Zana pikir, Brama sudah melepaskannya. Namun sangkaannya salah, bibir Brama kembali mendarat di atas bibirnya. Perlahan, tidak seperti tadi, tidak menggebu, tidak menuntutnya. Kecapannya, pagutan bibir Brama kini lebih perlahan, lebih lembut di bibirnya. Zana tidak bisa membuka mata. Ia tidak mau melihat dirinya dalam kendali seperti ini. Ia tidak mau melihat dirinya yang menyerahkan diri sekali lagi. Zana bisa merasakan pipinya yang memanas di usap oleh jemari Brama sebelum jari-jari itu menelusup ke sela helaian rambutnya, lalu mencengkeram bagian belakang kepalanya. Sementara tangan kiri Brama kembali naik, perlahan ke punggung atasnya, dan berhenti di belakang lehernya. Menekannya di sana. Membuatnya makin dekat dalam pelukannya. Lalu Brama lagi-lagi menarik tubuhnya, menekan, memel

