Bab 7. Ancaman Naina

1333 Words
Saat Melinda baru saja masuk ke ruang kerjanya, suara langkah kaki terdengar mengikuti di belakangnya. "Kenapa kau terus mengikutiku?!" teriaknya, menoleh dengan tajam. Xander berdiri di ambang pintu dengan senyum menyebalkan khasnya. Tanpa diundang, ia berjalan masuk, lalu menjatuhkan diri dengan santai di atas sofa panjang di sudut ruangan. "Aku merasa kita masih punya urusan yang belum selesai." Melinda mengembuskan napas kasar, mencoba mengendalikan emosinya. Ia berjalan ke meja kerjanya, melempar tasnya ke atas meja, lalu berbalik menghadap Xander yang duduk santai dengan kaki bertumpu di sandaran sofa. "Apa maumu sebenarnya?" tanyanya dengan nada jengkel. Xander melipat tangannya di belakang kepala, bersandar dengan ekspresi puas. "Aku menunggu jawabanmu." Melinda mengerutkan kening. "Jawaban apa?" "Jadikan aku priamu." Jantung Melinda hampir melompat keluar dari dadanya. Ia masih belum terbiasa mendengar Xander mengatakannya dengan begitu santai, seolah meminta secangkir kopi di pagi hari. "Apa kau buta? Aku sudah menolak!" katanya sambil mendelik kesal. Xander menyeringai, "Kau tidak menolak. Kau pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku." Melinda mendesah keras. "Oh my God! Kenapa kau menyebalkan sekali?! Pergi dari ruanganku!" Xander hanya mengangkat bahu. "Tidak mau." "Sialan!" "Jawab dulu. Iya atau tidak?" "TIDAK!" seru Melinda tanpa berpikir dua kali. Ruangan mendadak sunyi. Atmosfer yang awalnya ringan berubah menjadi tegang dalam sekejap. Xander yang biasanya santai, kini menatap Melinda dengan sorot mata tajam. Tatapan itu begitu menusuk dan mengintimidasi, seperti mata elang yang sedang mengunci mangsanya. Melinda merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menelan ludah, berusaha mengendalikan kegugupannya. Xander bangkit dari sofa dan berjalan mendekat. Melinda mundur selangkah. Namun, pria itu terus mendekat dengan langkah perlahan tapi pasti, sampai akhirnya mereka berdiri hanya beberapa inci saja. "Apa yang kau lakukan?" suara Melinda bergetar sedikit, meskipun ia mencoba untuk tetap terdengar tegar. Xander menyeringai sebelum tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggang Melinda dan menariknya mendekat. "Kau masih berhutang seribu dolar." Melinda membelalakkan mata. "Apa?!" Xander mengangguk serius. "Bukan hanya kau yang punya masalah di dunia ini, tahu? Aku harus membayar hutang pada rentenir. Jadi, segera bayar aku sebelum besok aku berubah menjadi mayat." Melinda yang semula gugup karena mengira Xander akan melakukan sesuatu yang tidak pantas, kini merasakan amarahnya membuncah. Ia mengangkat tangannya, siap melayangkan tamparan, tapi gerakannya terhenti tepat di depan wajah pria itu. Xander berkedip polos, menunggu dengan ekspresi menyebalkan. Akhirnya, bukannya menampar, Melinda hanya menoyor kepala Xander dengan telunjuk. "Kau... aku akan membunuhmu!" Xander tertawa pelan. "Tolong jangan, aku masih ingin hidup." Menghela napas panjang, Melinda berjalan ke meja kerjanya, mengambil dompet dari dalam tasnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus dolar dan menyodorkannya ke Xander. Xander menerima uang itu dengan wajah sumringah. "Akhirnya! Aku bisa makan enak hari ini!" katanya dramatis. Melinda menggelengkan kepala, setengah tak percaya bahwa pria ini benar-benar seabsurd ini. "Pergi dari sini, dan jangan pernah temui aku lagi," katanya tegas. Xander memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu menatap Melinda dengan senyum lebar. "Baiklah. Tapi kalau kau butuh aku, nomorku masih yang lama, oke?" Setelah mengedipkan mata jahil, Xander berbalik dan melangkah santai keluar dari ruangan. Melinda menghembuskan napas lega begitu pria itu benar-benar pergi. Ia duduk di kursinya, memijat pelipisnya. "Kenapa dia begitu senang mendapatkan uang itu?!" gerutunya sendiri. Lalu, ia mendengus sinis. "Orang-orang miskin memang selalu gila dengan uang yang tidak seberapa itu, bukan?" Namun, saat mengingat kembali sorot mata tajam Xander sesaat sebelum dia berubah menjadi pria menyebalkan itu lagi, entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan... Pria itu mungkin tidak semiskin yang ia kira. "Auranya seperti ... bukan orang biasa. Apa mungkin dia ... seorang vampir?" *** Di sebuah gedung perkantoran megah, suara pecahan kaca menggema di dalam sebuah ruangan yang berantakan. Meja yang biasanya tertata rapi kini penuh dengan kertas-kertas yang berserakan. Laptop yang tadinya terletak dengan anggun di atas meja kini sudah jatuh ke lantai, layar retaknya memperlihatkan bukti kemarahan yang meledak-ledak. Darco berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang mendidih di dalam dirinya. Tangannya terkepal kuat, matanya merah karena emosi yang membakar pikirannya. "Sialan! Sialan!" teriaknya seraya menyapu semua barang yang ada di atas meja ke lantai. "Bagaimana bisa Melinda begitu mudah melupakanku? Bagaimana bisa wanita itu, yang selama ini begitu mencintaiku, kini sudah ada di pelukan pria lain?" Pria b******k yang bahkan tidak dikenalnya! Darco tidak bisa menerima ini. Tadi pagi, saat melihat Melinda di lobi hotel, ia masih yakin bahwa wanita itu belum move on darinya. Ia tahu Melinda masih menyimpan dendam, masih marah, dan itu artinya masih ada perasaan. Namun, saat pria itu—Xander—tiba-tiba muncul dan memeluk Melinda dan mengatakan dia memang kekasihnya, sesuatu dalam diri Darco seakan meledak. "Melinda milikku! Dia tidak bisa dengan pria lain!" Ia mengayunkan tinjunya ke dinding dengan keras. Rasa sakit menjalar ke tangannya, tetapi tidak sebanding dengan luka yang ia rasakan di dalam dadanya. Darco menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Tapi bayangan wajah Melinda yang begitu tenang saat bersama pria itu membuat amarahnya semakin menjadi. "Aku bersumpah, Melinda. Aku akan membuatmu menyesal telah melupakanku begitu saja. Aku ... aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi milik orang lain. Kalau perlu, aku akan melenyapkan pria itu!" Sebuah senyum penuh dendam terbentuk di wajahnya. Jika Melinda berpikir bisa lari darinya, maka ia akan memastikan wanita itu tidak akan bisa berbahagia dengan pria lain. Tidak akan pernah. "Kau salah karena bermain-main denganku, Melinda. Kau tahu betul, siapa aku dan seperti apa diriku!" Pintu ruang kerja itu terbuka dengan cepat, dan seorang wanita dengan gaun mewah berwarna krem masuk dengan langkah tergesa-gesa. Naina terkejut saat melihat keadaan ruangan yang porak-poranda. Kertas-kertas berserakan, laptop pecah di lantai, dan vas bunga yang biasanya menghiasi meja kini sudah tergeletak dalam keadaan hancur. "Darco?" suara Naina terdengar waspada, matanya menatap suaminya yang berdiri dengan napas terengah-engah, kepalan tangannya memerah akibat meninju dinding. Darco menoleh dengan tatapan penuh kemarahan. Saat melihat Naina berdiri di sana, emosinya semakin meledak. "Apa lagi yang kau lakukan di sini?" bentaknya dengan suara keras. "Lancang sekali kau masuk ke ruanganku!" Naina mengerutkan kening, mendekat dengan hati-hati. "Aku datang untuk menemuimu dan mendengar suara gaduh dari luar. Darco, apa yang terjadi di sini? Kenapa kau menghancurkan kantormu sendiri?" Alih-alih menjawab, Darco justru mendengus sinis dan menatap Naina dengan tatapan penuh kebencian. "Kenapa?" Darco mengulang pertanyaan itu dengan nada mengejek. "Aku akan memberitahumu kenapa! Ini semua terjadi karena kau!" Naina tersentak, matanya melebar. "Aku? Apa maksudmu?" Darco melangkah mendekat, wajahnya merah padam oleh emosi. "Ini semua kesalahanmu, Naina!" teriaknya. "Kau yang membuat semuanya berantakan! Kau yang menghancurkan hidupku! Kau yang menjebakku malam itu!" Naina mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. "Darco, kau berbicara apa? Aku tidak menjebak siapa pun!" "Omong kosong!" Darco menggebrak meja dengan keras. "Kalau bukan karena kau, aku tidak akan kehilangan Melinda! Aku tidak akan terjebak dalam pernikahan sialan ini! Kau pasti merencanakan semuanya dengan sengaja!" Mata Naina memanas, tapi ia berusaha mempertahankan ketenangannya. "Jadi ini tentang Melinda? Kau menyesali pernikahan ini?" Darco tertawa sinis. "Menyesal? Tentu saja! Kau pikir aku bahagia menikah denganmu? Tidak, Naina! Aku bahkan tidak pernah mencintaimu!" Ucapan itu seperti belati yang menusuk hati Naina. "Lalu, bagaimana dengan anak kita?" suaranya bergetar. Darco menatapnya tajam. "Anak itu? Apa kau yakin, anak itu adalah anak kita? Maksudku ... anakku juga?" Naina mengepalkan tangannya, dadanya sesak oleh rasa sakit dan kemarahan. "Apa maksudmu, Darco?! Jelas-jelas ini anak kita. Aku hanya pernah tidur denganmu." "Pembohong!" teriak Darco. "Kau w************n. Bahkan, aku tidak melihat bekas noda darah di sprei malam itu. Artinya apa?! Kau bukan hanya pernah tidur denganku!" "Kau benar-benar jahat, Darco," katanya dengan suara bergetar. "Kau jahat telah menuduhku yang tidak-tidak. Padahal, aku hanya pernah tidur denganmu. Kau yang merenggut kesucianku!" Darco tidak menjawab. Ia hanya menatap Naina dengan tatapan penuh kebencian, seakan ingin menekankan bahwa ia benar-benar menyesali pernikahannya. Naina menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Setelah beberapa detik hening, ia menghela napas panjang, lalu berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah tegas. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi dan berkata dengan suara dingin, "Jika kau berpikir aku yang menghancurkan hidupmu karena kau tidak bisa melihat Melinda, maka bersiaplah, Darco. Aku tidak akan membiarkan Melinda menghalangi pernikahan kita!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD