Hari itu Melinda pulang larut malam karena harus lembur. Gedung kantor sudah sepi, hanya ada suara langkah kakinya yang bergema di parkiran bawah tanah yang remang.
Ia berjalan cepat menuju mobilnya, karena merasa ada yang tidak beres. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Benar saja, suara langkah kaki lain terdengar di belakangnya. Melinda menoleh dan melihat ada dua pria bertubuh kekar dan bertato sedang berjalan ke arahnya.
“Kalian siapa?” tanyanya waspada.
Salah satu pria itu menyeringai. “Kamu tidak perlu tahu siapa kami. Ikut saja dengan baik-baik.”
Melinda mendengus. “Tidak.”
Pria itu mendekat dan hendak meraih tangannya, tapi Melinda lebih cepat. Ia mengangkat kakinya dan menendang perut pria itu dengan heels runcingnya.
“ARGH!” pria itu mengaduh, memegangi perutnya.
Namun, temannya yang lain langsung menarik rambut Melinda dari belakang dan menjambaknya kasar.
“Sialan! Berani melawan, ya?”
Melinda tersentak, rasa sakit menjalari kulit kepalanya. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi pria itu lebih kuat.
PLAK!
Sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Pandangan Melinda berputar-putar, kepalanya terasa berat. Ia meraba pipinya yang nyeri.
“Siapa kalian sebenarnya?” suaranya bergetar.
Pria itu terkekeh. “Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti, kami hanya menjalankan perintah bos kami.”
Bos mereka?
Melinda digiring menuju sebuah jeep hitam yang diparkir di sudut parkiran. Ketika salah satu pria itu membuka pintu mobil, tiba-tiba—
BUK!
Seseorang menendang pria itu hingga tersungkur.
Melinda jatuh terduduk di lantai, menatap pria yang baru saja datang itu.
“Siapa kau?” Preman yang tersisa berteriak.
Pria itu tersenyum miring. “Aku? Kau tidak perlu tahu siapa aku.”
Melinda terbelalak. Ia mengenali suara itu.
Xander.
Xander menggerakkan bahunya santai, lalu menatap para preman itu dengan ekspresi malas. “Jujur saja, aku tidak suka kekerasan, tapi kalau sudah berurusan dengan wanitaku, aku tidak bisa tinggal diam.”
Salah satu preman menggeram dan langsung menyerang. Tapi Xander dengan mudah menghindari pukulan itu, berputar, lalu melayangkan sikunya ke dagu pria itu.
BUK!
Pria itu terhuyung ke belakang.
Preman satunya ikut menyerang. Xander menunduk, menghindari pukulan, lalu menghantam perut pria itu dengan lututnya.
Pertarungan itu tak luput dari pandangan Melinda yang masih buram akibat pukulan tadi. Ia mengucek matanya, memastikan apakah ini benar-benar nyata.
“Apa yang pria bodoh itu lakukan?” gumamnya.
Tangan Melinda meraba tasnya dan mengeluarkan ponsel. Dengan cepat, ia menghubungi pihak keamanan.
Sementara itu, Xander masih sibuk bertarung. Dua lawan satu memang tidak mudah, apalagi mereka preman bayaran.
Sampai akhirnya—
Bugh!
Sebuah pukulan telak mendarat di rahang Xander. Pria itu terjatuh, terduduk di lantai dengan napas tersengal.
Salah satu preman tertawa sinis. “Hanya segini kemampuanmu?”
Temannya menambahkan, “Dasar pecundang.”
Mereka kembali menatap Melinda.
“Ayo, kita tidak punya waktu meladeni pria lemah ini.”
Saat mereka hendak menyeret Melinda lagi, tiba-tiba—
Xander bangkit.
Preman itu terkejut.
Xander melangkah pelan, tubuhnya sedikit goyah, tapi matanya memancarkan tatapan tajam. Dalam satu gerakan cepat, ia melayangkan pukulan ke pria yang tadi mengejeknya.
BUGH!
Pria itu langsung ambruk, tak sadarkan diri.
Preman yang tersisa semakin murka. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
Melinda membelalak. “Tidak! Jangan!” teriaknya.
Tapi terlambat.
Pisau itu menancap di perut Xander.
Melinda menahan napas. Dunianya terasa berhenti.
Mata Xander membelalak, lalu perlahan sayu. Tangannya yang tadi mengepal mulai turun, sementara darah segar merembes membasahi kemejanya.
Preman itu menyeringai puas. “Lihatlah siapa yang sekarang jadi pecundang.”
Tapi Xander justru tersenyum miring. “Kau menusukku … dan kau pikir itu cukup?”
Melinda ingin berteriak. "Pria ini sudah gila!"
Preman itu kembali mengangkat pisaunya, hendak menyerang lagi.
Tapi Xander lebih cepat.
Dengan sisa tenaganya, ia meraih tangan si preman, memelintirnya hingga pisau itu terlepas. Lalu—
BUK!
Xander menghantamkan tinjunya ke wajah pria itu, membuatnya ambruk.
DUAR!
Terdengar suara tembakan dari jauh. Petugas keamanan akhirnya tiba, membawa serta beberapa polisi bersenjata.
Melinda langsung berlari ke arah Xander yang kini terhuyung-huyung.
“Bodoh! Kau kena tusuk, kenapa masih mengomel!”
"Aku hanya ingin ... memastikan ... kau aman. Meskipun ... aku mati," katanya dengan tersendat
“Kalau bukan i***t, kenapa masih bisa bercanda dalam keadaan begini?!” Melinda memeluk tubuhnya yang mulai kehilangan banyak darah. Ia menekan bagian luka tanpa berani mencabut pisau yang menancap
Langkah kaki para petugas semakin mendekat.
Xander menggenggam pergelangan tangan Melinda lemah.
“Mel…” suaranya serak.
Melinda menunduk, jantungnya berdetak lebih cepat. "Apa? Kau harus bertahan, oke?!"
Xander tersenyum lemah. "Aku masih butuh seribu dolar lagi."
Melinda ingin mencekik pria ini. “BODOH! KAU NYARIS MATI!”
Tapi Xander hanya terkekeh sebelum kepalanya bersandar di bahu Melinda. Kesadarannya menghilang tepat saat ambulans tiba.
"Xander! Xander bangun! Xander!"
***
Darah masih mengalir dari luka di perut Xander ketika tim medis mendorong ranjang darurat menuju ruang operasi. Para dokter dan perawat bekerja cepat, memasang infus dan menekan luka untuk menghentikan perdarahan.
Melinda berjalan mengikuti dari belakang, matanya terpaku pada tubuh pria itu yang terbujur di atas ranjang dengan wajah pucat.
Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, perasaan gelisah menyelimuti d**a. Saat mereka mencapai pintu ruang operasi, seorang perawat menghadangnya.
"Maaf, Nona, Anda tidak bisa masuk. Kami akan melakukan operasi darurat."
Melinda membuka mulutnya, ingin membantah, tapi suaranya tercekat. Ia menatap Xander yang kini sudah dikelilingi dokter dan perawat. Pintu ruang operasi tertutup, meninggalkannya berdiri di luar dengan perasaan campur aduk.
Ia berjalan ke kursi tunggu di lorong rumah sakit dan menjatuhkan dirinya di sana. Tangannya meremas rok yang ia kenakan, sementara pikirannya terus mengulang kejadian tadi di parkiran.
"Kenapa dia harus ikut campur? Kenapa dia tidak lari saja?"
Melinda menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak. Xander memang menyebalkan, kekanak-kanakan, dan sering membuatnya frustrasi, tapi melihatnya dalam keadaan seperti ini membuatnya merasa tidak berdaya.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Tiga jam.
Melinda menatap layar jam di ponselnya, lalu menoleh ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Perasaan gelisahnya semakin menjadi-jadi. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di depan pintu operasi, lalu kembali duduk dengan gelisah.
Hingga akhirnya, setelah hampir empat jam, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah.
Melinda langsung berdiri. "Dokter, bagaimana keadaannya?"
Dokter melepas masker bedahnya dan tersenyum tipis. "Operasinya berjalan lancar. Beruntung pisaunya tidak mengenai organ vital, tapi dia kehilangan cukup banyak darah. Dia masih dalam pengawasan, tapi keadaannya stabil."
Melinda merasakan kakinya melemas. Perasaan lega begitu besar mengalir dalam dirinya hingga tanpa sadar air mata menggenang di matanya.
"Terima kasih, Dokter," bisiknya pelan.
"Dia akan dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi. Anda bisa melihatnya sebentar setelah dia sadar."
Melinda mengangguk, sementara hatinya terasa sedikit lebih ringan.
***
Pagi itu, Melinda memasuki ruang perawatan dengan langkah pelan. Aroma khas rumah sakit menyambutnya, bercampur dengan suara mesin monitor yang berbunyi pelan, menandakan detak jantung pasien yang masih stabil.
Di atas ranjang, Xander masih terbaring dengan mata terpejam. Wajahnya pucat, namun nafasnya teratur. Tangannya yang biasanya bergerak ke sana kemari dengan penuh energi kini terkulai lemah di sisi tubuhnya.
Melinda berdiri di tepi ranjang, menatap pria itu dalam diam.
"Hei, bodoh. Apa kau mendengarku?" tanya Melinda, berharap pria itu akan menyahut.
"Aku ... aku minta maaf. Karena aku, kau jadi begini," gumamnya pelan, suaranya bergetar.
Perasaan bersalah menggulung dirinya tanpa ampun. Melinda menatap wajah pria itu lebih lama. "Kenapa kau sebodoh ini?" bisiknya. "Seharusnya kau lari saja. Seharusnya kau tidak ikut campur. Kenapa kau malah bertingkah seperti pahlawan?"
Saat ia masih larut dalam pikirannya, seorang perawat masuk ke dalam ruangan dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Nona, ini ponsel milik pasien. Polisi menemukannya jatuh di lokasi kejadian."
Melinda mengalihkan perhatiannya dan menerima ponsel itu. Layar kacanya sudah retak, tetapi masih menyala.
"Terima kasih," ucap Melinda singkat.
Perawat itu mengangguk sebelum keluar dari ruangan. Melinda menatap ponsel Xander di tangannya. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
"Apa aku harus menghubungi keluarganya?"
Ia menghela napas, lalu menyalakan layar ponsel itu. Jari-jarinya bergerak membuka daftar kontak. Namun, saat melihat isinya, matanya menyipit.
Hanya ada dua kontak tersimpan.
"Aku" dan "Melinda."
Melinda membeku.
"Apa...?"
Hanya dua kontak? Itu berarti...
Ia menelan ludah. "Kau hanya menyimpan nomorku?"
Melinda menggigit bibirnya. Tidak ada kontak ayah, ibu, saudara, atau bahkan teman. Tidak ada siapa-siapa di dalam daftar kontaknya selain dirinya sendiri.
Dadanya terasa sesak.
"Kau benar-benar sendirian?" bisiknya. "Kau tidak punya siapa-siapa?"
Ia menatap Xander yang masih tertidur. Wajah pria itu terlihat begitu tenang, tapi Melinda kini melihatnya dengan perspektif berbeda. Xander, pria menyebalkan yang selalu mengganggunya, ternyata tidak punya siapa-siapa. Tidak ada keluarga yang bisa ia hubungi untuk memberi kabar.
Sekali lagi, rasa bersalahnya semakin dalam.
Sebelum Melinda sempat berpikir lebih jauh, ponselnya sendiri tiba-tiba berdering. Ia melihat nama asistennya muncul di layar.
Ia menghela napas, lalu mengangkatnya.
"Ya?"
"Nona Melinda, Anda harus segera datang. Rapat akan dimulai dalam dua puluh menit."
Melinda menoleh ke arah Xander sekali lagi, lalu mengangguk pelan.
"Baik, aku akan segera ke sana."
Setelah menutup telepon, ia meletakkan ponsel Xander di atas meja kecil di samping ranjangnya.
Ia melangkah pergi, namun sebelum benar-benar keluar, ia kembali menatap tubuh Xander yang lemah.
"Tolong cepat sadar..." gumamnya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.