“Tidak perlu berpura-pura di rumah ini. Yang bisa aku janjikan adalah kamu akan aman selama berada di sini,” lanjutnya lagi. Tangannya kembali menyendok nasi soto dari mangkuknya. Mengunyahnya dengan santai sebelum kembali melirik Zana. “Aku terbiasa membiarkan anak-anakku melakukan hal yang bisa mereka pertanggung jawabkan sendiri.” Ujung bibir Zana berkedut, ia menghela napas menahan diri, “Anda sama sekali tidak merasa bersalah saat mengertahui Braja membunuh Kak Rima?” Zana menjaga tone suaranya. Ia mengatakannya dengan sangat santai. “Lalu membawaku kemari karena dendam Braja?” Kepala Brama menoleh, tangannya meraih pergelangan tangan Zana. Mencengkramnya dengan isyarat yang bisa Zana mengerti. Tapi gadis itu mengabaikannya. “Braja sudah terlalu tua untuk aku larang. Lagipula, d

