Sore itu, langit sudah berubah kelabu ketika Leon akhirnya memarkir motornya di halaman rumah. Nafasnya berat, bukan karena perjalanan pulang kerja, melainkan karena beban pikiran yang terus menghantui. Begitu membuka pintu, suasana rumah terasa sepi—aneh untuk sebuah rumah dengan dua anak kecil. Lorong menuju kamar utama masih sunyi. Pintu kamar terkunci rapat. Leon mengetuk pelan. Leon lembut, menahan letih “Bun… aku pulang.” Tak ada sahutan, hanya kesunyian. Hatinya tercekat. Ia tahu betul, jika Kiara sudah marah, istrinya akan mengurung diri seperti anak kecil yang enggan keluar dari persembunyian. Dari ruang tengah, suara riang anak-anak justru menyambutnya. Anak sulungnya, masih mengenakan seragam sekolah yang lusuh, sibuk membuka buku. Sementara si bungsu, berlari-larian sambil

