“Potong puding aja lama banget, Za,” keluh Lila tapi ikut membantu menurunkan nampan yang Zana bawa ke atas meja di halaman belakang rumah. Ada kolam ikan yang punya air terjun mini di sana. Beberapa koi dengan warna putih dan oranye berenang tenang di dalamnya. “Karena spesial yang potong pudingnya Zanari Mirah,” jawab Zana sekenanya. Ia menoleh pada Lila dan memeletkan lidah dengan tenginya. Lila merotasi bola matanya jengah, “Emang masih bisa naik panggung, Za?” Bibir Zana terkatup mendengar pertanyaan Lila, picingan matanya tertuju pada Brama yang duduk di sofa single sebelah Zainal. Tangan Zana mengulurkan sepotong puding di dalam pisin dengan garpu kue pada suaminya itu. “Bisa, La,” jawab Brama kemudian. Suara tenang dan pelan itu membuat semua mata tertuju padanya. Zainal dan A

