Setelah mengganti baju basahnya karena pelukan Brama, Zana mengganti dengan setelan baju tidur dan celana pendek. Lalu ke dapur untuk membuat teh madu. Brama yang baru selesai dari kamar mandi lewat di depannya begitu saja. Secara tidak sengaja ia melihat punggung luka Brama. Mengumpulkan keberaniannya, Zana mengetuk pintu kamar Brama dan menawarkan diri untuk membantunya mengoleskan salep dari kamarnya. Salep yang sangat berguna dalam satu minggu terakhir ini. Hanya itu niat awalnya. Tapi setelah dilihat sedekat ini, ternyata bukan hanya luka-luka baru yang masih basah dan berdarah. Ada banyak juga bekas-bekas yang mengering dengan kulit baru. Bekas pukulan, bekas luka, goresan-goresan. Banyak. Punggung itu bak kanvas yang dipakai berulang-ulang, ditimpa warna baru, ditambah gorean ba

