperti sebuah ledakan kembang api di tengah malam buta. Matanya memandang keluar jendela mobil yang memperlihatkan keramaian kota yang mulai terurai. “Kenapa sih, Kak?” gumamnya pelan. “Kenapa harus jatuh cinta?” “Apa?” tanya Regan dari kursi penumpang di samping Tio yang sedang mengemudi. Melirik managernya itu, Zana menggeleng. Ini masalah yang tidak akan dimengerti siapapun. Termasuk dirinya. “Rabu ini ke Bandung lagi gak, Za?” Senyum Zana mengembang. Raut khawatir yang tadi bersarang di wajahnya menghilang saat menjawab dengan ceria, “Iya dong.” “Mau apa sih di Bandung, Kak Zana?” tanya Tio penasaran. “Tiap minggu gak pernah absen pergi.” Benar. Setiap hari rabu,

