“Kamu gak panik kayak waktu itu lagi?” Brama menggenggam tangan kanan Zana di tangan kirinya dan membawa sekantong mainan building brick di tangan kanan. Hasil pilih-pilih Zana di toko mainan yang mereka datangi. Secepat kilat Zana mengenyahkan pikiran ngaco dalam kepalanya. Ia menggeleng, “Waktu itu aku cuma kaget. Pertama kali keluar setelah tiba-tiba kena skandal. Marah dan kecewa karena dibuat malu di beberapa tempat,” Zana menoleh. Brama mengangguk mendengarkan. “Dan tiba-tiba didatangi cowok yang manggil ‘sayang’. Kayak, apaan sih ni orang?” bibirnya mengeriting. Senyum kecil Brama menarik sudut bibirnya, “Jadi reaksi orang-orang yang bikin kamu panik?” “Heem,” Zana mengangguk lagi, “Padahal aku cuma mau cari tenang. Aku pikir ke salon seharian asik kali ya, gak perlu diburu-bur

