Bab 18. Bocah Banyak Tingkah

1007 Words
Begitu pintu kamar tertutup, Darco menarik napas dalam, menekan emosi yang membara di dadanya. Namun, begitu ia berbalik menatap Naina, kemarahannya sulit dibendung. "Apa sebenarnya yang kau inginkan, Naina?" suaranya rendah tapi mengandung bahaya. "Apa maksudmu?!" Naina masih memegangi perutnya, berusaha memasang ekspresi terluka. "Aku melihatnya. Aku melihatmu—" "Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Dia sudah berani menamparku!" tukas Naina dengan sinis. Darco menyipitkan mata. "Dan kau pikir aku tidak tahu siapa yang memulai lebih dulu?" Naina mendongak, terkejut. "Apa maksudmu sebenarnya?" Darco mendekat, tatapannya tajam seperti elang. "Aku tahu kau yang memprovokasi Melinda. Melinda tidak akan pernah terusik jika hanya seekor nyamuk berkeliaran. Aku mendengar kau menghina pria itu, sengaja memancing emosinya. Kau pikir aku bodoh?" Naina menegang, tapi ia segera menyeringai sinis. "Jadi sekarang kau membelanya? Kau membela wanita yang sudah tidak ada hubungan apa-apa denganmu?" Darco terkekeh dingin. "Justru karena aku tidak ada hubungan lagi dengannya, aku tidak ingin kau terus-terusan mengusiknya. Dengarkan baik-baik, Naina," ia menatapnya dengan dingin, "jangan pernah lagi mencari masalah dengan Melinda. Jangan pernah mencoba menyakitinya." Mata Naina membelalak. "Kau mengancamku?" Darco mengangguk tanpa ragu. "Ya. Aku tahu siapa kau, Naina. Hanya dengan hidup beberapa hari denganmu dalam keterpaksaan ini, aku tahu sifat aslimu. Kau selalu merasa harus menang atas Melinda. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya lagi." Naina mengepalkan tangannya, tubuhnya gemetar karena marah. "Aku istrimu! Seharusnya kau membelaku, bukan membela wanita lain!" Darco mendengus. "Istriku?" Ia menatap Naina dari ujung kepala sampai kaki dengan ekspresi penuh kekecewaan. "Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan pernah memilihmu." "Jadi maksudmu, kau menyesal menikah denganku, alih-alih dengan Melinda, begitu?" Darco tertawa. "Pertanyaan bodoh macam apa itu? Aku pasti gila jika dengan sukarela menikahi ular sepertimu! Melinda ... tentu saja dia seratus kali di atasmu!" Kata-kata itu menghantam Naina seperti tamparan keras. Ia terdiam, bibirnya bergetar, matanya penuh kebencian. "Jangan pernah mengusik Melinda lagi, Naina," Darco memperingatkan sekali lagi. "Kalau tidak, kau tidak akan suka akibatnya." Tanpa menunggu jawaban, Darco berbalik dan pergi ke kamar mandi, meninggalkan Naina yang berdiri dengan mata membara penuh amarah dan dendam. "Darco, aku belum selesai bicara!" "Darco!" *** Melinda duduk bersandar di kursi panjang di balkon, menatap lapangan golf yang luas. Udara malam yang sejuk seharusnya bisa menenangkan pikirannya setelah pertengkaran tadi, tapi tetap saja, hatinya terasa sesak. Bayangan indah bersama Darco beberapa saat yang lalu terlintas. Tawanya, bagaimana ia memperlakukannya, bagaimana cara Darco membuatnya bahagia. Semua itu masih jelas terlintas. "Dunia terlalu ekstrim saat bercanda. Bagaimana bisa aku tinggal satu atap dengan pria yang ... bahkan sampai hari ini belum bisa aku lupakan?" gumam Melinda. Air mata mengalir tanpa sadar. Hatinya terasa semakin sesak. Sesekali, Melinda menepuk dadanya sendiri, berharap sakit itu perlahan akan mereda. Namun, semakin ia melakukannya, sakit yang ia rasa semakin menghantam. "Kenapa mencintaimu harus sesakit ini, Darco?! Apa yang ada dalam pikiranmu saat melakukan itu?" Sementara itu, di belakang Melinda, Xander duduk bersila di atas karpet, matanya terpaku pada layar ponsel, jemarinya bergerak cepat. Sesekali ia bergumam, mengumpat, lalu tertawa seperti orang gila. "Yes! Kena kau!" serunya semangat. "Dasar noob! Berani lawan aku? Hah?!" Melinda menoleh, menatap pria itu dengan tatapan aneh. "Ayo ke sana, ha?! Aku akan membunuhmu. Kena mau!" Melinda memutar bola matanya. Baru saja ia mencoba menikmati ketenangan, tapi suara Xander malah memenuhi seluruh ruangan. "Aduh! Sial! Sial! SIAL!" Xander berteriak frustasi, tubuhnya bahkan hampir berguling di lantai. Melinda menghela napas panjang, kesabarannya habis. Tanpa pikir panjang, ia mengambil sandal dan melemparkannya tepat ke kepala Xander. PLAK! "Aww! Apa-apaan kau, hah?!" Xander melotot sambil memegang kepalanya yang baru saja kena lemparan. "Kau berisik, tahu tidak?!" seru Melinda, menatapnya tajam. "Apa kau pikir yang punya telinga di sini itu cuma dirimu sendiri saja?!" Xander bangkit dengan ekspresi kesal. "Aku hampir menang tadi! Tinggal satu langkah lagi! Tapi gara-gara kau, aku kalah!" Melinda mendengus. "Oh, kasihan sekali. Mau aku belikan medali sebagai penghargaan untuk kekalahanmu?" Xander mendelik. "Astaga, kau ini perempuan atau iblis? Kenapa jahat sekali?" Melinda menyeringai. "Kau baru sadar?" Xander mengusap wajahnya frustasi. "Aku benar-benar butuh kompensasi karena telah kehilangan kemenangan berharga!" Melinda menyilangkan tangan di d**a. "Dan kompensasi macam apa yang kau inginkan?" Xander menatapnya dengan penuh perhitungan, lalu tiba-tiba tersenyum licik. "Bagaimana kalau kau traktir aku makan es krim?" Melinda menatapnya tak percaya. "Makan es krim? Tengah malam begini?" Xander mengangguk dengan serius. "Tentu. Ini bukan tentang es krim. Ini tentang harga diri dan kehormatanku sebagai gamer yang telah kau rusak!" Melinda menepuk dahinya. "Dasar bocah!" "Terserah, yang penting traktir!" Xander berlari mengambil jaketnya, siap menyeret Melinda pergi. Melinda mengerang kesal, tapi entah kenapa, melihat Xander yang begitu heboh membuat suasana hatinya sedikit lebih ringan. *** Jacob Brown sedang duduk santai di ruang tamu, menikmati teh hangatnya dengan tenang. Matanya sekilas melirik ke arah putrinya yang baru saja turun dari lantai atas bersama pria yang sekarang selalu menempel padanya seperti lintah. "Melinda, kau mau ke mana malam-malam begini?" tanyanya dengan nada tenang, tapi sarat akan ketidaksetujuan. Melinda yang masih kesal karena kehebohan Xander hanya menjawab ketus, "Keluar sebentar." Jacob menyipitkan mata. "Dengan pria ini?" Sebelum Melinda sempat menjawab, Xander justru lebih dulu buka suara. Dengan senyum lebarnya yang menyebalkan, ia mengangkat tangan dan melambai ke arah Jacob. "Tentu saja, Ayah Mertua! Kami hanya mau jalan-jalan sebentar, jangan khawatir. Aku janji akan menjaga putrimu dengan baik!" katanya dengan nada riang. Jacob langsung mengernyit, ekspresinya berubah sinis. Ia menatap Xander dari atas sampai bawah dengan penuh penilaian. "Jangan panggil aku seperti itu," ucap Jacob dengan dingin. Xander tetap tersenyum tanpa dosa. "Lho, kenapa? Bukankah aku dan Melinda pasangan yang serasi? Cepat atau lambat kau pasti akan menerima aku sebagai bagian dari keluarga ini." Jacob mendengus. "Itu tak akan terjadi. Jangan berkhayal." Melinda yang sejak tadi diam akhirnya ikut menatap Xander dengan tatapan ingin melemparnya ke luar rumah. "Berhenti bicara omong kosong dan cepat jalan!" Xander terkekeh. "Baik, Sayang~" Jacob menghela napas panjang, mengusap dahinya seolah sudah lelah menghadapi dua orang ini. "Jangan buat masalah," katanya sebelum kembali menyeruput tehnya. Melinda dan Xander pun keluar, meninggalkan Jacob yang hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan pria aneh itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD