10. Tell Me about You (3)

1385 Words
Chapter 10 : Tell Me about You (3) ****** WANGI parfum Riel kembali tercium di hidung Fae. Wangi yang segar, tetapi membuatmu merasa nyaman. Pipi Fae memanas. Panasnya dengan cepat menjalar hingga ke telinga. Wajahnya memerah. Merah terang. Perlahan-lahan, dengan detak jantung yang sama sekali tak santai itu, Fae pun mengangkat wajahnya. Dia melihat ke atas… …hanya untuk menemukan Riel yang juga telah menunduk ke arahnya. Riel menunduk demi melihat wajahnya. …dan tatapan mereka bertemu. Wajah mereka sangat dekat dengan satu sama lain; hidung mereka lagi-lagi hampir menempel. Fae bisa merasakan napas hangat Riel yang berembus mengenai permukaan wajahnya. Bola mata Riel terlihat begitu jernih dari jarak yang dekat seperti ini. Hidung pemuda itu mancung…dan... …ekspresinya tampak sedikit…terkejut. Buku diari itu masih ada di tangannya. Tubuh Fae benar-benar mematung. Dia yakin kalau sekarang Riel bisa mendengar detak jantungnya yang keras dan cepat itu. Dia pun jadi lupa bernapas. Matanya masih melebar tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Akan tetapi, tiba-tiba saja… Riel tersenyum miring. “Kumandikan, yuk?” Spontan Fae membeliakkan mata. Gadis itu langsung bangkit duduk—menduduki perut Riel—dan dengan wajah merah bak lampu lalu lintasnya itu, dia meraih bantal guling dan langsung memukuli Riel habis-habisan. Dia memukul d**a, kepala, dan tangan pemuda itu dengan sekuat tenaga. “DASAR JAMUR ORANYE GILAAAAAA!!!!!!!! AKU MEMBENCIMU!!!!!!” Riel tertawa kencang—kencang sekali—dan menepis seluruh pukulan Fae. Dia terlihat puas sekali. Dia seperti berjemur santai di antara seluruh penderitaan Fae. Mengatakan bahwa dia ‘menikmati’ situasi itu rasanya sudah tidak cocok. Terlalu ringan. Dia jauh dari sekadar menikmati situasi itu. Sialaaaaaaaan!!! Keadaan itu bertahan selama beberapa menit. Fae yang terus memukuli dan mengejar Riel dan Riel yang menghindar seraya menepis pukulannya. Ujung-ujungnya, buku diari itu terlupakan. Tergeletak di atas ranjang. Itu bagus untuk Fae, sebenarnya. Jadi, setelah lelah kejar-kejaran dengan Riel, Fae pun mengambil kembali buku diari itu dan menyembunyikannya di dalam lemari. Riel—yang sejak tadi tak henti-hentinya tertawa—akhirnya mulai berusaha menghentikan tawanya. Karena kesal, Fae pun mendengkus, berkacak pinggang, dan menatap Riel seraya berkata, “Ayo cepat kita kerjakan PR-nya! Lelah sekali meladeni orang menyebalkan sepertimu.” Riel malah tertawa lagi. Akhirnya, mereka berdua pun mengerjakan PR Matematika di meja belajar Fae. Fae mengambil satu kursi lagi dari luar untuk Riel agar mereka bisa duduk berdua menghadap meja belajar itu. Karena Riel sebenarnya tidak membawa buku PR-nya (well, sebenarnya dia tidak berniat datang ke rumah Fae untuk mengerjakan PR, tetapi karena dia ingin mengganggu Fae lebih lama, dia jadi membuat-buat alasan), Riel hanya meminta satu kertas kosong dari Fae. Nanti, di rumah, dia akan menyalin jawaban-jawaban di kertas kosong itu ke buku PR-nya. Awalnya, bukannya mengerjakan soal, Riel malah sibuk memperhatikan Fae. Dia menumpukan sikunya di meja, lalu menatap Fae seraya tersenyum manis. Fae kesal, tetapi di sisi lain, dia juga malu diperhatikan begitu. Duuh, mengapa si Jamur Oranye ini selalu bersikap seperti ini, siiihh?! Namun, tatkala akhirnya Fae mengomel, barulah Riel tertawa kecil dan berkata, “Iya, deh, iya…” seraya mengerjakan PR-nya. Selang lima menit kemudian, Fae akhirnya sampai di soal ketiga. PR mereka saat itu hanya lima soal, tetapi jawabannya cukup panjang. Riel…agaknya sudah santai. Pemuda itu kembali pada posisinya semula, yaitu memperhatikan Fae seraya tersenyum manis. Dia santai karena sudah selesai atau karena tidak mengerjakan?!!! Entahlah. Fae lelah sekali meladeninya. Soal ketiga dari PR Matematika saat itu adalah tentang fungsi. Begitu melihat soalnya, Fae sempat mengernyitkan dahi. Aduh. Sepertinya, ini agak rumit baginya. Fae mulai melihat buku catatannya. Melihat satu per satu catatan rumus dan latihan soal yang sudah dikerjakan, lalu menentukan bagaimana cara yang tepat untuk menyelesaikan soal nomor tiga itu. Fae mulai menulis. Namun, dia agak terhenti di tengah jalan karena sedikit ragu. Alisnya menyatu. Dia berpikir panjang. Tiba-tiba saja, terdengar sebuah suara. “Tulis dulu komposisinya.” Fae tersentak. Itu adalah suara Riel. Tak ayal, Fae pun menoleh kepada pemuda itu. “Eh?” Riel tersenyum. Pemuda itu memajukan tubuhnya—mendekati Fae—lalu menunduk untuk melihat jawaban-jawaban di buku Fae. Fae meneguk ludah saat wajah Riel berada dekat dengan wajahnya. Pemuda itu masih tersenyum seraya memperhatikan tulisan Fae. “Soal yang sedang kau kerjakan ini,” ujar Riel seraya menunjuk soal nomor tiga. “tulis dahulu komposisinya.” Fae mengangguk. Dalam hati, ia sangat heran. Mengapa Riel tampak lebih tahu? Jadi, sebetulnya, tadi itu Riel benar-benar menyelesaikan PR-nya atau cuma bermain-main? Karena tak ingin memikirkan itu lebih lama, Fae pun menulis komposisinya pelan-pelan. (g∘f)(x)=g(f(x)) =g(3x−2) Fae berhenti. Dia kurang yakin untuk bagian selanjutnya. “Hm,” deham Riel seraya mengangguk. “Karena g(x) itu sama dengan √x+1​, berarti g(3x−2) itu sama dengan √(3x−2)+1.” Riel menunjuk soal nomor tiga dan komposisi Fae bergantian. Fae mengangguk-angguk, lalu menuliskan apa yang Riel katakan. Saat Fae selesai menulisnya, Riel pun mengangguk dan menunjuk apa yang Fae tulis. “Nah, sekarang, √(3x−2)+1 itu sama dengan √3x-1. Berarti, (g∘f)(x)= √3x−1.” Diam-diam, Fae memperhatikan wajah Riel saat pemuda itu menjelaskan padanya. Ada titik-titik keringat di pelipis pemuda itu. Dia sangat tampan…dan sangat lugas saat mengajari Fae. Namun, tidak ada nada meremehkan sama sekali dari suaranya. Dia masih Riel yang ramah; masih Riel yang secerah mentari; masih Riel yang murah senyum. Ternyata, Riel itu…pintar sekali. Fae diam-diam melirik ke PR yang Riel kerjakan…dan ternyata kertas kosong milik pemuda itu sudah terisi penuh. Artinya, Riel memang sudah selesai sejak tadi. Fae meneguk ludahnya. Dia lagi-lagi memperhatikan wajah Riel…tetapi kali ini dengan rasa kagum sekaligus tak menyangka. Ternyata, di balik sikap menyebalkannya itu, Riel menyimpan banyak sekali kejutan. Pohon ginkgo, kisah masa kecil yang belum Fae ingat (dan entah itu benar atau tidak), serta otaknya yang pintar. “…nah, setelah diubah menjadi y, kita putar balik saja fungsinya kalau dia minta invers. Tukar x dan y-nya. Kuadratkan kedua sisinya untuk menghilangkan akar. X kuadrat sekarang sama dengan 3y−1. Pindahkan 1 ke sebelah X kuadrat, lalu nanti dibagi 3. Itu adalah jawaban invers (g∘f) (x).” Fae menatap buku PR-nya, lalu mengangguk-angguk. Well…meskipun sebetulnya, dia tak terlalu memperhatikan apa yang Riel ajarkan. Dia cuma fokus…memandangi Riel. Riel pun menoleh padanya. “Hmm? Mengapa kau melamun? Apakah caraku menjelaskan—” “Riel.” Spontan mata Riel melebar. Soalnya, tiba-tiba saja, panggilan dari Fae itu terdengar… …serius. Tatapan Fae pada Riel saat itu sangatlah…saksama. Lurus. Dalam. Mereka saling menatap selama beberapa detik. Ah, ya. Benar. Fae teringat sesuatu. Kata-kata ibunya sepulang sekolah tadi. Dia harus menanyakan semuanya kepada Riel. Semua keterkejutannya. Semua kebingungannya. Semua pertanyaannya di dalam hati. Semua hal yang baginya terasa ganjil. Inilah saatnya mengonfirmasi segalanya. Riel berkedip perlahan. “Hm?” deham pemuda itu. Fae meneguk ludah. Gadis itu diam sejenak. Akan tetapi, akhirnya…dia mulai membuka suara. “Mamaku bilang…dulu kau sudah pernah tinggal di sebelah. Kau pernah jadi tetangga kami.” Mata Riel sedikit melebar. Pemuda itu diam sejenak; dia menatap Fae selama beberapa detik. Namun, akhirnya, Riel menghela napas dan tersenyum. Dia sedikit mengusap tengkuknya, lalu berpikir seraya melihat ke arah lain. Seolah-olah ingin memastikan sesuatu. “Aahh, iya. Dulu, kami pernah tinggal di sini. Kalau aku tidak salah hitung, sepertinya…itu belasan tahun yang lalu. Waktu aku masih kecil.” Fae lantas menyatukan alis. “Benarkah? Kok aku tidak ingat, ya? Jadi, mengapa kau pindah?” Riel tertawa kecil. “Ayahku pindah tugas. Mutasi ke Seoul. Makanya, kami pindah.” Dahi Fae masih berkerut; dia lagi-lagi bingung, soalnya dia tidak ingat sama sekali. Kini, dia mulai memiringkan kepalanya. Jeda sejenak, sebelum akhirnya…dia pun bertanya. “Jadi…mengapa kau kembali lagi ke sini?” Tatapan mereka bertemu. Riel belum menjawab. Dia seolah-olah…masih menunggu Fae menyelesaikan pertanyaannya. “…Apakah ayahmu…mutasi lagi?” lanjut Fae. Ternyata, pertanyaan itu memang ada lanjutannya. “Akan tetapi, walaupun ayahmu mutasi ke sini, seharusnya lebih baik kau tetap di Seoul. Tanggung sekali kau pindah sekolah sekarang. Lagi pula, di Seoul sekolahnya pasti lebih bagus.” Mendengar kata-kata Fae, Riel jadi menghela napasnya dan tersenyum. Karena Riel hanya tersenyum, Fae pun spontan memukul bahu pemuda itu dan berkata, “Hei! Kok malah tersenyum, sih?! Jawab aku, dong!!” Riel tertawa. Tiga detik kemudian, pemuda itu mulai memiringkan kepalanya. Dengan nada bercanda, dia pun menjawab: “Mungkin karena sudah takdirnya aku bertemu denganmu?” katanya seraya mengedikkan bahu. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD