Tanpa ampun, Brama membanting tubuh mungil Zana ke atas kasur. Kamar berantakan Zana dengan kedua koper yang masih terbuka dengan isi berhaburan itu sama sekali tidak dilirik Brama. “Aw!” Brama menghela napas. “Lo sengaja mau patahin tulang gue?!” jerit Zana lagi. Ia berusaha bangun dari atas kasur. Namun gerakan Brama selanjutnya membuat Zana lebih merapatkan dirinya ke kasur. Brama naik kasurnya, meraih kedua tangan Zana, kembali menghempaskan Zana ke atas kasur, menguncinya dengan tangan kiri di atas kepala gadis itu. Rambut cokelat gelap Zana yang diblow dry dengan hati-hati tadi sekarang berantakan diantara kedua tangan Zana yang dikunci Brama. Kedua lutut Brama menjepit kedua paha Zana. Menahannya berontak. Brama melakukannya dengan ringan. Mengunci lawan adalah keahliannya. B

