Baru saja aku terpukau dengan pemandangan yang ada di istana ini, aku sudah harus melupakan semua yang indah-indah itu karena melihat keadaan miris pria yang ada di hadapanku saat ini. Dia seperti manusia yang tidak ada semangat hidup lagi. Hidup susah, mati tak bisa. Aku tidak menjawab pertanyaan Nadia, aku hanya diam memikirkan apa yang ada di pikiran pria ini, kakak laki-laki Nadia. "Aku keluar dulu." Nadia langsung melangkah keluar dengan wajah sedih sekaligus kesal. Aku benar-benar tidak tau apa yang telah terjadi di sini. Dodi melirikku, memberi isyarat mata untuk keluar. Tapi entah kenapa rasanya aku tidak mau dan tidak bisa keluar dari kamar ini di situasi seperti ini. Aku menggeleng ringan pada Dodi. "Pergilah, hibur Nadia, dia membutuhkanmu saat ini." Aku tersenyum tipis, m

