Dengan berani, Zana berdiri menghadap lautan. Lautan yang sudah menenggelamkan kedua cintanya. Kedua harapannya. Namun juga berjasa besar dengan kokoh membangun dirinya yang ada sekarang. Menjadikan dirinya yang hari ini berdiri.
Perlahan, Zana membuka kembali matanya setelah mencari kekuatan.
“Mah, Pah, besok aku menikah,” bisiknya pada gelap.
Brama menoleh pada Zana yang berisik pelan, dengan suara lirih yang terasa aneh untuknya. Terasa seperti bukan Zana yang selama dua bulan ini dikenalnya. Karena biasanya gadis itu hanya akan bicara dengan nada sinis dan kesal padanya. Kadang juga dengan teriakan penuh amarah.
Kali ini, Zana terlihat berbeda. Terlihat rapuh.
“Lucu sekali hidup yang membawa aku sampai ke tahap ini,” lanjut Zana dengan ujung bibir tertarik kecil, tatapan nanar, dan wajah yang sama sekali tidak sejalan dengan ucapan lucunya.
“Tapi aku gak akan lupa apa tujuan hidup aku. Meski mungkin sekarang aku sedang berjalan menuju kematianku sendiri.”
Brama mengikuti arah pandang gadis itu. Menatap hamparan laut yang gelap.
“Orang yang akan menjadi suamiku ada di sini sekarang. Tapi gak usah mau kenalan. Pernikahan ini bohongan, kok,” Zana terkekeh pelan. “Lucu, kan?”
Zana menghela napas sekali lagi. Berat sekali rasanya. Napasnya tidak bisa memenuhi paru-parunya dengan baik. Rasanya menyesakkan.
Tangan Brama terangkat, menyatukan keduanya telapak tangan yang terbuka, lalu menunduk sendiri.
Zana meliriknya dengan kedua alis bertaut.
“Ngapain?” tanya gadis itu setelah Brama mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah.
Wajah tanpa ekspresi Brama menoleh dan menatap Zana, “Berdoa.”
Bibir atas Zana mengeriting, “Wah, mafia juga bisa berdoa?” sinisnya lalu mencebik sebal.
Barulah Zana melihat ekspresi Brama yang berubah, wajahnya mengeras dengan satu alis terangkat setelah mendengar ucapan Zana.
“Ck, udahlah,” Zana mengibaskan tangan kanan di depan wajah lalu berjalan melewati Brama.
Padahal ia sudah menyelinap keluar hotel dengan hati-hati. Mengendap-endap seperti maling dari kamarnya sendiri. Menerobos pertahanan para sepupu yang heboh di kamarnya.
Tapi kembali ditemukan oleh orang yang paling tidak ingin ia temui.
Hidupnya memang tidak bisa tenang sedikit saja, ya?
Niatnya menyendiri malam ini gagal sudah.
--
“Gue di kamar.”
Sergah Zana begitu mereka masuk ke dalam suite room St Regis. Hotel yang dipakai untuk acara pernikahan mereka. Sudah hampir tengah malam saat Zana ditarik Brama untuk naik ke sana.
Sret!
“Apaan sih?” berontak Zana saat tangannya dicekal begitu ia akan berbalik ke kamar satu-satunya di sana.
“Kamu masih pakai gue sama saya?”
Bibir Zana mengatup, menahan kesal. Ia menatap mata hitam Brama yang menatapnya tanpa ekspresi. Seperti biasa.
“Aku ke kamar,” pamitnya sekali lagi. Kali ini mengganti kata ganti dirinya dengan aku.
Iyuuh!
“Hm,” jawab Brama kemudian melepaskan cekalan tangannya.
“Jangan masuk! Jangan berani-beraninya masuk!” Zana memperingatkan dengan telunjuknya yang terangkat.
Lalu tanpa menunggu jawaban Brama, ia berbalik masuk ke dalam kamar. Menguncinya.
--
Membuka kopernya, mengeluarkan pouch berisi rangkaian pembersih wajah, kapas, dan sabun-sabun miliknya, Zana duduk di depan meja rias. Menyeka wajah yang bermake up hasil tangan make up artist Bannu Sorumba yang membuatnya cantik sejak sore saat akad, kemudian touch up tambahan sampai malam setelah resepsi.
Ya, acara pernikahannya hanya diselenggarakan sore sampai malam. Ijab qabul yang dilakukan Brama pada pukul empat, dan dilanjutkan acara resepsi dari pukul tujuh sampai sebelas malam.
Acara yang hanya disiapkan hanya dalam dua bulan. Namun permintaan yang Zana minta benar-benar membuat repot Brama. Ia ingat bagaimana malam itu saat pertemuan pertama yang dilakukan dengan Brama sebelum menandatangani kontrak.
Malam yang sama setelah ia memberitahu semua orang bahwa ia sudah menerima lamaran.
--
“Tex Saverio bikin gaun, Zana, bukan kebaya.”
“Kamu pikir aku gak tau?” tanya Zana setelah sebelumnya mereka menyetujui perubahan panggilan dari gue-elo jadi aku-kamu.
Mata tajam Brama menatapnya, tapi dibalas sikap tak acuh Zana yang menyebalkan. Brama menarik napas, “Baiklah.”
Ujung bibir Zana tertarik puas.
“Ada lagi?”
“Ralph & Russo Eden Heel Pump warna kuning,” ujar Zana lagi.
Wajah Brama kembali mengeras, “Mereka sudah bangkrut.”
Zana kembali menoleh pada Brama dan berkedip. Wajah polos yang ia tampilkan benar-benar menggambarkan ‘Terus? Gue peduli?’.
“Saya akan mencarinya,” jawab Brama lagi.
“Siaran langsung akad,” ucap Zana sebelum Brama kembali bertanya.
“Bisa diatur,” Brama mengangguk.
Alis Zana menukik, “Kembali ke panggung sebelum mati,” katanya lagi.
“Kamu yakin sekali akan mati.”
Zana mengembuskan napasnya, “Seperti Rima Nanda,” jawabnya kemudian.
Brama mengatupkan mulut. Tidak berubah ekspresi dalam wajahnya.
Senyum Zana berkembang setelahnya, “Kamu tahu, aku pernah liat video youtube yang membahas tentang permintaan-permintaan tahanan sebelum mereka dieksekusi mati. Aku terinspirasi.”
“Jadi, kamu menganggap dirimu tahanan?”
“Apa lagi semua ini kalau bukan karena aku menjadi tahanan Braja Krisna?!” tanyanya tajam. Wajah penuh senyuman yang tadi menghiasi wajahnya sekarang menghilang seutuhnya. Menyisakan wajah tanpa senyum, mata yang menyorot marah, dan nada yang sama sekali tidak seceria tadi.
Brama tidak menjawab. Tapi tatapan tajamnya tertuju pada satu titik. Zanari Mirah.
“Kamu curang. Kamu tau?”
“Kamu yang menantang.” Brama masih menatap, wajah dinginnya benar-benar tanpa ekspresi, “Itu efektif bukan?”
Zana berdecak, “Hm, pemicu yang cukup membuatku mengerti permainan kamu. Korupsi di Hada Farma? Kecelakaan Kak Lintang? Klinik Lila yang kemalingan? Apa lagi setelah itu?” ia mendengus.
“Kamu pantang menyerah juga ternyata. Aku jadi tersentuh dengan semua upayamu untuk membuatku tumbang.”
Brama terpana sekarang.
“Aku yakin juga kamu sudah tahu semua hal tentangku. Masih ada yang mau kamu cari tau? Mumpung aku ada di sini. Kamu gak perlu suruh orang lagi untuk hack akun dan hape aku,” Zana semakin berani, “Aku akan memberi tahu semuanya yang belum kamu dapatkan.”
Kepala Brama mengangguk-angguk, “Saya sudah tahu semua tentangmu.”
Zana mencebik, “Siyi sidih tii semii tintingmi,” ledeknya.
Tawa Brama terlepas. Ia menatap Zana lagi. Kali ini tidak segarang tadi. “Jadi, apa tambahan permintaan sebelum eksekusi itu?”
Kali ini, Zana menoleh pada Brama. Tatapannya serius. Ia tidak lagi bermain-main. “Lepaskan Hada dan keluargaku. Bukankah aku yang diinginkan Braja?”
Menatap mata Zana yang serius dengan ucapannya, Brama mengangguk. Sepertinya kesepakatan kali ini tidak harus menumpahkan darah.
“Hanya itu?”
Ujung bibir Zana terangkat, “Enteng bener mulut anda, ya? Hanya itu cenah. Itu syarat utama! Yang tadi udah aku sebutkan juga harus dikabulkan.”
Brama mendengkus.
“Oh, ini juga penting, kamu harus jadi suami yang melindungi aku sampai waktu eksekusiku datang. Aku mau bahagia sebelum mati.”
Brama memerhatikan Zana yang masih mengoceh sendiri.
“Gak ada KDRT! Aku gak mau kayak Kak Rima. Aku gak mau nanti jadi bahan orang bikin video tentang artis-artis yang meninggal karena KDRT,” Zana mendelik, “Aku juga gak suka sakit. Aku takut jarum. Aku gak mau luka sampai aku harus kena jarum! Aku gak mau disuntik, atau diinfus. Pengecualian kalau Lila yang infus vitamin di kliniknya.”
Alis Brama bertaut, “Bukannya kamu setengah dokter? Kenapa takut disuntik?”
Pertanyaan Brama membuat Zana terdiam. Yah, memang bukan rahasia kalau ia adalah anak FK yang membelot jadi penyanyi.
“Aku setengah dokter,” Zana kembali menoleh dan mendelik pada Braja dengan tidak percaya, “dokter itu menyuntik, bukan disuntik, ya!”
Brama kembali terkekeh.
“Aku mau tetap hidup sehat sebelum aku mati.”
Lagi, Brama mengangguk.
Zana meliriknya dan tersenyum kecil, ia menarik napas panjang setelahnya. Ia benar-benar mau bahagia sebelum mati. Zana terpekik, “Oh, ini juga! Pernikahan kita pake adat sunda! Aku mau pake siger.”
“Karena Mama kamu orang sunda?”
Sekali lagi, Zana menyadari kalau ucapan Brama benar. Lelaki itu tahu semuanya. Zana mengangguk membenarkan. Ia berdeham lagi untuk mengembalikan diri dari keterkejutannya.
“Ada adat yang saling tarik bakakak ayam, kan?”
Brama mengangguk. Ia tahu itu.
“Aku mau dapet potongan yang besar!”
Brama mengeratkan gigi di balik mulutnya yang terkatup kesal, “Bagaimana saya bisa membuat kamu yang dapat potongan besar, Zana?”
“Pikir sendiri dong!” Zana mencebik.
--
Zana mengakui kebodohannya yang mau saja menyerahkan diri pada orang yang sudah jelas membuatnya sehancur ini. Karirnya, uang hasil kerjanya yang habis sebagian untuk pembayaran penalti karena skandalnya, konsernya yang harus batal, lalu juga menjauhkan diri dari seluruh keluarga.
Tapi apalah daya, alasannya pada Brama memang benar. Ia tidak mau Braja ataupun Brama ataupun siapapun di keluarga Kusumahardja itu menyentuh keluarganya. Orang-orang yang ia cintai.
Lagi.
Tangannya berhenti mengusap wajah dengan kapas pembersih saat ponselnya berdenting. Zana melirik balon notifikasi pesan dari Lila.
[Lilara : Zana, lo dimana?]
[Lilara : Udah di kamar?]
[Lilara : Yaudah, selamat malam penganten baru (9,9)> ]
Tawa Zana sumbang membacanya. Ia berakhir mengabaikan pesan itu dan beralih pada rambutnya. Melepaskan aksesoris rambut, melepas seluruh pin di sanggulannya, dan rambut panjangnya kembali tergerai. Melepas Ralph & Russo yang berwarna kuning seperti permintaannya, Zana mengambil handuk dari koper.
Lalu ia mematung.
“Mampus, Zana! Kancingnya di belakang!
--