Bab 14. Misi Menguras Harta

1009 Words
Vita keluar dari ruangan Melinda sambil menyesap kopi. Namun, baru saja ia hendak kembali ke meja kerjanya, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Melinda sedang menyeret seorang pria dengan cara menjewer telinganya. “Nona, dia siapa?” tanya Vita, bingung sekaligus terkejut. "Kenapa Anda —" Melinda tidak menjawab, hanya melirik sekilas sambil tetap menyeret pria itu. “Minggir,” katanya tegas. Vita terdiam, menatap pria tampan yang sedang meringis kesakitan itu. Melinda menatapnya dengan perasaan muak. "Vita, apa kau tuli?! Aku bilang minggir!" Vita langsung memberi jalan dengan tatapan bertanya-tanya. Pria yang dijewer itu merintih kesakitan. “Hei, aku ini korban kekerasan! Para saksi, tolong aku!” keluhnya dramatis. "Tolong, laporkan ini ke kantor polisi. Aku tidak ingin dimutilasi!" Melinda tidak peduli. Ia menyeret pria itu masuk ke dalam ruangannya, lalu membanting pintu. Xander mengelus telinganya yang kini memerah. “Padahal aku cuma ingin berkenalan dengan beberapa karyawanmu, tapi kenapa malah dijewer?” katanya dengan nada protes. Melinda berkacak pinggang dengan ekspresi penuh amarah. “Berkenalan? Apa kau pikir ini taman bermain? Atau bahkan mau berpikir ini adalah bar tempatmu menjajakan diri?! Ini kantor, dasar makhluk menyebalkan!” "Wow, aku terluka dengan kata-katamu itu, Nona!" Xander memasang wajah polos. “Aku hanya ingin berbaur, bersosialisasi. Itu penting dalam membangun relasi, tahu?” Melinda mendengus. “Relasi apanya?! Kau menggoda orang-orang, merayu resepsionis, bahkan membuat beberapa karyawan wanita terpesona. Aku mendengar semuanya, Xander! Kau pikir aku tuli?” Xander menyeringai. “Apa salahnya? Bukankah itu membuktikan pesonaku masih tajam?” Melinda ingin membanting sesuatu. Ia benar-benar merasa kepalanya nyaris meledak. “Xander! Kau ingin ikut aku bekerja atau sedang ikut kontes pria tampan?!" Xander terkekeh santai. “Yah, siapa tahu ada yang tertarik menjadikanku suami, kan?” “ARGH!” Melinda mengacak-acak rambutnya frustasi. “Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku membawamu ke sini!” Xander mengedipkan mata dengan wajah tanpa dosa. “Karena kau menyukaiku.” Melinda terdiam sejenak sebelum melemparkan bantal kursi ke wajah Xander. “Keluar dari kantorku sebelum aku benar-benar kehilangan akal sehat!” Xander menangkap bantal itu dengan cekatan, lalu menyeringai. “Tidak mungkin. Aku akan tetap di sini, karena aku tidak mau ditinggal sendirian.” Melinda menatapnya tajam. “Kau ini anak kecil atau apa?!” Xander merajuk, bersedekap sambil duduk di sofa. “Kalau aku anak kecil, aku tidak akan semempesona ini.” Melinda benar-benar ingin menangis. Ia baru sadar, membawa Xander ke kantor adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Melinda duduk di kursinya dengan wajah yang sudah lelah menghadapi Xander sejak pagi. Kepalanya berdenyut karena ulah pria itu yang terus-menerus mengganggu pekerjaannya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi, lalu berpikir keras. "Apa yang biasanya dilakukan wanita yang memelihara pria simpanan?" gumamnya pelan. Otaknya berputar cepat. Berdasarkan drama yang pernah ditontonnya, biasanya wanita simpanan suka menghabiskan waktu untuk berbelanja. Ia menoleh ke arah Xander yang masih bersandar santai di sofa dengan ekspresi puas seolah dia pemilik ruangan ini. Tanpa berpikir panjang, Melinda membuka dompetnya, mengeluarkan sebuah black card, dan meletakkannya di atas meja. Xander melirik kartu itu dengan mata berbinar. "Apa ini?" tanyanya penuh antusias. Melinda melipat tangan di depan d**a. "Kartu ajaib yang bisa membuatmu menghilang dari kantorku untuk beberapa jam." Xander mengambil kartu itu dengan cepat dan menggenggamnya erat seolah itu harta karun. "Aku bisa beli apa saja?" Melinda mengangguk. "Apa saja, asal kau kembali satu jam sebelum jam kerja berakhir." Xander tersenyum lebar. "Baik, Nona Pemarah! Aku akan segera kembali dengan barang-barang mewah yang membuatku terlihat lebih berkelas!" Sebelum Melinda sempat membalas, Xander sudah melesat keluar ruangan dengan langkah penuh semangat. Melinda menghela napas panjang, menyesali keputusannya. "Ya Tuhan, aku harap aku tidak membuat keputusan yang lebih buruk lagi..." gumamnya, sebelum kembali mencoba fokus bekerja. Xander keluar dari ruangan dengan langkah ringan dan wajah berbinar. Black card itu terasa begitu nyaman dalam genggamannya, seolah dunia kini berada di bawah kakinya. Ia menatap kartu itu dengan tatapan penuh janji. "Aku bersumpah akan membuatmu jatuh miskin, Melinda Brown," ucapnya dalam hati dengan seringai licik. Langkahnya semakin cepat menuju lift, pikirannya dipenuhi daftar barang mewah yang akan segera menjadi miliknya. Jas branded, jam tangan mahal, sepatu kulit berkualitas tinggi, parfum eksklusif, bahkan mungkin mobil sport kalau bisa! Begitu pintu lift terbuka, beberapa karyawan wanita yang sedang menunggu langsung terperangah melihat pria tampan itu keluar dari ruangan bos mereka. "Heh, siapa dia?" bisik salah satu karyawan. "Gila, ganteng banget! Tapi kenapa dia keluar dari ruangan Nona Melinda?" Xander menoleh dan langsung memberikan senyuman mautnya. "Hai, nona-nona cantik. Aku Xander. Senang bertemu dengan kalian," sapanya dengan suara lembut dan menggoda. Karyawan wanita itu langsung tersipu. Namun, Xander tidak bisa berlama-lama. Ia melangkah keluar dengan percaya diri, siap menaklukkan pusat perbelanjaan dan menguras harta Melinda! *** Melinda menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menghela napas panjang dengan lega. Untuk pertama kalinya sejak pagi, suasana terasa lebih damai tanpa suara rengekan dan ocehan Xander yang terus-terusan membuat kepalanya pening. Tanpa membuang waktu, ia menekan tombol interkom. “Vita, masuk.” Tak lama kemudian, pintu terbuka dan sekretarisnya melangkah masuk dengan tablet di tangan. “Ya, Nona?” Melinda duduk tegak dan merapikan rambutnya. “Bacakan jadwal hari ini.” Vita menelusuri layar tablet sebelum mulai berbicara. “Pukul 10 pagi, Anda memiliki rapat dengan tim pemasaran untuk membahas strategi produk baru. Setelah itu, makan siang dengan klien dari Singapura pukul 12 siang di restoran Gardenia. Pukul 2 siang, pertemuan dengan divisi keuangan untuk laporan bulanan." Melinda menghela napas. “Padat sekali.” Vita mengangguk. “Tapi semuanya masih bisa dikelola. Saya sudah menyiapkan dokumen untuk setiap pertemuan.” Melinda tersenyum kecil. “Terima kasih, Vita. Setidaknya, hari ini akan berjalan lancar tanpa gangguan...” Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, ponselnya tiba-tiba bergetar dengan keras. Ia meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar: Xander. Darahnya langsung naik ke ubun-ubun. Apa lagi sekarang?! Vita menatap Melinda. "Nona, mengenai pria tadi, apa Anda mengenalnya? Maksud saya, saya belum pernah melihat pria itu. Jadi—" . "Aku mengenalnya. Dia pria yang menyebalkan, tapi bukan musuh. Lalu, apa informasi yang kau dapatkan tentang kejadian di parkiran?" "Pelaku penusukan Anda adalah ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD