"Kita akan pulang?" tanya Xander. Setelah dirawat lebih dari satu minggu, akhirnya sore itu ia diijinkan pulang oleh dokter.
Melinda yang sedang beberes menoleh dengan malas. "Kenapa kau itu cerewet sekali, Xander?! Apa kau tidak lihat, aku sangat kerepotan mengurus semua ini?!"
Xander tersenyum. "Andai aku tidak terluka, aku akan membantu."
Melinda mendengus sinis. "Kau bisa mengomel panjang, jadi seharusnya kau sudah pulih, kecuali aku menusukmu lagi."
Xander mengangkat kedua tangannya. "Ampun, Nona. Aku tidak ingin ditusuk lagi," kekehnya dengan menyebalkan.
"Bagus. Sekarang kau diam dan biarkan aku membereskan ini."
Xander menganggukkan kepalanya. Namun, ia tidak tahan untuk tetap diam. "Aku ingin bertanya, tapi kau tidak akan benar-benar menusukku, 'kan?!"
Melinda memejamkan matanya kesal. "Apa lagi sekarang?"
Xander tersenyum, menampilkan deretan giginya. "Aku hanya ingin bertanya, aku akan ikut bersamamu ke rumahmu atau ke apartemen?"
Melinda melempar satu baju ke arah Xander. "Dengar, Tuan Pemilih. Aku tidak tinggi di apartemen, jadi kau akan ikut aku pulang ke rumahku."
"Siapa saja yang ada di sana?"
"Siapa saja? Tentu keluargaku. Konyol sekali."
"Tidak. Maksudku, kalau kau tinggal di rumah sendiri, aku tidak perlu sungkan pada siapapun, bukan?" ujar Xander.
Melinda tersenyum mengejek. "Aku tidak yakin, kau punya rasa sungkan!"
Xander menggaruk kepalanya. "Jadi, siapa yang ada di rumahmu? Ayah, ibu dan ... saudarimu?"
Melinda menganggukkan kepalanya. "Kau di rumah itu bersamaku, jadi kau tidak perlu menundukkan kepala pada siapapun."
Xander tersenyum. "Aku tahu, kau wanita yang berkuasa. Baguslah, aku tidak akan sungkan."
Malam itu, Melinda masih tak percaya dengan keputusannya. Mengapa ia membiarkan pria menyebalkan itu untuk ikut dan tinggal di rumahnya?
Ia mengacak rambutnya frustrasi saat menyetir, sementara Xander duduk di sebelahnya dengan santai, menikmati perjalanan seolah sedang naik taksi mewah.
"Aku lapar," gumam Xander sambil mengelus perutnya.
Melinda mendengus, tetap fokus ke jalan. "Aku bukan pengasuhmu. Makanlah nanti di rumah."
"Tapi aku butuh asupan makanan sehat setelah kehilangan banyak darah," rengek Xander. "Bagaimana kalau kita mampir beli sup ayam? Atau steak? Ah, aku ingin sushi!"
Melinda menoleh sekilas dengan tatapan membunuh. "Kau pikir aku restoran berjalan?"
Xander cemberut. "Lihatlah aku! Sekarang aku tambah kurus, bukan? Aku pria yang baru sembuh dari cedera. Kau seharusnya lebih perhatian."
Melinda menutup matanya sesaat, berusaha sabar. "Baiklah, aku akan belikan makanan. Tapi jangan banyak omong!"
***
Setelah membeli makanan, mereka akhirnya tiba di rumah Melinda. Begitu masuk, Xander langsung menjatuhkan dirinya ke sofa empuk di ruang tamu.
"Ahh, akhirnya aku tiba di tempat nyaman! Aku sudah bosan dengan ranjang rumah sakit," keluhnya sambil menggeliat seperti kucing malas.
Melinda mendelik. "Hei, jangan tiduran di situ! Kau bisa tidur di kamar tamu di lantai dua."
Xander menoleh dan menatapnya dengan mata berbinar. "Kau mau gendong aku ke atas?" tanyanya polos.
Melinda hampir melempar sandal ke wajah pria itu. "Kau punya kaki, Xander!"
"Tapi kakiku lemah ... badanku masih lelah," rengeknya, sengaja bersikap dramatis. "Kalau aku jatuh dari tangga dan lukaku terbuka lagi, kau mau tanggung jawab?"
Melinda mendengus keras. "Jangan pura-pura lemah! Aku melihat sendiri bagaimana kau berkelahi melawan dua pria bertato!"
"Itu dulu, sekarang aku sudah berubah," Xander menghela napas panjang. "Aku pria yang rapuh."
Melinda menutup wajahnya dengan tangan, menyesali keputusan membawa pria ini ke rumahnya. "Aku harus banyak bersabar." gumamnya.
Sementara itu, Xander tertawa pelan. "Tenang saja, aku akan menjadi penghuni yang baik. Oh, dan satu lagi."
"Apa lagi?"
"Aku suka sarapan di tempat tidur. Jadi, bisa kau bangunkan aku besok pagi dengan membawakan kopi?"
Kali ini, sandal benar-benar melayang ke kepala Xander.
***
Malam itu, Darco turun dari kamar menuju ruang tamu untuk mengambil minum, tetapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pria asing duduk santai di sofa dengan kaki selonjoran. Matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Siapa kau?" tanyanya tajam.
Xander, yang tengah menikmati segelas jus dingin, menoleh dengan malas. "Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku penghuni baru rumah ini."
Dahi Darco berkerut. "Apa maksudmu? Tunggu! Bukannya kau pria itu? Pria yang mengaku kekasih Melinda!"
"Wow, ingatanmu tajam, Tuan. Aku tinggal di sini sekarang. Kau harus mulai terbiasa melihat wajah tampanku setiap hari," ujar Xander sambil tersenyum lebar, lalu menyesap jusnya dengan santai.
Darah Darco mendidih. Ia melangkah cepat mendekati Xander, hendak menyeretnya keluar. "Pergi dari rumah ini! "
Namun, sebelum tangannya bisa menyentuh Xander, Melinda tiba-tiba berdiri menghadang. "Hentikan, Darco!"
Darco menatap Melinda tak percaya. "Kau membela pria ini?"
"Dia tamuku, dan aku yang memutuskan siapa yang boleh tinggal di rumah ini," balas Melinda tajam.
"Melinda, kau tidak mengenalnya. Bisa saja dia pria jahat yang—"
"Satu-satunya pria jahat di rumah ini adalah dirimu," ketus Melinda, membuat Darco bungkam.
Xander menatap Melinda dengan penuh kekaguman lalu berbisik, "Baby, kau sangat keren."
Melinda mendelik ke arahnya. "Diam kau!"
Darco makin geram. "Melinda! Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau membawa pria asing ke rumah ini!"
"Lalu apa urusannya denganmu?! Ini rumahku, aku bebas membawa siapapun, bahkan seekor singa sekalipun!"
"Mel, kau... aku benar-benar frustasi denganmu."
Melinda tertawa. "Kenapa kau sibuk sekali mengurusi aku?! Urus saja istrimu itu."
Keributan mereka menarik perhatian seluruh penghuni rumah. Jacob Brown, ayah Melinda, turun dari lantai atas dengan ekspresi murka, diikuti ibunya yang juga tak kalah terkejut.
"Apa yang terjadi di sini?" suara berat Jacob menggema di ruangan. "Kenapa malam-malam begini kalian ribut sekali?"
Ibu Melinda juga menatap dengan mata melebar. "Melinda, siapa pria ini? Kenapa dia ada di sini?"
Xander berdiri dengan percaya diri, membusungkan d**a. "Salam kenal, aku Xander. Bisa dibilang, aku ..." Xander melirik Melinda dengan penuh arti, "... seseorang yang sangat spesial untuk putri kalian. Aku pacarnya Melinda."
"Tidak. Dia bohong, Ayah. Pria ini adalah pria bayaran yang ditemui Melinda." Darco menjawab cepat, menyela ucapan Xander.
"Apa maksudnya pria bayaran?" tanya Jacob.
"Dia seorang gigolo, Ayah!"
Seketika wajah Jacob memerah. "APA?!"
"Apa kau sudah gila, Melinda?!" Ibunya juga histeris. "Apa yang kau lakukan sekarang?"
Melinda menegakkan tubuhnya dan menatap kedua orang tuanya dengan dingin. "Aku sudah dewasa. Aku tidak butuh izin siapa pun untuk membawa tamu ke rumah ini. Jika kalian tidak suka, silakan pergi dari sini."
Semua orang terperangah.
Darco menatap Melinda seolah ia sudah kehilangan akal sehat. "Kau benar-benar gila, Melinda!"
"Apa yang salah? Ini rumahku dan kalian semua menumpang di sini. Hormati dia atau kalian aku tendang keluar," balas Melinda dengan sinis.
Sementara itu, Xander tersenyum senang dan dengan santai bersandar ke Melinda. "Baby, aku suka keberanianmu. Aku semakin jatuh cinta padamu."
Melinda mendesis, "Diam, Xander!"
Namun, pria itu justru semakin lekat menempel padanya dengan ekspresi puas, sementara keluarga Brown masih dalam keterkejutan besar.
"Aku mencintaimu, Melinda," bisik Xander, sengaja menatap pada Darco yang sudah kebakaran jenggot.