Begitu motor kembali melaju meninggalkan rumah konsumen, hening sempat mengisi di antara mereka. Dinda masih menunduk, wajahnya panas. Angin sore menyibakkan rambutnya, tapi rasa hangat di pipinya tak kunjung hilang.
Tiba-tiba Leon bicara, suaranya terdengar geli.
“Din…”
“Iya, Pak?”
“Kamu tadi dengar sendiri kan, konsumen itu bilang apa?”
“Dengar,” jawab Dinda cepat, suaranya malu.
Leon terkekeh. “Kayaknya dia lebih yakin kamu istriku daripada aku sendiri.”
Dinda spontan memukul pelan jaket Leon dari belakang. “Pak, jangan bercanda!”
“Aku serius,” jawab Leon sambil menahan tawa. “Aku juga jadi salah tingkah. Apalagi pas dia bilang kita cocok. Kamu nggak merasa… ehm… gimana gitu?”
Dinda diam. Jemarinya refleks menggenggam ujung jaket Leon lebih erat.
“Jujur aja, Din,” lanjut Leon, suaranya menurun, lebih lembut. “Aku juga ngerasa aneh. Tapi… aneh yang… menyenangkan.”
Dinda menahan napas, wajahnya semakin memanas. Angin sore berhembus, tapi di antara mereka justru terasa lebih hangat.
Di tikungan sempit, motor sedikit miring. Dinda otomatis merapat, tubuhnya menempel lebih dekat ke punggung Leon. Leon tersenyum tipis, lalu berkata setengah berbisik,
“Kalau setiap kali kita ke konsumen dibilang pasangan… mungkin suatu hari nanti orang-orang nggak akan salah lagi.”
Dinda tercekat. Ia tak berani menjawab, hanya menunduk dan menyembunyikan wajah yang memerah di belakang punggung Leon.
---
Akhirnya sampai dan motor berhenti di depan kantor. Dinda segera turun, berusaha cepat-cepat melepas helm dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. Leon ikut turun, melonggarkan jaket jeansnya sambil tersenyum ringan.
“Thanks ya, Din. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku tadi nggak bisa cek dokumen selengkap itu,” ucap Leon sambil mengunci motor.
Dinda tersenyum tipis, masih menunduk, suaranya pelan. “Sama-sama, Pak. Saya cuma bantu.”
Namun momen sederhana itu ternyata tidak luput dari mata seseorang. Dari balik pintu kaca kantor, Shinta berdiri mematung. Sepasang matanya yang bercelak tajam menatap penuh amarah. Dari tadi ia sengaja menunggu, dan kini yang ia lihat adalah Leon dan Dinda… turun dari motor bersama.
Shinta langsung meremas jemari tangannya. Jadi benar… dia semakin dekat dengan Leon…
Begitu Leon dan Dinda masuk, Shinta pura-pura sibuk merapikan rambut panjang keritingnya di meja kerja. Tapi bibirnya melengkung sinis.
“Wah, pulangnya barengan ya? Romantis sekali,” ucapnya dengan nada menusuk.
Dinda spontan terdiam. Wajahnya memerah, bingung harus menjawab apa. Leon justru menanggapi santai.
“Kita habis dari rumah konsumen. Ada berkas kredit yang harus dicek.”
“Tentu… tentu…” Shinta mengangguk, matanya menyipit. “Konsumen atau… jalan-jalan berdua, Pak?”
Senyum sinisnya makin jelas. Toni dan Rudi yang kebetulan sedang lewat malah bersiul menggoda.
“Waduh… bos sama sekretarisnya mulai cinlok nih?” kata Toni sembarangan.
Rudi menimpali dengan tawa kecil, “Din.... selama perjalanan tadi Leon nakal ga? ”
Dinda hanya bisa tersenyum tipis dengan wajah yang memerah kikuk.
Risa yang sesekali melihat ekspresi wajahnya Dinda berkata "Hati-hati Din sama pak Leon .. kalau lagi sama cewek matanya suka jelalatan"
Seluruh ruangan meledak dengan tawa.
Dinda merasa darahnya naik ke wajah. Leon hanya tersenyum samar, tidak menampik tapi juga tidak membenarkan.
Shinta menatap pemandangan itu dengan d**a membara. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu duduk dengan keras di kursinya. Matanya tak lepas dari Dinda. "Perempuan itu harus dijauhkan dari Leon… apapun caranya."
Di sisi lain, Dinda duduk di mejanya dengan jantung yang masih berdebar. Sesekali matanya bertemu tatapan Leon dari kejauhan. Keduanya sama-sama salah tingkah, tapi di antara keramaian dan tawa absurd kantor, ada sesuatu yang mulai tumbuh — sesuatu yang hanya mereka berdua yang merasakannya.
----
Suasana kantor sore itu masih dipenuhi suara ketikan cepat di keyboard. Lampu neon di langit-langit berkelip samar, menemani tiap karyawan yang tenggelam dalam tugasnya masing-masing.
Toni sibuk mondar-mandir ke printer, membawa tumpukan kertas yang terus berderet keluar dengan suara berdencing. Leon menunduk penuh konsentrasi, jemarinya lincah menggeser mouse, merancang desain iklan properti yang memerlukan ketelitian dan rasa seni. Rudi tak kalah serius, matanya terpaku pada layar laptop, memantau engagement akun-akun sosial media, menghitung setiap like dan komentar iklan yang mereka pasang. Di sudut lain, ada yang sibuk mengedit video iklan properti—suara musik samar-samar terdengar dari headset yang menempel di telinganya.
Sementara itu, Dinda duduk rapi di kursinya, wajah teduhnya serius menatap lembar-lembar data konsumen yang ia masukkan ke sistem. Sesekali ia menekan tombol enter, memastikan semua nama dan nomor tak ada yang terlewat. Berbeda dari yang lain, Shinta terlihat paling santai. Ia duduk menyender, jemari lentiknya sibuk mengganti warna kutek di kuku-kukunya, seakan pekerjaan kantor bukanlah beban yang harus ia pikirkan sore itu.
Jam dinding berdentang pelan, menandai tibanya waktu pulang. Suasana kantor langsung berubah. Kursi-kursi berderak, file ditutup, komputer dimatikan. Semua mulai membereskan meja masing-masing, lalu berkumpul sejenak untuk doa bersama.
“Semoga pekerjaan kita hari ini membawa berkah,” ucap salah satu rekan dengan lirih.
“Aamiin…” sahut yang lain serempak.
Selesai doa, satu per satu karyawan beranjak pulang. Dinda ikut melangkah dengan tenang, tas kecil disampirkan di bahunya, wajahnya lega meski lelah. Namun saat ia hampir mencapai pintu, langkahnya terhenti. Dari samping, Shinta berjalan cepat dengan secangkir kopi di tangannya.
Braak!
Cairan cokelat pekat itu tumpah, membasahi baju putih Dinda. Setengah cangkir kopi menyebar, meninggalkan noda gelap yang langsung merebak di serat kain. Dinda terpaku. Napasnya tercekat.
“Duh… maaf Din, nggak sengaja,” ucap Shinta dengan nada datar. Senyumnya samar, tapi matanya menyimpan kepuasan yang tak bisa ia sembunyikan.
Dinda menatap bajunya. Hatinya perih, bukan hanya karena noda yang membandel, tapi karena tahu ini bukan ketidaksengajaan. Meski begitu, ia menahan diri. Bibirnya bergetar, tapi tetap ia paksa melengkungkan senyum.
“Nggak apa-apa, Sin. Nanti aku cuci pakai deterjen khusus, bisa hilang kok,” katanya lirih, suaranya setenang mungkin.
Shinta mengangkat alis, tersenyum puas. “Ya sudah. Tapi lain kali kalau jalan jangan menghalangi aku, biar nggak ketumpahan kopi.” Ucapannya tajam, seolah menancap di hati Dinda.
Dinda terdiam sejenak. Ia tahu, itu bukan sekadar kata-kata. Ada rasa iri, ada cemburu, ada keinginan untuk menjatuhkannya. Namun ia memilih menahan luka itu, menyembunyikannya di balik senyum samar.
“Baik, Shin…” jawabnya pelan.
Shinta melenggang pergi dengan langkah ringan, seolah kemenangan kecil baru saja ia raih.
Dinda berdiri kaku, menunduk menatap noda di bajunya. Rasa perih menjalari dadanya. Bukan karena kain putih itu ternodai, tapi karena hatinya merasa diinjak dengan cara yang begitu halus dan kejam. Ia menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca, tapi ia tak membiarkan setetes pun air mata jatuh.
Dengan langkah gontai, Dinda melanjutkan perjalanannya keluar dari kantor. Jalanan sore menyambutnya, langit jingga perlahan berubah temaram. Di balik wajahnya yang masih tersenyum tipis, ada hati yang diam-diam berdoa: semoga kesabarannya kali ini benar-benar menjadi kekuatan, bukan sekadar luka yang ia telan sendirian.
----
Jalanan sore mulai dipenuhi kendaraan. Lampu-lampu kota berangsur menyala, menambah temaram langit yang perlahan ditelan malam. Leon duduk di balik kemudi, memutar kunci mobilnya. Begitu mesin menyala, radio langsung mengalun lembut, namun ia segera mengganti frekuensi dan memilih memutar playlist dari ponselnya.
Dentuman gitar akustik pelan terdengar. Lagu “Melukis Senja” mengalun, mengisi kabin mobil dengan nuansa sendu sekaligus hangat. Leon terdiam sejenak. Lagu itu terasa begitu dekat, begitu personal—karena kemarin Dinda sempat mengirimkannya melalui pesan w******p.
"Pak, coba dengerin lagu ini." Entah kenapa aku suka sekali liriknya..." begitu bunyi pesan singkat Dinda.
Kini, di tengah perjalanan pulang, Leon memutar ulang lagu itu sambil membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan siang tadi. Wajah Dinda muncul jelas dalam benaknya—saat ia dengan tenang, penuh kelembutan, menarik resleting jaketnya. Gerakan sederhana itu justru membekas dalam hati Leon. Ada sesuatu yang berbeda.
“Kenapa ya… baru kali ini aku ketemu perempuan setenang itu,” gumamnya lirih, matanya fokus ke jalan tapi senyumnya pelan muncul tanpa sadar.
Di kepalanya, Leon kembali memutar momen itu: tatapan mata Dinda yang lembut, caranya menunduk, dan suara tenangnya yang selalu terasa menyejukkan. Tidak ada sikap berlebihan, tidak ada drama, hanya ketulusan yang begitu nyata.
Mobil melaju, lampu jalan memantul di kaca depannya. Leon sesekali tersenyum sendiri, seperti orang yang sedang jatuh ke dalam dunia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Lagu terus berputar, setiap baitnya serasa seperti Dinda sedang berbicara kepadanya.
Leon menghela napas panjang, seakan ingin melepaskan sesuatu dari dadanya. “Dinda… kenapa kamu selalu muncul dengan cara yang sederhana, tapi justru bikin aku nggak bisa berhenti mikirin?” bisiknya lirih, hampir seperti rahasia yang hanya boleh didengar dirinya sendiri.
Mobil terus melaju menembus senja yang hampir hilang. Dan di dalam kabin yang temaram, hati Leon kian penuh oleh satu nama—Dinda.
---