Trapped-1 : Missing Her Scent

1546 Words
Ketika sepuluh menit telah berlalu dan Galvin kembali ke lantai satu, di meja rias terlihat Giandra dan Vella sedang melakoni sesi tanya jawab. Gadis dengan rambut sebahu itu bersemu menatap Gian yang tengah menjelaskan sesuatu. Kepala si gadis beberapa kali mengangguk dan tangannya terlihat menuliskan jawaban dari si narasumber. Kaki Galvin melangkah mendekat. Mengabaikan Rizky dan Ben yang membuntutinya untuk minta maaf, Galvin malah kini mengambil gambar sesi wawancara itu. “Mbak Galv, maafin kami, ya? Ya dong, ya?” rengek Rizky. Sungguh terdengar seperti anak kecil. “Iya, Riz.” sahut Galvin sambil masih mengambil gambar. Giandra sempat terkesiap, sedangkan Vella menghentikan pertanyaannya karena suara kamera Galvin. “Nggak pa-pa, lanjutin aja.” kata Galvin. “Aku cuma mau ambil foto aja.” Vella mengangguk. Gadis SMA itu membuka catatan kecil di sakunya. Kembali bertanya, “Kak Gian, selama karir di dunia model, pernah mendapati titik jengah dan ingin mencoba hal lain selain modeling? Menekuni dunia musik, misal? Kan Kak Gian pandai main gitar.” Galvin menurunkan kameranya. Interesting question! “Music is my life. Tapi dunia modeling yang ngehidupin gue. So... untuk saat ini mungkin gue mau fokus modeling dulu. Yang nggak begitu menyita waktu gue. Soal musik, mungkin kalau udah longgar dan gue bisa mengatur waktu dengan baik.” jawab Giandra, tersenyum ketika Galvin kembali menyorotnya dengan kamera. Senyum yang menular pada Galvin karena sorot biru itu tepat terarah pada kamera. “Sejak kapan Kak Gian bisa main gitar?” “Sejak sepuluh tahun, mungkin. Main gitar adalah terapi bagi gue.” “Siapa yang ngaja—” “Alright, ten minutes is up.” sela Giandra. Memilih segera mengangkat bokongnya dari kursi dan melesat pada set yang sudah tertata rapi. Galvin dapat melihat dengusan dari gadis SMA di depannya ini. “Nggak pa-pa. Kamu bisa datang lagi lusa untuk wawancara.” hiburnya. “Nggak pa-pa, Kak?” tanya Vella antusias. “Tentu aja nggak pa-pa. Siapa aja boleh datang ke sini.” Galvin mengulas senyum sebelum ikut melesat ke set, kembali berkutat dengan tombol capture pada kameranya. Sedangkan si gadis SMA mengulas senyum lebar. Tangannya terulur meraih ponsel di saku kemeja seragamnya, membidik gambar Giandra dan yang ada di set. Mengirimkan gambar itu ke akun IG miliknya dengan caption... I’m with you, G *** Pemotretan hari ini berlangsung cukup cepat. Selain karena seluruh kru hadir, juga karena outfit yang dikenakan Giandra tidak begitu banyak. Lelaki yang sudah kembali mengenakan sweatshirt dan celana straight itu menghela napas panjang. Mengacak rambutnya, ia mengambil duduk di kursi panjang dekat pintu. Galvin melirik keadaan sekitar. Aman, tidak ada yang mengawasinya. Wanita itu lantas mendekati Giandra. Dengan ragu, ikut mengambil duduk di samping si iris biru. “Hai.” sapa Galvin. “Oh, hai.” sahut Giandra lalu mulai meneguk air dalam botol minum. “So, kamu merasa lebih baik?” Lelaki di samping Galvin itu hanya melirik dari ekor mata. Ibu jarinya lantas terangkat. Galvin mengangguk, menghela napas panjang. Ya Tuhan, jakun ini anak! “Rizky masih di atas sama Ben. Buat upload katalog.” “Jadi...” Giandra menutup kembali botol minumnya, “Yang tadi itu cowok lo?” Galvin hanya mengangguk. Helaan napas lolos dari mulutnya. Wanita itu menatap lekat-lekat lelaki di sisinya itu. Raut lelaki itu terlihat berbeda. Tidak seceria selama dua minggu terakhir Galvin mengenal Giandra. Lelaki ini seperti sedang bersusah payah melupakan sesuatu. “Kamu baik-baik aja, Gian?” tanya Galvin akhirnya. Giandra masih menatap lurus ke depan. Pada refleksinya bersama Galvin di cermin besar di seberang mereka. “Gue baik-baik aja. Lo sendiri?” “Aku baik juga. Makasih semalam udah mampir di—” “Tuh Rizky udah,” sela Giandra. Lelaki itu buru-buru beranjak dari duduk, berjalan tergesa menuju temannya yang bossy dan menyebalkan namun ganteng karena punya lesung pipi yang baru turun dari lantai dua. Galvin menghela napas menatap punggung lelaki itu. Padahal, tadinya ia ingin meminta maaf karena melupakan kehadiran Giandra begitu Arjun merentangkan tangan di halaman studio. Namun, sepertinya sang model sedang tidak bersemangat. “Mbak Galv, Rizky balik dulu. Makasih buat hari ini.” ucap Rizky sambil tersenyum sopan pada Galvin. “Eh, maksud Rizky, makasih buat—” “Sama-sama, Rizky.” sahut Galvin. Wanita itu menarik lepas ikatan rambutnya, menyibak rambut panjang itu dengan jemarinya. “Kalau butuh apa-apa, bilang aja. Kalau misal ada yang kurang soal katalognya, aku bisa perbaiki.” Galvin berujar seraya mengumpulkan rambutnya menjadi satu dalam genggaman dan menyampirkan pada bahunya. FUCK! Giandra mengumpat keras dalam hati. Ingatan sialannya kembali pada dini hari tadi, saat si empunya rambut panjang itu ‘memaksa’ dirinya untuk satu ranjang bersamanya. “Rizky udah puas banget. Si jones sebelah Rizky ini jadi keliatan macho!” Rizky mengerling pada Giandra yang masih menampilkan raut masam. Galvin hanya mengangguk. Seiring Rizky dan Giandra yang berangsur meninggalkan studio, Galvin kembali sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan dari Arjun. *** Pria itu mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Dylan Rahatra Siegers setelah pemilik Grass Property itu membukakan pintu meeting untuknya. “Untuk proyek selanjutnya, Grass Property pasti akan sering-sering merepotkan tim Pak Arjun.” kata pria blasteran Jerman-Indonesia itu. “Kapan saja, Pak.” Arjun mengulas senyum ramah. “Terima kasih atas kesempatan kerjasama ini.” Dylan hanya mengangguk. Membimbing langkah tamunya menuju lift. Di dalam lift, Arjun melonggarkan ikatan dasinya. Pria itu mengacak rambutnya lalu mengenakan kacamata hitam. Benaknya tak henti membayangkan sesuatu sejak tadi pagi. Tentang Million kisses yang dijanjikan wanitanya di JapFood. Arjun boleh saja sudah berusia 32 tahun. Tetapi kadang ia enggan menyikapi kiasan seperti bagaimana harusnya. Baginya, Million kisses yang dimaksud Galvin adalah satu juta ciuman. Bukan hanya ciuman yang banyak. Seperti candi seribu, itu hanya candi yang banyak bukan candi berjumlah seribu. Jadi nanti setelah ia mendarat di apartemennya, pria dengan kulit kuning langsat itu akan benar-benar menagih janji pada wanita yang barusan membalas pesannya. Galvin: Cooking for dinner. Jangan pulang dulu kalau makanan belum siap. Oke? xx Yang benar saja! Arjun meremas ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana. Melarang bos perusahaan periklanan itu berarti menyuruhnya melakukan hal terlarang itu. Segera setelah pintu lift terbuka, Arjun menghambur ke basement dan memacu mobilnya cepat membelah jalanan kota menuju million kisses-nya. Ah, Arjun benar-benar sudah merindukan aroma khas wanitanya itu. Telinganya sudah tak sabar menangkap desahan yang lolos dari bibir Galvin ketika ia menghujani tubuh polos sang kekasih dengan ciuman. Arjun sudah sangat merindukan bersentuhan kulit dengan wanita penurutnya itu. Rindu pada aroma Galvin yang selalu membuatnya lapar. *** Satu yang juga sedang terjadi nan jauh dari apartemen Galvin, seseorang juga tengah merindukan aroma khas wanita itu. Ia sedang bermain PS dengan dua teman kentalnya itu di rumahnya. Kedua orang tuanya sedang pergi ke rumah sepupunya yang akan tunangan. Namun, sedari tadi berpisah dengan si empu aroma vanila itu, pikiran lelaki dengan hoodie abu-abu itu tidak bisa benar-benar fokus. Bukan hanya pada permainan sepak bola yang sedang ia mainkan. Melainkan pada semuanya. Photosoot, wawancara singkat tadi, sampai makan pizza di resto favoritnya pun hanya sekedar angin lalu. Menghirup udara dalam-dalam, Giandra melempar stik PS-nya secara asal. “Woi... kalem woi!!” ucap Ben yang terkejut karena lemparan Giandra mengenai kepalanya. “Salah sendiri main sambil baringan.” timpal Rizky yang lalu tertawa keras-keras. “Lo kenapa deh, Gi?” Ben memungut stik PS Giandra dan melempar kembali pada empunya. “laper lo? Main daritadi kalah mulu.” “Lagi malas main gue. Gue mau tidur aja deh duluan. Kalian tau kan di mana tempat tidur kalian?” tanya Giandra seraya melepas hoodienya dan menampilkan dirinya yang bertelanjang d**a. “Iya tau. Di lantai atas.” sahut Rizky masih fokus pada permainannya. “I mean, here. Malam ini kalian tidur di ruangan ini. Gue lagi nggak mau berbagi tempat tidur sama kalian.” Giandra lantas menyeret langkahnya menuju tangga. “Woi, gini-gini kita tamu lo.” Ben merasa tak terima. Tidur di ruang TV? Yang benar saja! “Tamu adalah raja, Gi!” “Dan raja nggak ngemis tempat tidur. Apalagi di rumah Giandra.” sahut Giandra seraya mulai menaiki dua anak tangga sekaligus. Setelah memastikan si pemilik rumah sudah benar-benar masuk kamar, Rizky meletakkan stik PS-nya, beringsut duduk mendekati Ben yang kembali berbaring. “Eh, menurut lo, semalam Gian tidur di mana?” tanya Rizky setengah berbisik. Ben mengangkat kedua bahu. “Di rumah neneknya?” “Geblek. Neneknya yang mana? Nenek dia kan di luar kota semua, Ben.” “Kenapa tadi lo nggak tanya aja sama dia?” “Giandra dari gue sampai di Galvina, udah lecek aja mukanya. Takut dijambak gue.” Ben terkekeh geli. “Lo kira Giandra itu mantan lo? Suka jambak-jambak?” “Ya, lo tau dong, rambut adalah aset berharga gue.” Ben menggeleng sambil masih terkekeh. “Apa mungkin di studio kali dia nginepnya?” “Nggak. Tadi pas gue di lantai atas copy katalog, gue tanya sama Xeline, yang datang paling awal di studio, dia bilang studio masih kekunci kok.” “Nggak tau deh gue Riz. Lagian lo jahat banget, temen dibiarin melarat.” tawa Ben kembali pecah. “Ya mana gue tau kalau tas dan duit dia ada di mobil juga.” Lelaki berambut cokelat tembaga itu manyun, menatap sofa panjang yang tadi diduduki Giandra. “Lo tau? Gue baru sadar kalau Mbak Galvin ternyata cantik banget.” “Woy,, gila!! Dia udah punya calon suami!” “So...?” “Jangan jadi pecabikor, dudul.” “Pecabikor apaan?” “Perebut calon bini orang.” Ben lantas tertawa kencang setelah menjawab pertanyaan Rizky. “Becanda doang, astaga, Ben! Gue masihlah cowok yang butuh asupan cewek cantik, dan kebetulan banget Mbak Galvin cantik.” Keduanya lantas tergelak. Melewati sisa malam dengan menyelesaikan permainan di layar dan meneguk bir yang disediakan Giandra. Tanpa mereka tahu, jika tepat di atas mereka duduk dan bergurau, si empunya rumah tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali iris biru itu tertutup, aroma Galvin yang semalaman ia hirup, merasuki pikirannya. Kembali teringat bagaimana jemari lentik wanita itu menahan lengannya, dengkuran halus Galvin ketika terlelap, dan aroma vanilla bercampur jeruk yang menguar ketika wajah Giandra menyentuh rambutnya. Semua ingatan itu benar-benar mengacaukan pikiran Giandra sekarang. Lelaki itu menyibak selimut hitam yang menutupi kulitnya. Mendengus kesal dan mengumpat, Giandra lalu memasuki kamar mandinya. f**k you, bro! Ia mengumpat pada bagian di bawah sana yang mendadak bereaksi karena membayangkan Galvin. Jujur saja, itu pertama kalinya Giandra satu ranjang dan begitu intim dengan lawan jenis. Astaga! Tidur satu ranjang? Ya, meskipun doing nothing.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD