Bab 9. Adopsi Aku, Baby.

913 Words
"Pulanglah sendiri, aku masih mau di sini." "Kau gila?! Kepalaku akan berlubang kalau merahasiakan ini dari mereka!" Seorang pria berkacamata berdiri di samping ranjang rumah sakit, menatap Xander dengan ekspresi cemas. Namun, Xander hanya mendengus santai. "Katakan saja aku tidak mati. Aku baik-baik saja. Mereka akan mengerti itu, bodoh!" "Xander, aku tidak sedang bercanda. Aku—" Belum selesai pria berkacamata itu berbicara, pintu terbuka. Melinda masuk, membawa sebuah parcel buah. Pria berkacamata itu refleks menoleh. "Oh, ada tamu. Aku akan keluar dulu—" kata Melinda. "Tidak-tidak! Jangan pergi. Dia yang akan pergi." Xander buru-buru memotong, kemudian mendorong pria berkacamata itu untuk keluar. "Heh?! Kenapa aku?!" protes pria itu. "Aku belum selesai bicara denganmu, Xander!" "Kau tidak diperlukan. Sudah sana! Kita bisa bicara tahun depan!" kata Xander dengan enteng. Pria berkacamata itu hanya bisa mendesah sebelum akhirnya menyerah. Sebelum keluar, ia sempat menunduk sedikit untuk menyapa Melinda. Melinda mengangguk ragu. Setelah pria itu keluar, ia mendekati ranjang Xander. "Bagaimana kondisimu sekarang?" tanyanya pelan. Xander menundukkan kepala. "Ya seperti ini. Aku masih sangat lemah," jawabnya dengan nada dibuat-buat, seolah ingin dikasihani. Melinda hanya mendengus kecil, lalu meletakkan parcel buah di meja samping ranjang. "Aku tidak tahu kau suka apa, jadi aku membawakanmu buah ini." Xander menatap parcel itu sebentar, lalu tersenyum tipis. "Itu sudah cukup. Kau pasti lelah, pulang kerja langsung ke sini." Melinda menggeleng. "Tidak apa-apa, aku mengkhawatirkan kondisimu." Mendengar itu, Xander menoleh cepat, matanya berbinar. "Kau mengkhawatirkan kondisiku?" Melinda mengangguk ragu. "Ya ...." Xander semakin tersenyum lebar. "Kalau begitu, apa kau merasa bersalah karena kondisiku sekarang?" Melinda kembali mengangguk, masih bingung dengan arah pembicaraan ini. "Apa maksudmu? Aku hanya ...." "Tidak ada. Hanya saja ... kalau kau merasa bersalah, berarti kau paham kalau kau berhutang nyawa padaku, bukan?" Melinda menatapnya dengan curiga. "Maksudmu?" Xander menyandarkan punggungnya ke bantal dan berkata dengan nada santai, "Kalau begitu, maukah kau membayarnya?" "Apa?!" Melinda langsung berteriak, matanya membelalak. "Kau ... kau akan memulai itu lagi?! Kau mau memerasku sekarang?! Wah, aku seharusnya mengerti dirimu sejak terakhir kali!" "Apa-apaan itu, aku tidak memerasmu. Kau seharusnya merasa berhutang nyawa!" "Hei, aku tidak meminta padamu untuk diselamatkan! Aku tidak memintamu tertusuk pisau! Jadi itu salahmu sendiri! Kau saja yang bodoh!" Melinda mengerucutkan bibirnya. Xander hanya terkekeh. "Tenang, aku tidak akan meminta jutaan dolar, aku juga tidak akan memerasmu." Ia lalu menurunkan nada bicaranya. "Sebenarnya ... aku butuh tempat tinggal. Dengan kondisiku sekarang, aku tidak bisa bekerja, dan sewa apartemenku sudah habis. Aku akan tinggal di mana?" Melinda terdiam. Ia menatap Xander dengan ekspresi sulit ditebak. "Kau tidak punya keluarga?" tanyanya dengan suara lebih lembut, untuk pertama kalinya terdengar benar-benar peduli. Xander terdiam sejenak. Melinda menghela napas. "Aku mengecek ponselmu, dan tidak ada nomor siapa pun di sana selain nomorku. Jadi, aku pikir kau sebatang kara." Xander menganggukkan kepala cepat. "Aku tidak punya keluarga. Kau benar, aku tidak punya keluarga di sini." Seketika, suasana di antara mereka berubah hening. Di balik pintu kamar rumah sakit, pria berkacamata yang sejak tadi menguping itu mendesah panjang. "Xander sialan, kau dalam masalah sekarang." Ia membetulkan kacamatanya dengan gelisah. "Apa aku akan dijadikan tumbal lagi?!" gumamnya sebelum akhirnya melangkah pergi dengan wajah pasrah. "Aku akan meminta kompensasi besar untuk setiap memar yang akan aku terima, Xander!" Di dalam kamar, Xander memasang ekspresi sedih. Ia menundukkan kepala, suaranya dibuat lirih seolah tengah mengenang masa lalu yang memilukan. "Orang tuaku meninggal karena sakit. Sejak itu, aku sendirian." Melinda menatapnya tanpa ekspresi, menunggu kelanjutan ceritanya. "Mereka hanya petani biasa, tak punya warisan apa pun. Hidupku sulit," lanjut Xander dengan nada penuh kegetiran. Melinda menghela napas pelan. Lalu, dengan nada skeptis, ia bertanya, "Apa itu yang membuatmu menjadi pria penghibur?" Xander mengangguk, ekspresinya semakin merana. "Aku tak punya pendidikan tinggi. Pekerjaan apa yang bisa kulakukan?" Melinda menyilangkan tangan di d**a. "Kau bisa mencari pekerjaan lain. Cleaning service? Driver online? Setidaknya pekerjaan yang lebih terhormat." Xander menggeleng cepat. "Aku tak punya mobil. Bagaimana bisa menjadi driver online?" Ia mendesah pelan sebelum menatap Melinda dengan serius. "Satu-satunya keahlianku adalah ... memuaskan wanita. Itu pun dari tutorial yang sering kutonton." Melinda terdiam, lalu tersedak udara. "APA?!" Xander mengangguk polos. "Aku sangat ahli dalam hal itu, kau pun sudah merasakannya, bukan?" Melinda langsung memalingkan wajah, pipinya terasa panas. "A-aku tidak ingat!" serunya cepat. Xander menyeringai, puas melihat reaksinya. Namun, ekspresinya kembali sendu saat ia bersandar lemah di ranjang. "Dengan kondisiku sekarang, aku tak tahu harus tinggal di mana. Aku bahkan tak bisa bekerja untuk membayar sewa apartemen." Melinda menatapnya, rasa iba mulai muncul. "Kau tak punya teman?" tanyanya pelan. Xander diam sesaat, lalu mengangguk cepat. "Tidak ada siapa pun. Jadi, adopsi aku, Baby." Melinda menarik napas dalam, lalu menatapnya dengan serius. "Baiklah. Aku akan membiarkanmu tinggal di rumahku sampai kau sembuh… sebagai tanda terima kasih." Mata Xander berbinar. Senyum lebarnya kembali muncul. "Deal!" Melinda menatap Xander dengan tatapan curiga. "Kenapa aku merasa ada yang tidak beres dari pria ini?! Dia ... kenapa seperti terobsesi untuk tinggal bersamaku?" batinnya dalam hati. Apalagi, melihat wajah Xander yang tadi tampak sedih, berubah sumringah setelah ia mengijinkannya tinggal. Namun, Melinda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa mencurigainya sekarang. Dia terluka karena aku," ujar Melinda lagi, dalam hati. "Aku akan tetap mengawasi pria licik ini." *** Sementara itu di sisi lain, Naina mengepalkan tangannya. "Bisa-bisanya mereka mengembalikan uangnya daripada melukai Melinda!" teriaknya. "Melinda, apa yang sebenarnya dia lakukan?! Dia bahkan tidak bisa bela diri, lalu kenapa mereka takut?!" "Aku tidak akan membiarkan ini. Melinda harus diberi pelajaran, supaya dia paham bahwa Naina tidak akan membiarkan miliknya terusik!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD