Trapped-1 : Yellow and Banana

1347 Words
Suasana Japfood masih sepi ketika Galvin dan Arjun melangkah masuk. Seperti yang selalu disukai Galvin, Arjun akan mendorong pintu kaca JapFood, mempersilakan wanitanya itu masuk dengan gaya romantis; membungkuk dan mengulurkan tangannya. “May, breakfast like always.” seru Galvin pada May, salah satu pelayan Japfood. Gadis dengan beanie kelinci itu mengangguk seraya mengacungkan jempolnya. Bangku ujung sisi kanan restoran ini adalah tepat favorit Galvin dan Arjun. Mereka sudah melesat pada kursi yang ditata memang untuk dua orang. Menghadap langsung pada air mancur di sisi luar jendela kaca, tempat itu strategis karena memunggungi jalanan. Galvin duduk bersebelahan dengan Arjun. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celana bahannya. Sebuah kota persegi panjang. “For you,” lirihnya. “Arjun, serius, kamu nggak harus beliin aku apa-apa saat kamu ke luar negeri.” “But, it’s nothing.” sanggah Arjun. Tangan kirinya meraih tangan kanan Galvin, memaksa gadis di sampingnya itu untuk menerima kotak itu. “Nothing? Kalau ini isinya perhiasan lagi, akan aku kasihkan ke May.” hardik Galvin. Perlahan, wanita itu membuka kotak di tangannya. Meskipun begitu, irisnya tak berpaling dari si tampan di hadapannya yang mengulas tersenyum hangat. Pandangan Arjun lantas turun sejenak pada kotak di tangan Galvin. Membuat Galvin ikut menunduk, “Atau kalau ini kunci mob—” Kotak itu terbuka, dan... “It’s nothing.” ujar Galvin. Kedua alisnya bertemu, menatap si aroma buah anggur yang sedang menahan senyum di depannya. “Why it’s nothing?” “Seperti yang kamu mau, kan?” ujar Arjun lembut, mengusap pipi wanitanya. “Tapi, kalau kamu lihat lebih jelas, with your another eyes. Di kotak ini,” Arjun menunjuk kotak kosong di tangan Galvin, “There’s like a million kisses from me that I collected since the last time you kissed me. Last week. Seven days ago.” lanjut Arjun dengan nada serius. Galvin meletakkan kotak berwarna hitam itu pada meja. Ia menatap Arjun dengan tatapan sulit ditebak. Jemarinya bergerak, menari pada pipi Arjun yang ditumbuhi bulu halus. Terasa geli menggelitik telapak tangannya. Berhenti pada bibir lelaki merah gelap lelaki itu. “So... yang aku cium kotak with million kisses itu, atau, kulit menggoda ini?” bisik Galvin. “You choose.” balas Arjun tak kalah pelan sembari mengedipkan sebelah mata. Bersamaan dengan Galvin yang hendak mendekatkan wajahnya, May datang dengan nampan berisi sarapan mereka: nasi putih dengan olahan ikan salmon dan sup miso. “Itadakimasu!” seru May seraya membungkuk. “Thank you, May. Tapi lain kali pakai bahasa Indonesia aja.” jawab Arjun. “Gue pusing dengernya.” lanjut Arjun seraya menurunkan satu persatu mangkuk dari nampan. “Bang Arjun! Kalau nggak gitu, gaji May dipotong.” sahut May, mengambil kembali nampannya. “Arigato, May-san.” Galvin mengulas senyum ramah pada May. “Nah, Galvin aja sekarang udah bisa bilang makasih.” cibir May. “Gue orang India, May. Gue harusnya bilang—” “Arjun, udah deh. Ayo kita makan.” hardik Galvin. Ia tadi mengaku sudah kenyang setelah menyantap nasi uduk. Namun, melihat olahan ikan salmon di depannya, perutnya kembali protes. Arjun mendengus, sedangkan May memilih berlalu dari meja pelanggannya itu. “Jadi, siapa teman yang kamu bilang nemenin kamu semalam?” tanya Arjun, teringat cerita Galvin semalam tentang ada teman yang menginap di apartemen. “Oh, dia temennya temen, sih.” jawab Galvin sembari mengunyah. “Oh.” balas Arjun singkat. Lagi, yang disukai Galvin dari Arjun, pria dewasa ini tidak kepo. “Sini, aku suapin,” katanya, merebut sumpit di tangan Galvin. Meraih sendok di tempat yang sudah disediakan, Arjun mulai menyuapi wanitanya ini. “Kelamaan kalau paka sumpit. Aku ada meeting.” kilahnya saat mendapati wajah cemberut Galvin. “Tunggu bentar,” Galvin menahan suapan dari Arjun. Wanita itu lantas mendekatkan wajahnya pada sang pria. Kian dekat, hingga bibirnya menyatu pada bibir pria dengan setelan tuksedo itu, mencecap rasa cola yang tersisa dari bibir sang pria. Arjun menahan desahannya. Satu tangannya menekan tengkuk wanita yang menciumnya untuk memperdalam morning kiss-nya. Saat ia hendak menyelinapkan lidah, Galvin malah menyudahi ciuman itu. “Tujuh hari, Galv.” protesnya saat wajah sang kekasih perlahan menjauh. “I know. Kamu ada meeting, dan aku ada photoshoot. Jadi... kita lanjutin nanti malam, okay?” Meski mendengus, toh Arjun mengangguk. “I want a lot of it tonight.” “Of course. A million kisses you missed since you landed in Bangalore.” Arjun mengangguk mantap seraya tersenyum lebar. “Million kisses.” *** Galvina studio sedikit ramai pagi ini. Selain karena seluruh pegawai sudah masuk seperti biasa dan ada foto pre-wedding di lantai atas, juga karena ada Ben, Belia, Rizky, dan seorang gadis berseragam khas SMA Dellinger yang ikut rombongan Ben dan Belia. Galvin menurunkan kamera dari wajahnya. Menghela napas dan menyeka keringat di dahinya, ia memberi kode untuk kru yang lain untuk istirahat sebentar. “Sepuluh menit ya, teman-teman.” ucapnya sopan pada tujuh anggota kru yang membantunya. “Okee!!” sahut beberapa anggota kru. Galvin memilih duduk di lantai begitu kumpulan orang yang membantu pemotretan Giandra bubar. Mengabaikan kotor dan dingin, wanita itu duduk bersila sembari melihat hasil bidikannya lima puluh menit terakhir. Hari ini, tema pemotretan Giandra adalah warna kuning mustard. Lelaki yang semalam tidur merengkuh pinggangnya itu terlihat begitu berbeda mengenakan warna itu. Senyum Galvin merekah begitu saja melihat sang model yang berpose seraya memakan pisang. Oke, sebenarnya itu bukan pose, itu adalah candid saat Giandra sedang makan pisang, mencoba apa yang dimakan Rizky tadi; mengunyah cokelat bar hingga meleleh, lalu memakan pisang. Lelaki kurus tinggi itu sampai heboh karena rasa yang dhasilkan di dalam mulutnya itu menurutnya enak. Semua yang ada di ruangan ikut mencoba. Termasuk Giandra. “Nih.” Sebuah suara membuat Galvin mendongak. Dilihatnya satu cup teh terulur untuknya. “Oh, thanks.” sahut Galvin menerima teh hangat itu. Giandra, yang mengulurkan teh itu lantas ikut duduk di lantai. Ia meraih kamera yang barusan diletakkan Galvin di lantai. “Lo foto gue makan pisang?!” tanya Giandra. “Iya. Kenapa? Pose kamu bagus. Yellow selalu identik sama pisang, Gi.” “Iya, sih.” Giandra menyetujui. Ia kembali melihat hasil jepretan wanita di sampingnya. Saat sebuah panggilan membuatnya mendongak. “Kak Giandra, ada waktu sebentar?” tanya gadis berseragam khas SMA Dellinger. Bukan hanya Giandra, Galvin juga ikut mendongak. Tatapan wanita 26 tahun itu terlihat tidak ramah di mata si gadis SMA. “Saya Vella, dari Dellinger Jurnal. Saya datang untuk wawancara Kak Giandra. Apa boleh?” tanya gadis itu lagi. Raut penuh harap tersirat jelas di wajah merona itu. Cewek ini naksir Giandra, terka Galvin dalam hati. Wanita itu lantas beranjak dari duduk seraya mengambil kembali kameranya. “Ada ruang yang bagus buat wawancara di lantai dua, Gi.” kata Galvin. Berbanding terbalik dengan raut tidak ramahnya, kalimat yang barusan meluncur dari mulut si photographer ini terdengar sopan dan lembut, membuat senyum merekah di wajah Vella. Giandra menoleh pada Galvin untuk beberapa detik, lalu beralih pada Ben dan Belia di meja rias, serta pada Rizky yang masih asyik menikmati pisang cokelat. “Woi!!” Giandra berseru lantang. “Kenapa nggak ada yang bilang ke gue kalau ada wawancara?” Serempak, semua orang menoleh pada Giandra. Rizky malah tergopoh-gopoh menghampiri si iris biru. Melemparkan pisang yang tinggal separuh dan coklat ke sembarang arah. Raut si lelaki kurus tinggi berambut cokelat tembaga itu terlihat merasa bersalah. Galvin sebisa mungkin menahan senyum melihat ‘sulung’nya Oldies Club. “Maaf banget, Gi. Sumpah gue minta maaf. Gue semalam mau kasih tahu lo. Tapi, hp sama tas lo ada di mobil. Gue balik dari outlet jam lapan. Gue baru sadar lo belu—” “Lo berisik banget sumpah.” sela Giandra. Iris birunya menatap Rizky dengan kesal. “Gue bener-bener minta maaf, Gi. Semalam itu gue langsung balik. Pas tengah malam gue telpon lo nggak diangkat. Terus gue telpon rumah lo, dan tante Ocha bilang lo belum pul—” “Nyokap gue telpon?!” Giandra sukses dibuat langsung bangkit dari duduknya. “Iya. Gue bilang lo nginep di rumah Ben.” jawab Rizky menampilkan raut tak berdosanya. “Sorry. Lo bilang Giandra nginep rumah gue?!” Itu pekikan dari Ben di meja rias. Lelaki tinggi dengan porsi tubuh yang pas dan berambut hitam gelap itu pun beranjak dari kursi, melangkah lebar menuju Rizky dan Giandra. Di pinggir set untuk pemotretan, Galvin berusaha menahan tawanya. ‘Perpecahan’ kecil yang sedang terjadi ini lumayan menghiburnya. “Riz. Serius, masalah lo apa sama gue?” omel Ben seraya menarik lengan Rizky. “Lo tau sendiri gue seharian kemarin ada di rumah sakit sama Belia.” “Ya terus? Emang kalau lo di rumah sakit sama Belia, Giandra nggak boleh nginep rum—” Ucapan Rizky terhenti karena deheman keras dari Galvin. Niat wanita itu sebenarnya hanya berdehem karena sudah tak kuat menahan tawa. Namun, karena seluruh isi studio kini berangsur menatapnya, maka si pemilik sementara Galvina Studio ini buka suara, menjelaskan, “Tadi aku bilang ten minutes break, kan? Bisa kalian selesaikan pertempuran kalian nanti? Aku ingat Vella di sini butuh wawancara sama Giandra.” Galvin lantas berlalu menuju tangga ke lantai dua setelah menutup mulutnya. Lagi, menahan tawa.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD