“Aku tidak salah, Papa. Dia yang tiba-tiba datang dan mengklaim Brama jadi suaminya. Aku hanya mempertahankan apa yang jadi milikku.” “Brama bukan milikmu.” “Papa?” mata Dira berkaca-kaca dengan bibir terlipat mendengar Papanya menjawab dengan dingin padanya. Mata Antasena menatap Dira dengan tajam tanpa ampun. “Kamu tau apa yang harus kamu lakukan!” Kaki kanan Dira menghentak. Tangannya yang tadi menunjuk Zana kini bersedekap, dengan wajah berpaling sebal. Merajuk seperti yang selalu ia lakukan. “Atau Papa akan mencabut hak istimewa waktu Brama untuk kamu,” ucap Antasena. “Maaf, Papa!” Dira berbalik dengan wajah cemas dan kepala menggeleng tak setuju. Sehingga tanpa sadar sudah mengucapkan maaf cepat-cepat. “Jangan mengganggu Brama di malam hari!” “Baik!” Zana mendengus. “Ucapk

