Sekali lagi. Zana merasa kesal sekali sudah sok menghilang di penghujung acara. Sebelum membereskan make up, sanggulan rambut, dan juga melepaskan gaunnya ini. Sekarang sudah lebih dari tengah malam. Ia juga tidak mungkin memanggil asisten untuk datang kemari.
Dengan keadaan seperti ini. Gosip dan skandal seperti apa lagi yang bisa menerpanya? Skandal apa lagi yang bisa menyentuhnya?
Baiklah. Apa boleh buat. Ia harus meminta tolong.
Tangannya sudah berada di kunci, tapi ia menariknya lagi.
Gengsi amat.
Kakinya yang tanpa sandal bolak-balik di depan pintu. Tapi ia tidak bisa tidur dengan gaun ini. Tapi gengsi banget kalau harus meminta tolong pada Brama. Apa katanya nanti? Zana tidak mau. Tapi, ah, bodo!
Ia menghempaskan diri di atas kasur dengan seprei putih yang terasa dingin. Ah, tapi ia tidak bisa berbaring dengan benar. Oh, tidak, ia juga sulit untuk kembali bangun dengan bustier ketat yang membungkus d**a dan perutnya. Ini sungguh tidak lucu.
Beneran deh, ya! Tapi lagi, ia tidak bisa berteriak meminta tolong begitu saja.
Berguling! Berguling ke pinggir, Zana. Lalu langsung berdiri.
Otaknya yang ia banggakan dengan julukan setengah dokter itu akhirnya berfungsi.
Menuruti apa kata otaknya, Zana berguling ke ujung kasur. Niatnya adalah untuk langsung berdiri setelah berguling. Namun kenyataan dan ekspektasi selalu bertolak belakang. Ia berguling, tangannya mencekam pinggiran kasur, dan—
“Aaah!”
Bruk!
“Aw,” Zana mengaduh karena punggungnya yang menabrak lantai lebih dulu. Membuat kancing-kancing yang menjadi masalahnya sekarang tambah membuat masalah.
Tok! Tok! Tok!
“Ada apa, Zana?” suara Brama dari luar terdengar datar.
Mengerjap menoleh ke pintu, di antara kaget, sakit di punggungnya, dan gengsi di ujung kepalanya. Zana menggeleng.
Glek!
Zana menelan liurnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba jadi kering.
Tok! Tok! Tok!
Sekali lagi pintu kamarnya di ketuk.
“Gak apa-apa, aku cuma jatuh!” jawabnya mencoba biasa saja.
Ia mengembuskan napas pelan dan membiarkan dirinya terlentang di lantai di ujung kasur saat tidak mendengar balasan suara Brama. Merasakan cenut-cenut di punggungnya yang tertabrak berderet kancing yang membuatnya tidak bisa mengganti baju.
Diam seperti ini kembali membuatnya merasa tidak berdaya.
Apa ini? Bahkan malam ini lawannya hanya sederetan kancing di punggungnya. Tapi ia sudah merasa tidak berdaya. Cemen banget!
Lila habis menertawakannya kalau tau sih.
Ceklek!
Zana terperanjat sendiri. Bukankah tadi ia sudah mengunci pintu? Matanya memerhatikan pintu putih yang mulai berayun itu.
Pintunya terbuka!
Menampilkan lelaki yang tadi ia lihat dalam setelan suitnya. Tailored suit hitam yang cocok sekali dengan tubuh tingginya. Lengkap dengan bow tie juga pantofel yang serasi.
Tapi sekarang, dalam sudut pandang berbaring di lantai, melihat lelaki yang punya tinggi seratus delapan puluh lima itu dalam balutan kaos polos berwarna hitam dan celana panjang hangat. Lelaki itu baru selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang basah dan wangi sabun yang menguar saat pintu terbuka.
Zana berani bertaruh dengan gaun malamnya ini, bahwa ia melihat ujung bibir Brama yang naik sebelum bertanya dengan nada khawatir yang dipaksakan padanya.
“Kamu jatuh? Ada yang sakit?” Brama berjongkok.
Sekali lagi, Zana bisa melihat bagaimana Brama menahan senyumnya.
“Enggak, aku cuma sedang berbaring menatap pemandangan langit-langit kamar,” Zana menjawab dengan nada tak acuh.
Brama terkekeh pelan dengan jawaban Zana. Tangan Brama terulur, tangan kanan menarik tangan Zana, dan tangan kirinya meraih punggung gadis itu.
Zana meluruksan kaki dan, hup, ia sudah berdiri lagi. Tangan kiri Brama menahan punggungnya, melingkari pinggangnya, dan tangan kanan masih menggenggam pergelangan tangan Zana.
“Kamu bisa minta tolong,” ucap Brama masih menahan Zana, menatap gadis itu tepat di matanya.
--
Suara Brama tidak mengejeknya. Suara dalam dan rendah itu menyapa telinga Zana dengan halus. Suara yang membuat Zana membalas menatap lelaki yang masih menahannya dalam posisi hampir berpelukan itu. Menatap mata hitam tajam milik Brama, Zana bisa melihat bagaimana tatapan Brama yang masih tertuju padanya juga.
Mata hitam yang membuat Zana memicing.
Dengan kasar, Zana menyentakkan tangan Brama dan mundur selangkah, menjauhi aroma segar dari sabun yang dipakai Brama, juga dari topangan tangan Brama di punggungnya. Ia berdiri tegak.
“Aku bisa bangun sendiri!” ketusnya pelan.
Brama mengangkat bahu tak acuh. Ia memerhatikan wajah Zana, make up yang sudah terhapus bersih. Lalu rambut panjang Zana yang diikat asal.
“Kamu punya kunci cadangan?” tanya Zana akhirnya.
“Tentu saja.”
“Jadi kamu bisa masuk ke kamarku kapan saja?” alis Zana semakin naik.
Memutar kunci di tangannya, “Supaya saya bisa bantuin kamu kalau jatuh seperti tadi,” jawab Brama dengan santai.
Zana mendengkus, “Supaya kamu bisa bebas mengaturku juga? Masuk ke kamarku dan melakukan apapun kepadaku?!”
Tatapan Brama bertambah tajam, “Kamu mau saya melakukan apa saat mendengarmu berteriak? Saya harus mengabaikanmu begitu saja?”
Tidak bisa menggeleng. Keningnya yang berkerut memudar kemudian, Zana akhirnya mengangguk tegas. “Hm, harusnya kamu abaikan aja!”
Terdengar embusan napas dari lelaki itu.
“Kamu yang bilang saya harus menjagamu selama menjadi suamimu.”
Zana menggigit bibir bawahnya pelan. Tidak bisa menjawab. Karena memang ia yang memintanya. Syaratnya kini terasa jadi senjata makan tuan. Sial banget!
“Tidurlah kalau begitu,” ucap Brama akhirnya lalu berbalik ke arah pintu.
Zana mengerjap. Hanya itu? Di tengah kagetnya, tangan Zana bertindak sesukanya, bertindak lebih dulu dari titah dari kepalanya. Meraih lengan kaos polos hitam Brama, mencubit dengan jempol dan telunjuknya, menarik pelan.
Lelaki itu berhenti melangkah dan kembali berbaik.
“Kancing,” ucap Zana kemudian setelah menarik tangannya yang mencubit ujung lengan kaos Brama. Ia berkedip dengan tatapan tak mengerti Brama.
“Kancing?” ulang Brama.
Kepala Zana mengangguk-angguk, “Gaun aku kancingnya di belakang,” jelasnya.
Ujung bibir Brama sedikit tertarik, “Ucapkan,” katanya kemudian.
“Apa?” Mata Zana kembali mengerjap.
“Ucapkan tolong dengan benar,” ucap Brama. Ia menikmati perubahan wajah Zana yang menahan kesal.
Zana merapatkan bibirnya.
Kepala Brama mengangguk, “Kalau kamu bilang ke sodara-sodara kamu setelah menghilang tanpa bilang dari acara, melihat kekacauan ini. Saya yang sudah mandi sedangkan kamu masih bergaun yang sama, apa yang akan mereka pikirkan?”
Ucapan itu jelas. Zana mengerti maksudnya. Tapi ia enggan melakukannya. Tadi saja ia rela hanya berbaring begitu saja di kasur. Sekarang apa katanya? Bilang minta tolong dengan jelas?
Matanya menutup kesal.
“Kamu mau semua orang tau dan jadi skandal lebih besar?”
Zana mngatupkan bibirnya.
“Baiklah,” Brama berbalik.
“Tolong.”
Bibir Brama menyeringai, “Apa?”
Mata Zana terbuka, menatap Brama yang sudah kembali berdiri di depannya. Saling menatap. “Tolong aku melepaskan kancing gaunku,” katanya lagi, dengan lebih jelas.
--