I. Merpati Pengamat
Hidup di dalam dunia yang penuh akan sihir dan misteri rasanya sangatlah membanggakan bagi Vulken. Setiap orang memiliki keunggulannya masing-masing, memiliki kekuatan sihir yang beragam dan juga memiliki tingkatan sihirnya sendiri. Termasuk Vulken, ia berasal dari keluarga kerajaan yang sering dianggap para masyarakat sebagai orang-orang angkuh dan memikirkan kepentingannya sendiri. Namun, Vulken tidak seperti itu. Ia lebih memilih untuk menjadi sosok yang rendah hati, tidak sombong dan tidak banyak bicara. Vulken ingin membuktikan bahwa tidak semua keluarga kerajaan seburuk itu.
Pemikiran masyarakat luar tentang sifat dari keluarga kerajaan seperti sebuah ironi. Mereka dapat mengatakan keluarga kerajaan kejam ataupun sombong, lalu bagaimana dengan para bandit atau saudagar yang setiap hari mereka layani … para masyarakat desa di luar kerajaan terpaksa bekerja dengan mereka. Entah itu menjadi petani, penebang kayu ataupun penambang. Masyarakat terpaksa menjualnya kepada para saudagar karena hanya mereka yang menerima hasil kebun, kayu ataupun tambang.
Nasib s**l dapat menimpa para warga apabila tiba-tiba sekumpulan bandit datang tiba-tiba dan merampas hasil kerja keras mereka. Walaupun hal macam itu jarang terjadi karena biasanya jika ada laporan pergerakan bandit prajurit kerajaan akan langsung bergerak. Tetapi tetap saja jika ada kehilangan yang disalahakna pihak kerajaan padahal daerahnya saja sudah di luar istana.
Kerajaan sering mendengar laporan kehilangan, pencurian, k*******n hingga pemaksaan. Tapi, para keluarga kerajaan diminta untuk diam oleh sang raja yang sekaligus ayah dari Vulken. Ayahnya kerap berkata, “Masalah rendahan mereka itu tidak setingkat dengan kita. Lagi pula rumah mereka itu berada di luar istana. Jadi, jangan pernah sekali pun kalian membantu mereka, camkan itu!” Mendengarnya Vulken merasa kasihan tetapi ia juga tidak dapat melakukan apapun.
Sebetulnya bukan hanya Vulken yang tidak menyukai sikap ayahnya tersebut yang seolah keluarga kerajaan berada di atas segalanya. Beberapa keluarga kerajaan yang lainnya juga tidak suka dengan perilaku dari ayah Vulken. Tetapi apa mau dikata, ayahnya adalah seorang raja yang memegang kuasa penuh atas kerajaan ini. Tidak ada seorang pun yang merani melawan atau menentangnya, bahkan penasehat dan panglima kerajaan tidak ada yang memiliki cukup nyali untuk melakukannya.
Melihat masyarakat miskin diluar wilayah kerajaan yang hidupnya megitu miris, hal itu tidak jauh berbeda dari nasib yang dimiliki oleh Vulken Frist. Anak tunggal dari keluarga utama kerajaan Frist, mewarisi kekuatan api abadi Vermillion, kekuatan dari sang Helios yang apinya begitu bersinar bak mahkota raja. Namun, kekuatan api abadi itu belum dapat dibangkitkan oleh Vulken. Ibunya mengatakan perlu latihan, tekad, rasa sakit untuk membangkitkannya. Vulken tidak pernah mengerti apa yang dimaksud ibunya tetapi ia percaya bahwa kekuatan api abadi Vermillion suatu hari nanti akan ia dapatkan.
Ibu Vulken juga sering mengatakan semangat dan api yang berkobar dari sang Helios harus terus membara seperti semangat keluarga Frist. Rasanya sang ibu mengatakan hal tersebut untuk menyemangati Vulken dari ketidak percayaan dirinya sendiri. Keluarga kerajaan Frist hampir tidak ada yang pernah benar-benar menyukai Vulken terutama saudara dekatnya bahkan ayahnya sendiri.
Hal itulah yang kerap membuat Vulken hilang semangat ketika keluarganya sendiri mencemoohi, merendahkan, juga mengucilkan Vulken. Semua itu terjadi karena ada cacat di mata kiri Vulken akibat terkena kutukan iblis. Pandangan jelas Vulken hanya melalui mata kanannya sedangkan mata kirinya yang terkena kutukan dari iblis penglihatannya agak kabur. Jika ditanyakan bagaimana bisa kutukan iblis itu bisa menyasar ke mata Vulken, hal itu karena ayahnya sendiri.
Tidak ada yang tahu kecuali sang ibu dan Vulken jika ayahnya yang gila akan tahta kekuasaan menyebabkan penglihatan Vulken terganggu. Vulken merasa sangat tersiksa dengan kutukan itu karena terkadang segelnya mengeluarkan kekuatan aneh yang membuat pandangan dari kedua matanya kabur. Bahkan sempat Vulken tidak dapat melihat untuk beberapa saat karena kekuatan aneh yang muncul dari matanya itu.
Vulken menatap cermin di kamarnya. Melihat dirinya sendiri yang berdiri tegak dengan penuh keputusasaan. “Mengapa aku dilahirkan dengan cacar kutukan seperti ini? Aku kerap menderita karenanya. Andai saja ayah tidak tergila-gila dengan tahta raja, pasti hidupku akan jauh lebih baik daripada saat ini,” lirih Vulken berkata.
Setelah itu tiba-tiba Vulken menghantamkan kepalan tangannya ke cermin. Alhasil ujung kepalannya berdarah dan cermin menjadi retak. Setetes air mata melintasi pipi Vulken saat itu juga.
Sedari kecil Vulken menjadi bahan ejekan bagi teman-temannya di akademi. Mereka mengejek Vulken saat jam istirahat atau sebelum jam pulang untuk menghindari ketahuan dari guru. Karena apabila ketahuan mengganguku, para guru akan langsung menelfon prajurit dan berakhir keluarga dari anak yang membuli Vulken berada dalam masalah. Salah satu peraturan kerajaan yang mengaturnya, di mana tidak ada seorang pun di luar keluarga kerajaan asli yang dapat mengganggu anggota keluarga kerajaan.
Walaupun sang ayah dan keluarga kerajaan lainnya banyak yang tidak suka kepada Vulken, para prajurit dan orang-orang yang bekerja untuk kerajaan sangatlah patuh kepada peraturan yang telah ada entah karena apa. Intinya walaupun ada masalah apapun itu, sekalinya melanggar ketetapan peratutan maka prajurit kerajaan akan langsung bergerak.
Waktu tak pernah berhenti dan terus berjalan. Vulken sudah mulai beranjak dewasa. Karena sedari kecil sudah mendapatkan diskriminasi juga seolah dibedakan dari yang lainnya, ia berpikir bahwa akan lebih baik jika hidup mengurung diri di dalam kamar istana. Ia hanya keluar jika benar-benar perlu dan tidak pernah pergi ke mana pun setelahnya. Ia paham betul jika kutukan iblis yang ia miliki bukan karena keinginannya sendiri. Hal itu juga yang membuat Vulken merasa tidak pantas untuk hidup.