“—na?” Zana menguap. Matanya perlahan terbuka, mengedip, dan menatap wajah Brama di depannya. Zana berkedip lagi. “Ngapain kamu masuk kamar aku sembarangan?” “Harusnya saya yang tanya begitu.” “Hm?” Zana mengucek matanya. Brama mundur dan Zana bisa melihat tembok kamar yang berwarna putih. Keningnya berkerut. Menoleh ke kiri dan kanan dalam keadaan masih setengah sadar. Lalu segera melotot setelah sadar dimana sekarang dirinya berada. “Kenapa aku di sini?” tanyanya sambil cepat-cepat beringsut bangun dan duduk di atas kasur. Di atas kasur Brama! Di kamar Brama! Benar-benar, ya, Zana!! Tangan Brama menyentil pelan kening Zana. “Harusnya saya yang bertanya, Zanari.” Zana mengingat lagi apa yang sedang ia lakukan di sana. Berkedip-kedip pada Brama, cengiran Zana terbit kemudian. “Apa

