58. —Mie

1454 Words

“Maacih,” Zana mengeluarkan suara genit dengan satu mata berkedip. Brama tersenyum padanya sebelum duduk di kursinya sendiri. “Kak, ih!” Dira merajuk. Ajisaka terkekeh. Ia menatap Dira dengan tatapan meremehkan. Lidahnya memelet jahil. “Apa liat-liat?!” ketus Dira yang menghentakkan kaki dan berjalan ke kursinya sendiri. Setelah Brama tidak mengacuhkannya begitu saja. Lirikan Ajisaka pada Zana yang masih tersenyum pada Brama membuat suami Zana itu menoleh pada kakak angkatnya. Lalu ketukan kayu di lantai yang sudah dikenal keempat orang yang berada di ruang makan itu memasuki ruangan, bersamaan dengan sosoknya yang sudah dalam setelan kemeja dan celana panjang. Antasena masuk dengan wajah senyum yang hangat pada semua wajah. Tapi sama sekali tidak ramah pada Ajisaka. Zana menahan d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD