Bab 19. Kencan Ala Orang Biasa

1269 Words
Xander duduk di balik kemudi, mengenakan kacamata hitam dan bersiul kecil. Tangannya dengan santai memutar-mutar setir mobil mewah yang baru saja dibelinya—dengan uang Melinda, tentu saja. "Bagaimana, Baby? Nyaman sekali, kan?" katanya penuh kebanggaan. "Mobil mahal memang sangat berbeda rasanya." Melinda melipat tangan di d**a, menatap ke arah dashboard dengan sinis. "Aku heran. Mobil ini seharusnya tidak bisa dibeli begitu saja. Harus pesan dulu berbulan-bulan. Bagaimana bisa kau langsung mendapatkannya?" Xander, yang awalnya percaya diri, tiba-tiba gelagapan. Matanya berkedip beberapa kali di balik kacamata hitamnya. "E-Eh… itu… aku punya kenalan! Ya! Aku kenal seseorang yang punya koneksi langsung dengan dealer mobil ini. Mereka kasih aku prioritas!" Melinda mengangkat alis curiga. "Kenalan? Prioritas?" Xander mengangguk cepat. "Tentu saja! Aku ini orang yang sangat karismatik, jadi mereka memberiku kesempatan spesial. Kau tahu, aku pria yang penuh pesona." Melinda mencibir. "Yang benar saja. Aku yakin kau hanya menangis di depan mereka, berpura-pura diancam atau sejenisnya sampai akhirnya mereka iba dan memberimu mobil ini." Xander memasang ekspresi dramatis. "Astaga, Melinda! Kau meremehkanku sekali! Aku ini pria penuh daya tarik alami, bukan pengemis yang mengandalkan belas kasihan." Melinda mendecak, lalu melirik ke arah interior mobil yang memang sangat mewah. "Dasar penikmat hasil kerja orang lain. Kau mengendarai mobil ini seolah-olah membelinya dengan keringat sendiri." Xander menyeringai, lalu menepuk setir mobilnya. "Baby, bukankah kau sendiri yang membelaku di depan Darcoj? Kau sendiri yang bilang bahwa aku berhak atas semua ini. Jangan tarik kata-katamu sekarang." Melinda memutar bola matanya. "Aku bilang begitu hanya untuk membuat Darco kesal! Bukan berarti kau boleh benar-benar memanfaatkannya!" Xander mengangguk-angguk dengan ekspresi sok bijak. "Ah, jadi kau mengakuinya. Itu berarti aku hanyalah korban dari rencana besarmu. Aku hanya pion dalam permainanmu." Melinda mendelik tajam. "Omong kosong macam apa itu? Sejak awal memang seperti itu, bukan?" Xander menghela napas dramatis, lalu menatap ke luar jendela seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat dalam. "Begini… jika kau membeli sesuatu untukku, bukankah itu tanda bahwa kau mulai menyukaiku?" "Persetan dengan logika itu!" bentak Melinda. Xander tertawa keras. "Hahaha! Kau benar-benar mudah diprovokasi, ya?" Melinda mendesah panjang, hampir putus asa menghadapi pria tengil di sampingnya. "Kalau kau tidak diam dalam lima detik, aku akan menarik mobil ini dari tanganmu." Xander langsung menekan pedal gas lebih dalam, melajukan mobil dengan lebih cepat. "Sebelum kau sempat melakukannya, aku akan menikmati mobil ini semaksimal mungkin!" Melinda benar-benar ingin menendangnya keluar dari mobil saat itu juga. *** Mobil sport mewah yang dikendarai Xander berhenti di pinggir jalan, tepat di depan gerbang masuk pasar malam yang ramai dan penuh warna. Lampu-lampu kelap-kelip, suara musik dari wahana, dan aroma makanan kaki lima langsung menyerbu indra Melinda begitu ia turun dari mobil. Melinda memandangi kerumunan orang yang berlalu lalang, sebagian besar mengenakan pakaian kasual yang santai. Ia sendiri berdiri dengan gaun mahal dan heels tinggi, terlihat mencolok di tengah keramaian. "Serius? Kita mau masuk ke sini?" tanyanya ragu, menoleh ke arah Xander yang sudah tampak bersemangat. "Tentu saja!" Xander merentangkan tangan, seolah ingin memeluk suasana pasar malam. "Ini adalah pengalaman yang wajib kau coba. Kencan ala orang biasa." Melinda menyipitkan mata. "Maksudmu, aku ini semacam manusia super?" ucapnya dengan nada sinis. Xander tertawa kecil. "Bukan begitu. Tapi kau luar biasa dengan kekayaanmu. Selama ini kau hanya hidup di dunia orang-orang kaya, bukan?" Melinda mengangkat dagunya dengan angkuh. "Tentu saja. Aku tidak punya waktu untuk hal seperti ini." Xander mendecak. "Nah, justru itu. Hidupmu terlalu monoton. Sekali-kali kau harus merasakan kehidupan seperti rakyat jelata ini. Aku jamin, ini seru!" Melinda menghela napas, menatap ke arah orang-orang yang tertawa sambil menikmati permainan, mengunyah jajanan kaki lima, atau berteriak di wahana yang berputar cepat. Ia memang tidak pernah mengalami semua itu. "Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi kalau ini membosankan, kau harus membayarku." Xander terkekeh. "Dengan uang siapa?" Melinda melotot, dan Xander langsung merangkul bahunya sambil tertawa. "Sudah, ayo masuk! Aku janji ini akan menyenangkan!" Tanpa sadar, Melinda mulai melangkah mengikuti Xander. Sesuatu dalam dirinya merasa penasaran—dan mungkin sedikit bersemangat. Xander menarik tangan Melinda ke salah satu stand permainan lempar gelang. Ia tampak sangat bersemangat sementara Melinda hanya berdiri dengan ekspresi skeptis. "Ayo, coba lempar!" Xander menyodorkan gelang kayu ke tangan Melinda. Melinda menatap gelang itu lalu ke arah botol-botol kecil yang harus dijatuhkan. "Dan apa untungnya buatku?" "Hadiah! Lihat boneka besar di sana." Xander menunjuk ke satu boneka panda raksasa. "Kau bisa mendapatkannya kalau berhasil." Melinda mendecak. "Aku bisa membelinya kalau mau." Xander menghela napas panjang. "Mel, ini bukan soal membeli, ini soal pengalaman!" Dengan malas, Melinda akhirnya melempar gelang itu. Sialnya, ia meleset. Xander langsung tertawa. "Astaga, tanganmu lebih buruk dari dugaanku." Melinda mendelik. "Aku tidak pernah melakukan hal sepele seperti ini." "Ya, ya. Tuanku yang kaya raya," goda Xander sambil mengambil gelang lain. Dengan gaya sok jago, ia melempar dan... tepat mengenai sasaran! Xander mengangkat tangan penuh kemenangan. "Lihat? Ini yang disebut bakat alami." Melinda hanya menghela napas, lalu mereka berjalan ke stand makanan. Xander langsung berbinar saat melihat sosis bakar yang mengepul harum. "Kita harus coba ini!" Melinda mengerutkan dahi. "Kau yakin itu bersih?" Xander mendengus. "Tentu saja! Lihat, semua orang makan ini dan mereka baik-baik saja." Melinda tetap ragu. Namun, Xander dengan jahil mengambil satu sosis, meniupnya sedikit, lalu tiba-tiba menjejalkannya ke mulut Melinda. Melinda tersentak, nyaris tersedak. Ia hendak marah, tetapi begitu rasa gurih dan manis dari sosis itu menyebar di lidahnya, ekspresinya berubah. "Wow... ini tidak buruk." Xander menyeringai puas. "Tuh kan, percaya padaku saja." Melinda mendecak, tetapi tetap mengunyah dengan lahap. Xander lalu mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga Melinda dengan suara menggoda, "Aku punya sosis yang lebih besar dan panjang. Kau bisa menjilatinya saat kita di kamar." Seketika, wajah Melinda memerah. Dengan refleks, ia langsung menabok kepala Xander. "Dasar m***m!" Xander tertawa terbahak-bahak, sementara Melinda cemberut. Tapi diam-diam, ia menikmati suasana pasar malam ini—dan mungkin, kebersamaan mereka. Xander menarik tangan Melinda ke salah satu stand es krim. Di sana, seorang penjual es krim berjubah merah dengan senyum jahil sedang membuat atraksi untuk para pelanggan. "Ayo beli ini!" Xander menunjuk es krim yang sedang diputar-putar dengan tongkat panjang. Melinda memandang skeptis. "Es krim? Kau pikir aku anak kecil?" Xander terkekeh. "Bukan itu intinya. Ini bukan sekadar es krim biasa, tapi es krim yang penuh kejutan!" Penjual es krim langsung menyambut mereka dengan senyum lebar. "Silakan, Nona, mau rasa apa?" "Vanilla," jawab Melinda malas. Dengan gesit, si penjual menyendokkan es krim ke cone, lalu dengan gerakan cepat, ia menyodorkannya pada Melinda—hanya untuk menariknya kembali sebelum tangan Melinda menyentuh. "Eh?" Melinda mengerutkan dahi. "Kasih ke sini." Si penjual tersenyum nakal, kembali berpura-pura menyerahkan es krim, tetapi lagi-lagi menariknya dengan cepat. Xander sudah mulai tertawa. "Oh, ini bakal seru!" Melinda mulai kesal. "Oh, jadi kau ingin bermain-main?" "Tangkap saja kalau Anda bisa, Nona," balas penjual itu. Melinda menatap sinis. "Kau pikir aku nggak bisa menangkapnya?" Kali ini, ia mencoba lebih cepat, tetapi si penjual dengan lihai memutar cone itu ke belakang punggungnya. Orang-orang di sekitar mulai tertawa melihat ekspresi frustrasi Melinda. Xander hampir jatuh saking kerasnya tertawa. "Astaga, aku belum pernah melihatmu sefrustrasi ini!" Melinda mengepalkan tangan. "Aku cuma ingin es krim sialan itu!" Si penjual kembali berpura-pura memberikan, dan saat Melinda mencoba merebut, ia malah menarik cone itu ke atas kepala Melinda. Melinda mendongak tajam. "Aku bersumpah, kalau kau berani menariknya lagi, aku akan merobohkan stand ini!" Tawa Xander semakin keras hingga harus berpegangan pada meja. Si penjual akhirnya menyerahkan es krim dengan senyum puas. "Silakan, Nona." Melinda merebut es krim itu dengan kesal, menatapnya dengan tatapan penuh dendam sebelum menjilatnya dengan kasar. Sementara itu, Xander masih terbahak-bahak. "Hari ini benar-benar pengalaman berharga!" Melinda mendelik. "Diam, atau aku akan menjejalkan es krim ini ke wajahmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD