*****
Echa melajukan mobil bersama kedua sahabatnya menuju studio lukisan.
"Beb loh mau ngajak kita kemana sih?" tanya Luna penasaran.
"Iya nih bikin penasaran kita aja. Terus ini tempat apa?" tanya Tara bawel.
"Kalian gak liat ya disini ada apa?." tanya Echa.
"Ada lukisan" Jawab Luna dan Tara kompak.
"Kompak banget sih." seru Echa
"Iya kita tau ini studio lukisan, tapi punya siapa? Tanya Luna.
"Tempat nya bagus banget ya guys. Seru banget kalo nongkrong disini. Lukisan juga pada bagus-bagus semua." seru Luna sembari memegang lukisan.
"Iya nih Lun. Pasti yang punya lukisan ini pelukis profesional banget, semua lukisannya seperti nyata." ucap Tara begitu mengagumi lukisan tersebut.
"Ikut gue kalo kalian mau tau orangnya siapa?" Echa menarik kedua tangan sahabatnya kemudian masuk keruangan Echa.
"Cha. Kok disini ada foto loh?" tanya Luna heran.
"Iya beb, kok disini ada foto loh?"
Kedua sahabatnya penasaran sekaligus heran kenapa ada foto Echa di studio lukis itu.
"Ya iyalah studio ini kan punya gue. Jelas lah ada foto gue disini." seru Echa menunjukan foto nya bersama Gilang.
"Jadi studio ini punya loh?" tanya Tara kaget.
"Sejak kapan lo punya studio sebagus ini. Ya kita tau sih loh dari dulu emang suka melukis tapi setau gue lo gak pernah tau studio ini.
"Iya sejak kapan lo punya studio?"
"Iyalah kalian gak tau, studio ini kan baru. Gue ngajak kalian kesini buat nunjukin studio ini.
"Ya Ampun lebay banget sih lo, sampe foto loh sama Gilang aja juga ada disini." Luna mengambil foto Gilang yang dipajang di dinding.
"Gue gak lebay. Tapi studio ini emang dari Gilang, dia ngasih ini spesial buat gue."
"What..!! Gilang ngasih studio ini buat lo? Gilaaa..! Dia baik banget sama lo sampe ngasih studio ini segala."
"Gilang selain sweet, ternyata dia baik banget ya sama loh."
"Ya Tar, gue jadi iri deh. Studio nya emang gak terlalu besar sih tapi ini udah luar biasa banget loh."
"Coba aja gue punya pacar pasti bakal lebih dari ini."
"Makanya bu, jangan jomblo mulu." terkekeh.
"Yee ngatain gue jomblo, loh lebih parah dari gue."
Suara ponsel berasal dari tas Echa. Echa merogoh ke dalam tas nya, ia melihat layar ponsel nya. Ya chat dari Gilang yang cuma menyapa nya.
***
Gilang duduk sembari memainkan ponselnya.
"Hey bro, ternyata luh disini. Gua udah keliling nyariin lo. Btw lu lagi ngapain senyam-senyum sendiri sama ponsel, jangan-jangan luh kesambet ya." duduk di sofa sambil mengunyah gorengan yang ada di depannya.
"Apaan sih luh. Siapa juga yang kesambet, luh kali." Gilang sibuk dengan ponselnya.
Aldo merampas ponsel milik Gilang. Ia melihat chat dari Echa.
"Widih..!! Pantesan kayak orang kesambet, ternyata chatan dari cewek."
"Sini gak handphone gua." Gilang berusaha mengambil ponsel dari tangan Aldo, namun gagal.
"Biasa aja kali bro. Gua gak kan kasih handphone ini sampa luh jujur cewek ini siapa?."
"Temen. Balikin handphone gua."
"Kalo luh gak mau ngaku, ya udah biar gua cari tau sendiri." Aldo memainkan ponsel milik Gilang.
Gilang berusaha merampas ponsel nya namun, Aldo langsung mengangkat ponsel tersebut keatas.
"Kasih tau ke gua. Dia siapa? Ntar baru gua balikin."
"Okey, okey.! Dia Echa, pacar gua. Puas luh." menggerentak.
"Hah! Jadi lo udah jadian sama cewek yang kemarin?" Aldo terkejut.
"Nama nya Echa. Iya gua udah jadian sama dia."
"Kapan? Jahat lo, udah jadian sama tapi gua gak di traktir."
"Sorry, gua lupa kalo gua punya temen." Gilang terkekeh sembari melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan.
****
Echa dan kedua sahabatnya berjalan menuju lift untuk turun, mereka sibuk mengobrol dan tertawa sembari membawa belanjaan sehingga tidak memperhatikan orang disekelilingnya.
Exsel berjalan terburu-buru dari arah berlawanan menabrak seorang gadis, gadis itu hampir jatuh, namun Exsel dengan sigap nya ia menangkap Echa.
Terjadi lah tatap-tatapan di antara mereka berdua. Semua orang di sekeliling Nya terkejut dan memperhatikan mereka berdua.
"Aduh..!! Ini jantung gue kenapa sih deg-degan gini, kok di dekat Echa gue jadi keringat dingin. Apa ini tanda-tanda kalo gua punya perasaan sama dia? Oh gak,gak,,!! Ini perasaan gue aja kali." Ucapnya dalam hati.
Mereka terus menatap.
Sampai pada akhirnya Luna yang menghancurkan tatapan tersebut.
"Ehm..!! Lama banget sih tatapannya."
Tara hanya tersenyum.
Echa sadar dari lamunannya, dan langsung berdiri.
"Maaf..!! Tadi gue gak sengaja, makasih udah nolongin gue." Echa menarik kedua tangan sahabatnya
Echa dan kedua sahabatnya pergi meninggalkan Exsel menuju mobil.
"Gue kenapa sih, kenapa jantung gua rasa nya mau copot gini. Apa yang terjadi sama gue? Gak mungkin gue suka sama Echa, mustahil kan? Dia kan cuma fans gua, dan gua ketemu sama dia juga karena gak sengaja. Jadi gue gak mungkin suka sama dia." Exsel ngedumel diri nya sendiri.
**
Exsel sudah tiba di rumah. Ia membantingkan diri nya diatas tempat tidur, seketika ia membayangkan pertemuannya bersama Echa. Saat itu ia seperti orang gila dengan pikirannya yang diracuni dengan wajah Echa.
Gelisah dan kacau itu yang ia rasakan sekarang, ia tak tahu perasaan apa yang muncul di hatinya sehingga membuat ia tampak gelisah dan tidak tenang.
Tidak lama kemudian Gilang pulang.
Exsel pergi menuju ruang keluarga, sedangkan Gilang baru menuju kamar nya. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat keberadaan Exsel yang duduk di ruang keluarga.
"Luh kenapa Sel? Kusut banget muka luh?" mengambil posisi duduk disebelah Exsel.
"Gua gak papa. Baru pulang luh." memijit pelipisnya.
"Gak mungkin gak ada apa-apa. Muka lo tuh kusut kayak gitu. Cerita sama gua ada apa.
Menghelaikan nafas. " Gua juga gak tau. Tadi gua habis ketemu sama cewek, gak tau kenapa setiap ketemu sama dia rasa nya gue kayak orang linglung, dan badan gua gemeteran."
"Oh itu. Jangan-jangan luh jatuh cinta kali sama tuh cewek. Emang siapa sih tuh cewek nya?"
"Gak mungkin, gua ketemu sama dia gak sengaja. Jadi gak mungkin gue suka sama dia."
"Namanya orang jatuh cinta, dimana dan sama siapa pun itu gak peduli. Cinta itu datang sendiri nya. Tergantung kita aja, bisa gak mengatasi perasaan itu. Dan kita harus berjuang demi apa yang kita mau.
*****
Jangan lupa kritik dan saran
Follow dan vote juga.
Maaf Jika salah menuliskan nama/ gelar