Bab 16. Xander yang Ajaib

1332 Words
Darco baru saja pulang kerja ketika melihat sesuatu yang mencolok di halaman rumah keluarga Brown. Ia mengernyit, menghentikan langkahnya sejenak sambil memandang mobil sport hitam yang terparkir dengan anggun di garasi. Mobil itu terlihat begitu mahal dan langka. “Siapa yang beli mobil ini? Atau ada tamu?” gumamnya, merasa aneh. Mobil dengan model seperti itu bukan sesuatu yang biasa terlihat di rumah ini. Jacob Brown tidak pernah tertarik pada kendaraan sport. Melinda, meskipun kaya, juga bukan tipe yang hobi menghamburkan uang untuk barang pameran. Dan jelas bukan milik Naina atau Diandra. Dengan rasa ingin tahu yang membuncah, Darco melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tidak perlu bertanya lama-lama karena di ruang tamu, duduk dengan santainya seorang pria yang paling tidak ingin dilihatnya—Xander. Xander tampak begitu santai dengan kaki disilangkan di atas meja, kepalanya sedikit dimiringkan sambil menatap ke arah mobil di luar jendela dengan ekspresi kagum. Darco semakin heran. “Apa yang kau lihat?” tanyanya, bersedekap. Xander menoleh sebentar, lalu kembali mengarahkan tatapannya ke mobil sport itu. “Mengagumi kekayaan,” jawabnya ringan. “Mobil itu sangat keren, bukan?” Darco terkekeh sinis. “Amati saja, kau tidak akan mampu membelinya.” Xander mengangguk seolah setuju. “Aku tidak akan mampu membeli itu, kau benar.” Ia lalu menoleh ke arah Darco, matanya berbinar seakan menikmati percakapan ini. “Bagaimana mungkin pria miskin sepertiku membeli mobil lima ratus juta dolar?” Darco menyeringai. “Bagus kalau kau sadar diri.” Tapi Xander belum selesai. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Darco dengan tatapan penuh arti. “Tapi, Melinda bisa membelikannya untukku.” Darco tertawa semakin keras. “Kau berharap Melinda membelikannya? Tidak mungkin. Melinda tidak—” Perkataannya terhenti seketika saat melihat sesuatu yang berkilauan di tangan Xander. Darco memicingkan mata, memperjelas penglihatannya. Itu… black card! Mata Darco melebar. “Tidak mungkin…” Xander menggoyangkan kartu itu dengan senyum lebar. “See? Melinda membelikannya untukku.” Darco mengepalkan tangannya, wajahnya memerah. “Bagaimana kau bisa mendapatkan itu? Kau pasti mencurinya!” Xander hanya tertawa pelan sebelum memasukkan kartu itu kembali ke dalam sakunya. “Tidak, aku diberi ini supaya bisa tertawa bahagia.” “Kau bohong!” Darco berseru, menunjuknya dengan jari telunjuk. “Kau pasti mencurinya!” “Terserah kalau tidak percaya.” Xander mengangkat bahu seakan tidak peduli. Darco mendidih. Dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Melinda. Namun, sebelum panggilan tersambung, suara dering ponsel terdengar dari arah pintu masuk, disertai dengan suara sepatu hak tinggi menghentak lantai. Melinda berjalan masuk dengan wajah datarnya yang khas. “Apa kau sangat merindukanku sampai harus menelepon?” Darco berbalik, langsung mendekatinya dengan ekspresi serius. “Tidak, Melinda. Hari ini aku tidak ingin membuat keributan.” Melinda mengernyit. “Lalu?” Darco mengarahkan telunjuknya ke Xander. “Pria yang kau bawa ini, dia mencuri black card-mu dan membeli mobil sport langka itu!” Melinda menoleh ke belakang, baru sadar ada mobil hitam mengilap yang terparkir di halaman. Ia menatapnya dengan kaget. “Dia membeli itu… dengan black card-ku?” “Tentu saja!” seru Darco penuh kepastian. “Dari mana pria miskin ini membelinya kalau bukan dari uangmu?” Melinda menatap Xander dengan sorot tajam. Xander, seolah tidak terganggu, malah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat. Sebelum Melinda bisa berkata apa-apa, Xander sudah melingkarkan tangannya di pinggangnya, lalu menempelkan kepalanya ke bahu Melinda dengan ekspresi manja. “Aku tidak mencurinya, kan, Baby? Kau memberikannya padaku,” kata Xander dengan suara imut yang dibuat-buat. Darco tampak semakin kesal, matanya membulat marah. Melinda menoleh ke arah Darco, memperhatikan ekspresinya yang mulai memerah karena emosi. Diam-diam, ia tertawa dalam hati. Ia mengangkat dagunya dan berkata santai, “Ya, benar. Aku memberikannya. Aku menyuruhnya beli apa pun yang dia mau.” Darco hampir tidak percaya dengan telinganya. “Mel, kau—” “Sudahlah, Bro.” Xander menepuk pundak Darco dengan ekspresi puas. “Terima saja kekalahanmu. Kau tidak perlu memperburuk citraku di depan Melinda. Melinda bahkan…” Xander menatap Melinda dengan penuh arti. “Sangat menyayangiku.” Darco mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras. Namun, daripada terus berdebat, ia memilih untuk pergi sebelum emosinya benar-benar meledak. Setelah Darco menghilang di balik pintu, Melinda langsung menatap Xander dengan tajam dan menyeretnya ke dalam kamar. Begitu pintu tertutup, ia langsung melemparkan tasnya ke arah Xander dengan kesal. Xander menghindar dengan gesit. “Hei! Apa salahku?” Melinda memijat pelipisnya, mencoba mengendalikan amarahnya. “BISA-BISANYA kau menghabiskan uangku dengan membeli mobil itu?!” Xander menyandarkan dirinya ke dinding sambil tersenyum santai. “Bukankah kau bilang aku boleh membeli apa saja yang aku mau?” “Tapi aku tidak bilang kau boleh beli mobil sport super langka!” teriak Melinda. Xander pura-pura berpikir. “Oh? Aku tidak dengar bagian itu.” Melinda mengangkat tangannya, nyaris ingin melempar sesuatu lagi. “Ugh! Kau menyebalkan!” Xander tertawa kecil. “Ayolah, Baby, kau tidak merasa keren punya pacar yang mengendarai mobil mahal?” Melinda melotot. “Kau bukan pacarku!” Xander mengangkat bahu. “Tapi kau sudah membelikanku mobil. Bukankah itu tanda sayang?” Melinda benar-benar ingin meledak. “Itu tanda aku ingin kau jauh dariku! Aku pikir kau akan sibuk menghamburkan uang dan tidak menggangguku di kantor, bukan malah pulang membawa masalah!” Xander tertawa renyah, lalu duduk di tepi tempat tidur. “Tapi lihat sisi positifnya, sekarang semua orang tahu betapa baik hatimu padaku.” Melinda memijat pelipisnya lebih keras. “Aku akan gila… aku benar-benar akan gila…” Xander menyeringai puas. “Santai saja, Sayang. Ini baru permulaan.” Tas Melinda melayang tepat ke arah kepala Xander, tapi pria itu dengan gesit menghindar. Ia terkekeh, sementara Melinda masih berapi-api menatapnya dengan wajah merah padam. Melinda mendekat dengan wajah berang. "Kau benar-benar kurang ajar!" Xander menghela napas panjang, lalu mendekat dan menepuk pundak Melinda seolah sedang menenangkan anak kecil yang marah karena permen kapasnya jatuh. "Tenanglah, Baby. Kau harusnya senang melihat aku bahagia." Melinda menepis tangannya dengan kasar. "Jangan memanggilku seperti itu! Aku bukan Baby-mu! Dan aku tidak peduli kalau kau bahagia atau tidak!" Xander menaruh tangan di d**a, berpura-pura terluka. "Sakit sekali rasanya mendengar itu, Sayang." Melinda mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak meninju wajah Xander. "Kau pikir aku ini ATM berjalan, hah?" Xander mengangguk cepat. "Tentu saja. Dan aku sangat menghargai ATM yang tidak pelit." "Xander!" Melinda hampir menjerit karena frustasi. Xander terkekeh, lalu berjalan mendekati cermin besar di kamar Melinda, mengagumi pantulan dirinya sendiri. "Aku harus terlihat menawan saat menyetir mobil baruku nanti." "Kau tidak akan menyentuh mobil itu!" bentak Melinda. Xander menoleh, mengangkat satu alis dengan ekspresi mengejek. "Oh? Apa kau ingin menjualnya kembali? Kau yakin bisa menolak permohonanku saat aku merengek nanti?" "Kau pikir aku tidak bisa menolakmu?" Xander mengangguk yakin. "Tepat sekali." Melinda benar-benar ingin melemparnya dengan sepatu hak tingginya sekarang. "Aku akan menarik kembali kartu itu!" Xander langsung memasukkan tangannya ke dalam saku dan menggenggam kartu itu erat-erat. "Melinda, sayangku, manisku, cantikku... Kau tega mengambil kebahagiaan kecil dari pria miskin sepertiku?" "KAU TIDAK HANYA MISKIN! KAU JUGA SANGAT MENYEBALKAN!" Xander memasang wajah sok polos. "Menyebalkan, tapi tetap kau biarkan tinggal di sini, kan?" Melinda menutup wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan amarahnya. "Ya Tuhan... Kenapa aku harus berurusan dengan pria sepertimu?" Xander mendekat, lalu berbisik di telinga Melinda, "Karena kau butuh aku untuk membuat mantanmu panas, bukan?" Melinda membeku sesaat, lalu mendengus kesal dan mendorong d**a Xander dengan kasar. "Keluar dari kamarku!" Xander tersenyum usil. "Sayang sekali, aku lebih suka tidur di sini daripada di kamar tamu." "XANDER!!" Xander terkekeh, melangkah ke sofa di dalam kamar dan duduk dengan nyaman, menyandarkan kepalanya ke bantal. "Yah, kalau kau tidak mau berbagi tempat tidur, aku tidur di sofa saja. Tapi aku tetap tidak akan pergi dari kamar ini." Melinda benar-benar merasa kesabarannya setipis tisu sekarang. Ia menatap langit-langit, berusaha menenangkan diri, lalu menoleh ke arah Xander dengan tatapan penuh ancaman. "Aku bersumpah, Xander, kalau kau masih terus menyebalkan, aku akan—" "Memeliharaku seumur hidup?" potong Xander dengan senyum lebar. Melinda benar-benar ingin melempar dirinya sendiri dari jendela sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD