Nadia melirikku, nampak bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi di atas, tepatnya di kamar kakaknya. Aku hanya diam, duduk di sebelah Dodi, melipat kedua tangan di atas meja, menelungkupkan wajah. "Apa yang telah terjadi Hana? Kenapa kamu nampak lelah begitu?" tanya Dodi. "Bagaimana bisa aku tidak lelah sebab mengeluarkan banyak emosi untuk kakak laki-laki Nadia yang bodoh itu! Padahal dia sudah sembuh tapi tetap saja menyusahkan orang lain begitu!" seruku masih kesal. Aku belum bisa menetralkan emosiku sendiri. "Sembuh? Apa maksudmu?" Kening Nadia terlipat, dia penasaran dengan perkataanku. "Dia tidak mengalami trauma atau kondisi psikologi lagi, dia sudah benar-benar sehat, hanya fisiknya saja yang lemah karena kurang makan dan kurang sinar matahari. Dia sudah membohongi kelua

