4. —Kontrak Baru

1396 Words
Zana mengembalikan ponsel dan mendorong laci kembali menutup, ia berdiri dan mengibaskan rambut panjangnya. Kakinya mengenakan sandal bulu rumahnya yang berwarna pink, lalu melangkah ke luar kamar. Ia sudah tahu siapa yang punya kebiasaan itu. Pintu terbuka. “Zanaaa!” Benar sekali tebakannya. Siapa lagi yang tidak akan hebih jika ada berita tentang dirinya seperti ini selain sepupu rasa kembarannya itu. “Mami ngirim gue buat jemput! Ayo pulang! Lo pasti tau lah ya Mami cemas banget karena berita hari ini. Gue sampe harus batalin beberapa janji konsul karena hape gue terus-terusan ditelepon Mami!” Lilara Zeyya Hadar berdiri setelah menutup kembali pintu. Gadis yang mirip sekali dengan Zana itu menatapnya dengan wajah memerah. Ia melepaskan stilleto dari kakinya, menghempaskan kelly bag berwarna biru itu ke atas meja makan, lalu membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Zana balas menatap. Mendengarkan setiap ocehan Lila. “Ih, geli banget gue sama berita itu! Gue nonton video porno gara-gara lo, ya, Zanari! Tanggung jawab lo!” cecarnya lagi setelah meneguk air minumnya. Masih belum memberi Zana jeda untuk menjawab. Suara kekehan Zana terdengar menanggapi keributan yang dibuat Lila. Tangannya merentang, bibirnya mencebik, matanya berkedip-kedip pada Lila yang masih ingin terus berbicara. Gadis itu bergerak, menutup botol minumnya, dan berakhir memeluk Zana yang sudah siap menampung kekesalan Lila. “Tapi sesudah nonton lo jadi yakin kalau itu bukan gue, kan?” tanya Zana dengan tangan menepuk-nepuk punggung Lila. Di pelukannya, Lila menghela napas lega dan rambut lurus sebahunya bergerak saat ia mengangguk yakin. “Seratus persen bukan lo!” “Cantikan gue, kan?” Lila melepaskan pelukannya, bibirnya mencebik, “Lebih cantik gue kemana-mana!” Jawaban Lila membuat Zana mengangguk-angguk setuju. -- Tangan Zana kembali menurunkan topinya, memakai maskernya, dan menaikan kacamata minusnya yang melorot. Ia tidak sempat memakai softlensnya. Setelah membuka headsetnya di ruang latihan kedap suara di rumah Om Zai, Zana baru melihat ponsel dan melihat pesan dari Tanteyu. [Tanteyu : Za, tanteyu ke rumah sakit dulu. Itan kecelakaan, di RS Dhanuraja.] [Tanteyu : Kalau mau nyusul jangan ngebut. Hati-hati.] Tiga puluh menit yang lalu. Isi pesannya mengingatkan Zana untuk tidak ngebut. Tapi dalam keadaan seperti ini mana bisa Zana mendengarkan. Ia bergegas meraih kunci mobilnya dan langsung tancap gas. Tangannya dengan lihai memutar roda kemudi. Rute ke rumah sakit milik adik neneknya itu sudah Zana hapal di luar kepala. Bahkan sebelum memutuskan jadi penyanyi, Zana sudah punya rencana untuk jadi dokter di sana. Hanya saja, begitulah takdir membawanya pada waktu ini. Memarkirkan mobil di parkiran khusus petinggi rumah sakit yang selalu punya space untuknya itu, Zana meraih ponsel dan segera keluar. Ia berlari ke IGD setelah menekan alarm. Lalu ponselnya berdering. Langkah Zana terhenti. Ia melihatnya. Si Sinting Calling … Ya, Zana memberi nama itu pada nomor Brama yang menerornya tidak henti. Lalu Zana teringat, bagaimana tatapan lekat Braja Krisna padanya selama persidangan berlangsung. Ia memenuhi panggilan sebagai saksi dan tentu saja memberi tahu semua hal yang ia lihat dan dengar. Dari mulai Rima yang memberi tahu bahwa ia berpacaran dengan suami orang, yang jelas itu adalah Braja. Karena Braja sudah menikah dengan Tiara Berlian, Sang Selebtok yang juga punya brand skincare sampai bodycare dan parfum itu. Zana juga memberi tahu semua yang terjadi di parkiran malam itu. Sampai pertengkarannya dengan Rima yang viral di sosial media karena ada salah satu staff yang merekam kejadian di ruang rekaman. Juga pesan-pesan yang Rima kirimkan padanya. Semuanya Zana beberkan di depan Hakim. Namun itu tidak cukup. Braja Krisna hanya mendapat empat tahun hukuman penjara. Betapa tidak adilnya untuk semua hal yang sudah Rima berikan padanya. Perasaannya, cintanya, karirnya, bahkan hidupnya yang habis di tangan Braja. Itu sungguh tidak adil untuk Rima! Dan sekarang, Zana tahu ia adalah target selanjutnya. Ia tidak akan dibiarkan hidup tenang dan selesai setelah menjadi saksi yang ngotot ingin Braja di hukum seumur hidup. Hukum mati kalau bisa. Tapi nyatanya tidak. Zana menghela napas. Ia menerima panggilan telepon itu setelah dering kesekian. Setelah ia memastikan sendiri Lintang baik-baik saja. ‘Kamu yang menantang saya untuk melakukan hal yang lebih buruk.’ Zana melirik pada kaca kecil di pintu ruangan putih di depannya. Di dalam ruangan rawat itu berkumpul semua keluarganya. Semua orang yang sudah jadi keluarganya. Ia menggigit bibirnya. Cemas yang masih menggelayut di hatinya membuatnya kembali menghela napas. Benar sekali, Zana memang sudah gila dengan menantang Brama untuk melakukan hal yang lebih dari skandal ecek-ecek yang menimpanya tiga hari lalu. Tapi ternyata tidak butuh waktu lama untuk membuat Brama melakukan hal gila lainnya. Skandal gila lainnya. Kali ini, targetnya bukan hanya dirinya. Tapi sudah menjalar ke bagian lain dari dirinya. Perusahaan keluarganya, Hada Farma yang dipegang oleh Om Zainal dan Hada Jamu juga yang masih dalam lingkung yang sama dengan Hada Farma. Keduanya dibuat oleng dengan skandalnya. Klinik Lila yang tiba-tiba kemalingan, lalu sekarang, Lintang yang terlibat kecelakaan. Tidak fatal, tapi cukup untuk membuat Zana tahu bahwa hal itu adalah satu peringatan. Bahwa Brama tidak hanya menggertak. Bahwa Braja tidak main-main mengirim Brama untuknya. Memberi tahu Zana bahwa ia harusnya menyerah dan menyerahkan diri. Mengalihkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kanan, Zana menghela napas, lalu mengangguk. Bibirnya gemetar saat mengucapkan hal paling gila dalam hidupnya sejauh ini. Hal yang akan sangat mengubah hidupnya. Orang bilang, menyesal itu di akhir. Kalau di awal itu pendaftaran. Tapi baginya, bagi Zana, ia sudah menyesal bahkan saat ia mengatakan persetujuannya. “Oke. Gue bersedia tapi dengan syarat.” Suara Zana terdengar setelah helaan napasnya. Lalu hening. ‘Kalau begitu sampai jumpa nanti malam. Lebih cepat kita bicarakan lebih baik.’ jawab suara Brama setelah diam sebentar tadi. ‘Ada yang akan menjemputmu.’ “Gue ngerti.” Sambungan telepon terputus. Zana menurunkan ponselnya. Ia menatap layar yang masih menunjukan berita kemarin siang. Berita tentang korupsi yang dilakukan Om Zai. Hal yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh Om-nya itu. Zana tahu skandal seperti ini tidak akan berhenti sampai dirinya menyerahkan diri. Jadi, inilah yang sedang ia lakukan sekarang. Tok! Tok! Tok! Zana menggeser pintu putih dan semua mata tertuju padanya. “Kak Itan,” panggilnya dengan cemas. “Kak Itan baik-baik aja, Za,” Lintang menjawab bahkan sebelum Zana bertanya. Kakak sepupunya, kakak kandung dari Lila itu tersenyum padanya. Lintang Zayyan Hadar sedang berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan Zana, kalau ia baik-baik saja. Tapi Zana bisa melihatnya, lecet-lecet di wajah Lintang, juga di sikunya. Tangan kanannya dibebat dan dipasang penyangga yang dikalungkan ke leher. “Cuma dislokasi sama lecet doang,” jelas Lintang lagi, menjelaskan situasinya. “Disuruh istirahat dua minggu sama dokter,” Ayu menimpali sambil meraih tangan Zana untuk masuk lebih dalam ke kamar rawat inap itu. Zana menoleh pada Tanteyunya. Maminya Lila dan Lintang. Wanita yang selama lima tahun ini menjadikan diri sebagai Maminya Zana juga. Lila datang menyerbu kemudian, “Kak!” Si duo maut bagai air dan minyak itu memang lebih sering berantem daripada akur. Tapi di saat seperti ini, Lila yang paling heboh dengan kabar yang diterima seluruh anggota keluarga itu. Menyerbu Lintang yang masih berbaring di tempat tidurnya. Zainal yang duduk di samping tempat tidur Lintang sedikit khawatir kalau grasak-grusuk anak gadisnya akan menyenggol bagian sakit Lintang. Tapi Lila berdiri tanpa mencoba menyentuh Lintang. “Kak!!” jerit Lila sekali lagi. Air matanya yang mengembang di pelupuk matanya jatuh. “Gue gapapa, dek!” Lintang menggeleng dengan senyuman. “Beneran?” Lila melihat lebih dekat wajah Lintang, lalu turun ke tangannya. “Kaki gak apa-apa, Kak?” Lintang kembali mengangguk, “Semuanya oke,” katanya sebelum kembali menerangkan apa yang tadi diberitahu pada Zana. “Yakin cuma itu?” “Bawel!” “Ih!” “Aku mau bilang sesuatu,” Zana membuat dua orang saling khawatir tapi gengsi itu berhenti saling teriak. Ayu, Zainal, Lila dan Lintang segera menoleh padanya. Zana tersenyum kecil, menoleh pada Zainal. Lelaki yang merupakan kembaran papanya itu juga sudah selalu menganggap Zana sebagai anaknya sendiri. Lelaki lima puluh tahunan yang selalu mendukung pilihan Zana sejak ia memulai karirnya di Swara Music, yang tidak pernah membedakan apapun untuk Zana dan untuk Lila. Mereka berdua, Zana-Lila, bahkan lebih kembar dari pada papa dan papi mereka. Beralih menatap Ayu yang ia panggil dengan Tanteyu, lalu pada duo Li kesayangannya. Ia tersenyum kecil, senyum yang berubah jadi cengiran. “Aku—“ “Mau menyerah sama nyanyi dan mulai berlajar nerusin Hada Jamu?” tanya Zainal. Zana mengerjap. Benar. Ia sudah punya janji lain yang harus ditepatinya. --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD