“Papi,” Ayu menoleh pada Zainal.
“Zana masih hiatus, Papi, konsernya juga belum kelaksana,” Lintang menoleh ke arah yang sama dengan Maminya.
Keduanya sama-sama membela Zana yang berdiri mematung dengan kedua tangan saling bertautan.
“Ini udah lima tahun dari yang Zana janjikan, Mih,” jawab Zainal. “Meskipun iya, Papi juga nunggu konser Zana dulu, sih.”
Zana mengerjap. Bukan hanya karena janjinya pada Zainal. Bahwa ia akan bersedia menjadi penerus Papanya untuk mengelola Hada Jamu. Tapi dengan cara Ayu dan Lintang yang membelanya terang-terangan seperti ini.
Senyumnya mengembang lebar.
“Papi dengerin dulu Zana mau bilang apa,” Ayu menggeleng.
Lila menghampiri Zana, sudah lupa ia dengan kakaknya yang harusnya dapat spotlight di sini. “Lo masih mau nyanyi, kan, Za?” tanyanya. Khawatir juga karena sudah lebih dari dua bulan Zana tidak mendapatkan job apapun.
Ayu kemudian menoleh kembali pada Zana. “Tanteyu gak akan maksa kamu buat cepet-cepet kembali. Kita masih punya banyak waktu buat itu,” katanya menenangkan.
Ah, ini yang Zana syukuri bahkan setelah kedua orang tuanya tiada. Ia masih punya keluarga yang utuh yang ingin ia lindungi.
Zana terkekeh pelan, “Maaf, Om Zai, aku belum bisa nepatin janji aku yang itu.”
Senyum Zainal dengan anggukannya menjawab Zana.
“Jadi ini tentang apa sih, Za?” tanya Lila. Seperti biasa ia tidak sabaran.
“Hm,” Zana berdeham, matanya menatap satu per satu wajah di depannya, “Aku dilamar.”
Hening.
Diam.
Lalu suara Lila membuat semua orang sadar dari keterkejutannya.
“Zanaaa! Lo punya pacar?”
Semua orang menunggu jawabannya, termasuk Naba yang baru saja membuka pintu dan berdiri di ambang pintu dengan tatapan kaget luar biasa.
--
Breaking News! Zanari Mirah dan Bramasta Mahesa Kusumahardja Mengumumkan Pertunangan.
--
‘Pokoknya sungkem seminggu jangan lupa! Mama udah manyun-manyun sama suami Mama biar surprise ulang tahun sukses, kok malah digagalin sama anaknya!’
Zana memang sudah bersekongkol dengan mamanya. Hari ini kedua orang tuanya itu pulang setelah dua hari di Surabaya untuk menghadiri acara dari rekan kerja Papa. Hari ini juga adalah hari ulang tahun papa. rencananya sederhana, Mama akan manyun pada Papa sampai di rumah.
Tapi memang salahnya sendiri karena menerima telepon dari Papa tepat dengan saat Mbak kasir di toko kue menyerahkan pesanan Zana, rencana sederhana itu gagal seketika.
Manyunnya Mama kini beralih pada Zana yang membuat rencana mereka gagal total. Padahal Papa benar-benar lupa dengan hari ulang tahunnya. Papa bahkan sudah merayu Mama dengan donat gula favorit Mama. Tapi tawanya yang berderai cerah membuat Zana sedikit terobati.
Papa juga bilang kalau beliau akan merayu Mama agar tidak manyun pada Zana setelah landing nanti.
Jadi Zana bilang kalau ia berjanji akan sungkem pada mama setiap hari selama seminggu untuk menebus keteledorannya. Mama masih sinis padanya meskipun masih menjawab ungkapan sayangnya.
Yah, mereka memang tidak bisa saling marah. Jika memang marah, selalu ada saja satu hal yang membuat ketiganya kembali akur. Zana sebagai anak tunggal selalu mendapat hak istimewa untuk tidak dapat marah dari siapapun. Jadi, sudah bisa dipastikan saat ia menjemput keduanya senyum Mama sudah tercetak di sana dan akan memeluknya sampai tiba di rumah.
Begitulah.
Mobilnya berbelok ke Komplek perumahan elit di pusat kota, tempat rumah keluarganya berada. Berhenti di depan rumah bergaya american clasic dengan nuansa putih itu, Zana keluar dan membawa kue cokelatnya ikut serta. Tas celine yang tadi ia simpan kini dibawanya lagi, tergantung di pundaknya.
Masuk ke dalam pagar dan lanjut berjalan ke pintu depan. Ia mendorong pintu tinggi berwarna putih itu dan hiasan yang sudah menggantung di dinding menyambutnya dengan meriah.
Berjalan ke arah dapur, melewati ruang tamu besar, lalu ruang keluarga. Zana menyempatkan diri melirik foto besar mereka bertiga. Kalau kata Tim di The Boss Baby, segitiga adalah bentuk paling kuat di semesta. Begitulah mereka bertiga, pikirnya. Senyumnya mekah.
Kakinya kembali melangkah, lewat ke kolam renang di samping ruang keluarga, lalu sampai ke dapur. Dapur luas yang masih mempertahankan warna tema rumah ini. yaitu putih. Mama bilang, supaya gak sulit nyari perabotan dan perintilan yang sewarna.
Setidak mau ribet itu mamanya. Dan Zana suka.
Zana menemukan Bi Cici di sana, “Kuenya nanti keluar kalau Papa udah di dalam rumah, ya, Bi,” katanya sambil menyimpan kuenya di atas island table.
Bi Cici menganguk, meraih paper bag, “Lilinnya kita nyalain dari dalem non?” tanyanya.
Zana mengangguk. Ia mengambil lilin dengan angka empat dan sembilan. Umur Papanya sekarang.
“Udah tua nih, Papa, ya?” candanya.
Bi Cici mengulum senyum, “Tua-tua juga nempel terus sama Ibu ya, Non?”
Kepala Zana mengangguk sangat setuju. “Lengket banget gak ngerti aku,” jawabnya dengan kekehan geli dan keningnya yang berkerut.
Tangan Bi Cici menerima lilin yang Zana ulurkan, menyimpannya di dekat kulkas.
“Aku mau berangkat lagi ya, Bi, mumpung libur, aku mau jemput Mama sama Papa di Bandara,” pamitnya.
Anggukan Bi Cici menjawab Zana.
Meraih kembali kunci mobilnya, Zana mengeluarkan ponsel yang berdering. Nama Lila berada di layar, Zana tersenyum. Lilara sepupu rasa kembarannya. Jarinya menggeser ikon terima, menempelkan ponsel itu ke telinga kirinya.
“Gue gak bisa nemenin jajan hari ini, La,” ucap Zana tanpa sapaan lebih dulu.
Kebiasaan Lila adalah satu: menghubunginya tak kenal waktu. Hanya untuk ajak Zana jajan jasuke. Kali ini Zana menolaknya bahkan sebelum Lila mengutarakan niatnya.
Tapi Zana berhenti melangkah saat suara dari televisi yang berada di ruang santai para asisten terdengar dan menyita perhatiannya. Ia menoleh.
Bersamaan dengan suara Lila di ponselnya.
‘Zana, lo dimana? Zana? Tanterin dan Om Zae bukan di pesawat itu, kan?’
Deg!
Zana beringsut ke ruang asisten, senyumnya hilang dengan mata cokelatnya menatap nyalang pada layar televisi. Pandangannya semakin buram karena air mata yang memenuhi pelupuk matanya.
‘Zana?!’
Namun Zana tidak bisa menjawabnya, tangannya lemas, kakinya juga, seluruh tubuhnya tidak bertenaga. Ia jatuh terduduk di ambang pintu. Bi Cici meraih Zana yang ambruk, ponselnya terbanting.
Brak!
Tapi mata Zana masih menatap layar televisi yang sedang menayangkan berita sela dengan tajuk yang ditulis besar-besar.
Breaking News! Pesawat Cakrawala Air Rute Surabaya-Jakarta Hilang Kontak Setelah Take Off
Lalu judulnya berganti.
Jantungnya seakan berhenti saat kata demi kata Zana baca di layar.
Pesawat Cakrawala Air Rute Surabaya-Jakarta Kecelakaan di Laut Jawa
--
Tangan Zana mencengkeram sisi pegangan kayu di dermaga. Dengan mata menatap hamparan hitam di depannya, Zana membiarkan rambutnya berkibar diterpa angin laut malam. Selendang hitam yang dipakainya untuk menutupi kepala dan wajahnya kini ikut berkelebat di lehernya.
Tidak dipedulikannya bagaimana dingin menyentuh kulitnya. Karena rasanya masih sama. Masih mati rasa. Masih sering terasa sakit. Masih akan tidak rela.
Zana menutup matanya saat perlahan kedua pelupuknya perih.
Sudah hampir enam tahun berlalu. Tapi ingatan hari itu masih terus berputar di dalam ingatannya. Saat semua hal sempurna dalam hidupnya jadi terasa hampa dan hambar. Saat semua rasa bahagia dan utuhnya hilang hanya dalam hitungan menit.
Hari yang seharusnya bahagia. Harusnya ia pergi ke bandara dan menyambut mereka. Harusnya Papa melihat dekor ruang tamu yang ia kerjakan semalaman. Harusnya Papa meniup lilin angka empat sembilannya. Harusnya mereka memakan kue cokelat yang dibelinya hari itu.
Harusnya.
Tapi itu tidak pernah terjadi.
Bahkan tidak ada yang benar-benar pulang. Tidak ada yang pulang dari puing-puing kepingan itu. Tidak ada jasad yang pulang. Tidak ada pusara yang bisa ia datangi untuk mengadu. Tidak ada pusara untuk ia kirim doa. Tidak ada—
Meski doa katanya bisa sampai meski tanpa perantara apapun. Tapi sebagai manusia, ia tetap merasa butuh satu tempat untuk bisa merasa pulang. Tempat yang bisa dijadikan pelipur lara. Pelebur rindu.
Dan ini adalah tempatnya untuk melepaskan rindu. Meski rindu tidak benar-benar sampai dan sembuh. Karena rindu itu racun. Dilan bahkan tidak membiarkan Milea merasakannya, karena rindu itu berat.
Ia datang kemari hanya untuk mencari kekuatan. Setiap kali ia butuh. Setiap kali ia merasa bisa lepas kendali. Setiap kali ia merasa harus tetap pada tujuannya. Pada tempat seharusnya ia tetap berdiri.
“Kamu boleh menangis,” ucap suara di sampingnya.
Mata Zana terbuka. Ia menoleh, mendapati lelaki setinggi lebih dari seratus delapan puluh itu berdiri di sampingnya. Dengan setelan jas dan comma hair yang masih rapi di hampir tengah malam ini. Zana mendengus sebal lalu kembali menghadap luasnya lautan, menutup mata lagi.
Ini ritualnnya sendiri. Saat ia memerlukan hal yang lebih besar dari sebuah pelukan. Sebuah pengingat.
--