Bab 15. Menghabiskan Harta Tujuh Turunan

1004 Words
Di halaman rumah, Diandra dan Naina duduk menikmati teh sore mereka di bawah naungan gazebo mewah. Aroma mawar dari taman yang terawat menyebar lembut di udara, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan. Namun, ketenangan itu segera terganggu ketika suara mesin mobil bertenaga besar memasuki pekarangan. Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depan pintu utama. Kendaraan itu bukan sekadar mahal, tapi langka dan hanya dimiliki oleh segelintir orang di dunia. Diandra mengerutkan kening. "Siapa yang datang? Setahuku, Jacob tak pernah bilang akan membeli mobil seperti itu." Naina juga menoleh, menyesap tehnya dengan santai sebelum akhirnya menaruh cangkirnya dengan kasar. "Mungkin tamu ayah? Tapi, bukankah ayah tidak di rumah?" Diandra menganggukkan kepala. "Ayahmu sedang ke asia tenggara. Dia ada meeting dengan klien." "Lalu, siapa yang datang?" tanya Naina. "Ayo, kita lihat!" Pintu mobil terbuka, dan sosok yang mereka benci melangkah keluar dengan angkuh. Xander, dengan kemeja putih mahal yang bagian atasnya sengaja tidak dikancingkan, celana panjang branded, dan sepatu kulit asli, berjalan dengan percaya diri. Kacamata hitam yang bertengger di wajahnya membuatnya terlihat semakin tengil. "HAH?!" Naina hampir tersedak. "Kenapa dia ... dia ... Ibu, apa aku mimpi?" Diandra langsung bangkit dari duduknya. "Apa-apaan ini?! Kenapa kau—" Xander melepaskan kacamata hitamnya, tersenyum santai. "Wah, wah, wah. Kenapa ekspresi kalian seperti melihat hantu? Tidak menyangka aku bisa sekeren ini, ya? Biasa saja!" Diandra mencengkeram gaunnya dengan erat, matanya menajam penuh amarah dan—kalau boleh jujur ia iri. "Dari mana kau dapat mobil ini?" Xander menyandarkan tubuhnya ke mobil dengan angkuh. "Oh, ini? Melinda memberiku kartu hitamnya, jadi aku menikmatinya sedikit." "APA?!" Diandra hampir berteriak. "Kau bercanda, kan?! Itu tidak mungkin!" Xander dengan santai mengeluarkan kartu hitam Melinda dari dalam dompet. "See?! Dia memang memberikannya!" "Melinda memberikanmu black cardnya?! Padahal aku hanya diberi lima ribu dolar setiap bulan? Ini tidak adil." Xander mengangkat bahu santai. "Oh, hanya lima ribu? Itu bahkan tidak cukup untuk sepatuku." Ia mengangkat kakinya sedikit, memperlihatkan sepatu kulitnya yang jelas-jelas lebih mahal dari uang bulanan Diandra. "Lihatlah, Nona dan Nyonya! Sepatu dari kulit gajah angkasa ini sangat langka dan harganya sangat mahal. Mungkin, harga diri kalian tidak ada lima persen darinya!" Wajah Diandra memerah karena marah. Ia menggertakkan giginya, tangannya gemetar menahan emosi. "Anak itu … berani sekali memperlakukan ibu tirinya seperti ini?! Kenapa pria seperti kau malah bisa menghambur-hamburkan uangnya?!" Xander terkekeh, mendekati mereka dengan santai. "Yah, bagaimana ya ... mungkin Melinda lebih sayang padaku dibanding kalian?" Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Naina, menatapnya dari atas ke bawah. "Bahkan aku rasa aku lebih disayang daripada adik tirinya sendiri." "KAU b******n!" Naina melompat dari kursinya, wajahnya merah padam. "Aku yakin kau hanya memperdaya Melinda! Kau pasti menipunya!" Xander berpura-pura berpikir, menepuk dagunya dengan jari. "Hmmm, menipu? Tapi kalau dia memberiku semuanya dengan suka rela, masih disebut menipu? Aku rasa dia jauh lebih percaya padaku dibandingkan kelurahan sendiri!" Diandra benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi. "Melinda pasti sudah kehilangan akal sehatnya! Pria seperti kau seharusnya diusir dari rumah ini!" Xander malah tertawa, bertepuk tangan dengan penuh kepuasan. "Ya ampun, aku baru datang dan sudah disambut dengan kehangatan seperti ini. Luar biasa." "Lihat saja nanti!" Diandra mendesis. "Aku akan bicara pada Jacob! Kau akan diusir dari rumah ini secepatnya!" Xander pura-pura panik, menempelkan tangannya ke d**a. "Oh tidak, aku takut sekali! Tapi ...." Ia menyeringai. "Sayangnya, aku punya Melinda di pihakku. Kalian hanya bisa menggigit jari." Diandra dan Naina benar-benar mendidih dalam amarah, tapi Xander hanya terkekeh puas. Ia membuka pintu mobilnya lagi dan mengeluarkan beberapa kantong belanja bermerk. "Oh iya, sebelum lupa ... kalian mau lihat belanjaanku?" Xander mengangkat kantong belanjanya satu per satu dengan ekspresi penuh kemenangan. "Ah, ini jas dari merek ternama ... Ini jam tangan limited edition ... dan ini—oh, ini parfum pria termahal di dunia. Bagaimana? Mau cium baunya?" "PERGI KAU, b******k!" Diandra dan Naina berteriak bersamaan. Xander hanya tertawa keras, benar-benar menikmati pemandangan ibu dan anak itu yang hampir meledak karena emosi. *** Naina menatap mobil sport hitam mengilap itu dengan penuh iri. Matanya berbinar penuh keinginan, sementara bibirnya mengerucut kesal. Ia mengalihkan pandangannya ke arah ibunya, menggenggam tangan Diandra dan mengguncangnya seperti anak kecil yang merengek minta mainan. "Ibu, aku juga mau mobil seperti itu!" rengeknya dengan suara manja. "Aku kan juga mau! Kenapa pria b******k itu malah mendapatkannya?!" Diandra yang masih diliputi amarah langsung menepis tangan putrinya. "Kau gila, Naina?! Aku ini miskin! Mana bisa aku membelikanmu mobil semahal itu?!" "Tapi, Bu—!" "Kalau kau mau mobil baru, minta saja pada suamimu sendiri! Jangan merengek padaku!" bentak Diandra, wajahnya merah karena kesal. Naina mengepalkan tangannya erat-erat. Dadanya naik turun karena emosi yang tertahan. Ia menoleh lagi ke arah mobil Xander, lalu kembali menatap ibunya dengan tatapan penuh tuntutan. "Kenapa Melinda bisa membelikan pria itu mobil, sementara aku harus puas dengan mobil bekasnya?" kata Naina sambil berjalan masuk ke rumah dengan penuh kebencian. Xander yang sedari tadi sibuk memeriksa kuku jarinya, mendengar keluhan Naina dan tertawa kecil. Ia menoleh ke arah wanita itu dengan senyum menyebalkan. "Astaga, Naina," ucapnya dengan nada mengejek. "Kalau kau mau mobil baru, kau harus lebih pintar merayu suamimu. Jangan cuma bisa merengek pada ibumu. Dia ... dia tidak berdaya sekarang. Karena apa?! Karena Melinda mulai mengambil alih semua aset mendiang ibunya." "Kau!" Naina hampir saja menerjang Xander kalau saja Diandra tidak menarik lengannya. Diandra menatap Xander dengan tatapan menusuk. "Kau pikir kau bisa selamanya menghambur-hamburkan uang Melinda seperti ini?" Xander memasukkan tangannya ke dalam saku, tersenyum santai. "Sejujurnya? Aku bisa. Dan aku akan terus melakukannya." "Dengarkan aku baik-baik, pria yang entah berasal dari mana. Kau salah telah masuk ke rumah ini. Kau salah telah ikut campur urusan keluarga kami," desis Diandra. Xander tersenyum kecil. "Diandra, aku tahu kau orang yang berbahaya, tapi sayangnya aku sama sekali tidak takut." Diandra mengepalkan tangannya. "Kau ... aku memperingatkan—" "Kau bahkan tidak pantas memperingatkan aku. Kau ... juga menumpang di rumah ini!" sentak Xander dengan matanya yang tajam. Diandra tentu saja tersentak melihat itu. Apalagi, Xander terlihat sangat ... sangat ... menakutkan. "Siapa pria ini sebenarnya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD