Keesokan paginya, Melinda berangkat ke kantor seperti biasa. Ia mengenakan setelan blazer warna hitam dengan rok pensil senada, rambutnya ditata rapi dalam sanggul rendah, dan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Dari luar, ia tampak anggun dan tenang, seperti Melinda biasanya.
Namun, sesampainya di lobi hotel tempat kantornya berada, langkahnya terhenti. Seorang pria berdiri di depan pintu masuk, wajahnya serius, matanya menatap lurus ke arahnya.
Darco.
Melinda mendengus, merasa muak hanya dengan melihat sosok itu. Tanpa membuang waktu, ia berjalan melewatinya tanpa memberikan sapaan, tetapi Darco segera menghalangi jalannya dengan berdiri di depan pintu kaca.
"Minggir!" Suara Melinda tajam, matanya menyipit di balik kacamata hitamnya.
"Melinda, aku mohon! Aku hanya ingin bicara sebentar," ucap Darco, suaranya terdengar lelah.
"Aku tidak punya waktu untuk b******n sepertimu," balas Melinda dingin, mencoba berjalan ke sampingnya, tetapi Darco kembali menghalanginya.
Dengan kesal, Melinda melepaskan kacamata hitamnya dan menatap Darco dengan penuh kebencian. "Aku bilang minggir, Darco!"
Darco mengusap wajahnya, tampak frustrasi. "Mel, kenapa kamu semarah ini? Aku sudah menjelaskan semuanya."
Melinda terkekeh sinis. "Kenapa aku marah? Kau serius bertanya itu?"
Darco menatapnya, terlihat sedikit ragu. "Aku tahu aku bersalah, tapi setidaknya kau bisa percaya padaku."
"Aku tidak tertarik mendengar kebohongan lain darimu." Melinda mendengus, melipat tangan di depan d**a. "Dulu, kau memohon cinta dan kepercayaanku. Aku memberikannya, dengan sepenuh hati. Dan bagaimana balasanmu? Kau mengkhianatiku, Darco. Bukan hanya berkhianat, tapi berselingkuh dengan adik tiriku sendiri. Bagaimana kau bisa sebrengsek itu?"
Darco menatapnya dalam-dalam, ekspresinya campuran antara penyesalan dan keputusasaan. "Mel, aku tidak pernah berniat menyakitimu."
"Oh, ya? Jadi apa yang akan kau jelaskan sekarang? Apa kau tidur dengan Naina hanya karena kecelakaan?"
"Itu benar! Aku tidak ingat apa yang terjadi malam itu! Aku mabuk, aku tidak sadar, tahu-tahu aku bangun dan—"
"Aku sudah muak mendengar itu dan kau sudah menghancurkan hidupku," potong Melinda cepat. "Aku tidak peduli apakah kau sadar atau tidak. Yang jelas, kau melakukannya. Dan sekarang, kau bahkan menikahinya!"
Darco terdiam. Wajahnya terlihat semakin lelah. "Aku menikahinya karena tekanan keluarga, Mel. Berapa kali aku harus mengatakannya? Aku tidak mencintainya. Aku tidak pernah mencintainya."
Melinda mengangkat alisnya. "Jadi kau pikir aku akan simpati? Kau mengharapkan aku kembali ke pelukanmu, sementara Naina sedang mengandung anakmu? Astaga, kau benar-benar pria paling egois yang pernah kutemui."
Darco menggenggam pergelangan tangan Melinda dengan erat, suaranya mulai bergetar. "Aku tidak ingin kehilanganmu, Melinda. Aku masih mencintaimu."
Melinda tertawa hambar. "Kau mencintaiku? Sungguh? Setelah semua ini?"
Darco mengangguk, matanya menunjukkan ketulusan yang membuat Melinda semakin muak.
"Aku akan menceraikan Naina begitu anak itu lahir. Aku janji."
Melinda mencibir. "Dan kau pikir aku akan menunggumu? Kau pikir aku akan menerima sisa-sisa pernikahanmu yang gagal? Aku bukan wanita bodoh, Darco."
"Aku tahu, tapi kau masih mencintaiku!"
"Aku sudah muak denganmu!" Melinda menepis tangannya dengan kasar. "Aku sudah selesai dengan masa lalu, Darco. Aku tidak peduli lagi."
Darco menggertakkan giginya. "Kalau begitu, kenapa kau tidur dengan pria lain?"
Mata Melinda berkilat. "Apa urusanmu? Aku bisa tidur dengan siapa pun yang aku mau."
"Tentu saja itu urusanku!" seru Darco, suaranya meninggi. "Aku tidak rela kau bersama pria lain!"
Melinda mendekat, nyaris menempelkan wajahnya ke wajah Darco. Dengan suara pelan tapi tajam, ia berbisik, "Kau tidak punya hak untuk rela atau tidak, Darco. Aku bukan milikmu lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Melinda melangkah pergi, meninggalkan Darco yang terdiam, penuh dengan amarah dan ketidakberdayaan.
Darco mengepalkan tangannya, kemudian ia berteriak dengan penuh amarah. "Kau melakukan itu hanya untuk memanas-manasiku! Kau tidak benar-benar tidur dengan pria lain karena sudah move on dariku!"
Langkah Melinda terhenti. Rahangnya mengeras saat ia menoleh, menatap Darco dengan penuh kebencian.
Melihat reaksinya, Darco tersenyum mengejek. "Seorang Melinda tidur dengan pria lain karena tidak bisa move on dari mantan kekasihnya? Itu akan menjadi headline news yang panas, Melinda."
Melinda mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Sungguh, pria ini tidak tahu kapan harus berhenti," batinnya yang gondok.
"Aku tidak akan melakukannya hanya karena dirimu. Bahkan, aku sudah lupa kalau aku pernah mencintaimu," balas Melinda dengan suara bergetar.
Darco menyeringai. "Kalau kau benar-benar sudah move on, buktikan padaku. Nikahi pria itu, supaya aku percaya!"
Melinda terdiam. Untuk pertama kalinya dalam pertengkaran mereka, ia tak bisa menemukan jawaban yang tepat. Kata-kata Darco menohok egonya. "Sialan!" Ia tidak bisa membiarkan pria b******k itu menang.
Melihat Melinda yang tak bisa menjawab, Darco semakin puas. "Lihat? Kau tidak bisa mengatakannya, karena kau tahu aku benar! Kau hanya ingin membuatku cemburu, hatimu masih milikku."
Namun, sebelum Melinda bisa membuka mulutnya untuk membalas, tiba-tiba seseorang melingkarkan lengan di pinggangnya dan mencium pipinya dengan santai.
CUP.
Baik Melinda maupun Darco, keduanya sama-sama terkejut. Melinda segera menoleh dan mendapati wajah menyebalkan itu lagi.
Xander.
Pria itu tersenyum lebar seperti rubah yang baru saja menemukan mangsanya. "Baby, aku menunggumu sejak tadi," katanya dengan nada manja.
Darco tersentak. Dengan cepat, ia mendekat dan menepis tangan Xander dari pinggang Melinda dengan kasar.
"Apa-apaan kau?!" bentak Darco.
Xander mengangkat alisnya, tampak santai dan tidak terganggu sama sekali. "Wush, santai saja, Sob. Kenapa kau begitu agresif?" tanyanya dengan nada tengil.
"Siapa kau?!" Darco menatapnya tajam.
Xander menyeringai. "Apa urusanmu?"
"Aku tanya, siapa kau? Berani-beraninya memeluk Melinda!"
"Kau tidak punya hak untuk bertanya," balas Xander dengan senyum tengilnya.
Tiba-tiba, Darco melayangkan pukulan ke arah Xander.
Xander mengusap bibirnya yang sedikit berdarah sambil tersenyum sinis. "Baby, siapa dia? Kenapa kau membiarkan pria gila ini masuk ke kantormu?" tanyanya pada Melinda, seolah Darco adalah orang asing yang tidak perlu dihiraukan.
Melinda masih terpaku, bingung dengan apa yang sedang terjadi. "Aku ... aku ...."
Xander kemudian mendekat, menatap mata Melinda dengan tatapan lembut dan penuh perhatian. Dengan jentikan jari, ia menyelipkan anak rambut Melinda ke belakang telinga, lalu mengusap pipinya dengan lembut.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya dengan nada perhatian yang dibuat-buat. "Apa kau ketakutan?"
Melihat itu, Darco semakin meradang. Ia mengangkat tinjunya lagi, siap memukul Xander untuk kedua kalinya.
Namun, kali ini, Xander lebih cepat.
Dengan gerakan lincah, Xander menendang perut Darco dengan keras, membuat pria itu tersungkur ke belakang.
"UGHH!" Darco mengerang kesakitan, jatuh terduduk di lantai marmer lobi hotel.
Beberapa orang yang berada di sekitar mereka mulai memperhatikan, bisik-bisik penasaran.
Xander melangkah mendekati Darco yang masih berusaha bangkit, lalu berkata dengan lantang, "Aku tidak mengerti kenapa kau begitu marah sekarang, tapi aku tekankan padamu. Kau tidak berhak untuk cemburu karena aku memeluk kekasihku!"
Melinda membelalakkan mata. "Kekasih? Sejak kapan aku jadi kekasihnya?" batin Melinda menjerit.
Darco menatap Xander dengan penuh kebencian. "Melinda tidak mungkin berkencan dengan pria seperti kau!"
Xander tersenyum miring. "Oh ya? Kau sangat yakin? Apa kau pikir, Melinda akan mau dengan pria pengecut sepertimu?"
"Kau hanya pengganti! Atau mungkin, kau hanya pelarian," seru Darco marah. "Aku mengenal Melinda lebih lama darimu! Aku tahu dia lebih dari siapa pun! Dia tidak akan berkencan dengan pria sepertimu!"
Xander terkekeh. "Begitu? Kalau begitu, kau pasti tahu bahwa dia bukan wanita yang suka menunggu pria tidak berguna seperti dirimu. Pergilah. Bukankah sekarang kau suami orang? Istrimu sedang hamil, tapi kau malah menggilai wanita lain."
Darco menggertakkan giginya. "Kau pikir kau lebih baik dariku?! Kau tidak tahu siapa aku? Siapa ayahku?"
Xander menunduk sedikit, menatap Darco dengan tatapan meremehkan. "Oh, apa kau juga tidak tahu siapa ayahmu? Pantas saja kau tumbuh dewasa tanpa tata krama."
Melinda yang sejak tadi diam, akhirnya mengambil alih kendali. Ia menarik Xander menjauh dari Darci.
"Apa-apaan kau ini?!" keluh Darco saat Melinda melepaskan cengkeramannya.
"Kau yang apa-apaan!" Ia menatap Xander dengan tajam. "Cukup. Kau tidak perlu ikut campur dalam urusanku."
Xander melirik Melinda, lalu tersenyum santai. "Ikut campur? Aku hanya membantumu memberikan jawaban untuk pria menyebalkan ini."
Melinda menatapnya curiga. "Dan kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk ‘membantu’? Aku bukan wanita lemah."
Xander menepuk bahunya sendiri dengan santai. "Karena aku pria baik hati yang tidak tahan melihat seorang wanita dalam masalah."
"Omong kosong."
Xander terkekeh. "Terserah kau percaya atau tidak. Tapi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"
Melinda menyipitkan mata. "Kesepakatan apa?"
Xander mendekat, berbisik di telinganya, "Biarkan aku berpura-pura jadi pacarmu. Aku akan membuat Darco yakin kalau kau benar-benar sudah melupakannya. Sebagai gantinya, kau membayarku dengan makan malam mewah selama satu bulan."
Melinda terbelalak. "Kau gila."
Xander tersenyum lebar. "Aku serius. Kesepakatan ini akan menguntungkan kita berdua. Aku bisa makan enak tanpa jual diri, dan kau bisa membuat b******n itu berhenti mengganggumu."