“Zanari dimana?” tanya Brama sambil berjalan menuju mercy g dengan ponsel disangga di telinga kiri. Langkahnya tegas tapi tidak tergesa. ‘Komplek permata,’ jawab di ujung sana. “Siapkan apa yang sudah saya minta,” tegas Brama. ‘Baik, Pak,’ jawabnya lagi sebelum sambungan telepon terputus. Brama menarik pintu mobilnya terbuka, ia naik, duduk, lalu menyimpan paper bag di tangannya ke kursi penumpang. Ia menarik napas, menatap ponselnya, melihat titik kedap-kedip dalam ponselnya. Lokasi Zana. Tepat di titik yang Brama tandai sebagai rumah dari om dan tantenya gadis itu. Tangan Brama menarik pintu tertutup, memakai sabuk pengaman, lalu melajukan mobil keluar dari parkiran. -- “Tanteyu?” Zana memanggil lagi sambil melangkah menuju tangga. Di ujung tangga, Ayu terlihat berdiri menyambutn

