9. Tell Me about You (2)

1212 Words
Chapter 9 : Tell Me about You (2) ****** RIEL menangkis bantal itu dan tertawa lepas. Bantal yang malang itu jatuh ke lantai begitu saja. Memang jamur beracun s****n. Fae mengalihkan pandangan, napasnya berembus kencang karena kesal sekaligus malu. Wajahnya masih memerah. Tak lama kemudian, suara Riel kembali terdengar. Namun, kali ini, suaranya… …begitu lembut. “Fae,” panggilnya. Mendengar panggilan yang sangat lembut itu, Fae pun menoleh. Dia melihat Riel…yang duduk di depannya, di kursi itu... …tengah tersenyum lembut. Tatapan Riel begitu teduh. Dalam. Dua detik kemudian, pemuda itu sedikit memiringkan kepalanya…dan kembali membuka suara. “Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” Mata Fae melebar. Gadis itu terdiam. Jantungnya berdebar-debar. Ia melihat wajah Riel yang begitu tampan…di depan sana. Meskipun kamarnya tak terlalu terang—karena lampunya berwarna krem dan dindingnya berwarna coklat—ia tetap bisa melihat betapa cerahnya wajah Riel yang disinari lampu belajar itu. Bersih, mulus, dan natural. Rambut oranye miliknya terlihat polos dan lembut sekali. “U—Untuk apa?” tanya Fae, menutupi rasa gugupnya. Riel tertawa kecil. “Ya untuk chat dan telepon, dong. Mungkin untuk video call juga saat kau sedang ganti baju.” Pipi Fae merona, dia melempar bantal lagi ke wajah Riel. “KELUAR DARI KAMARKU!!” Tawa Riel langsung pecah. “Kok diusir, sih? Sudah jauh-jauh pacarnya datang, malah diusir.” “PACAR DARI MANA?!!” teriak Fae. Oh, astaga, Fae stres sekali menghadapi makhluk bermulut buaya itu. Lagi pula, ‘jauh’ apanya?! Kan rumah mereka bersebelahan!! Pemuda itu butuh dibawa ke rumah sakit jiwa. Dia berdelusi. “Calon pacar,” ralat Riel, menekankan kata ‘calon’. Pemuda itu lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celana. “Aku minta nomormu, yaa.” Fae memutar bola matanya. “Aku tak ingat pernah mengiyakannya.” “Oh, tidak boleh, ya? Ya sudah. Kalau begitu, aku akan datang ke kamarmu setiap hari. Soalnya, aku tidak bisa menghubungimu,” ucap Riel seraya tersenyum manis. Namun, kok senyumnya terasa agak…sadis? Apakah dia sedang…mem-blackmail Fae? APA-APAAN ITU? Apa dia serius?! WHAT’S WRONG WITH THIS HUMAN?! Sial. Menyebalkan sekali! “Mengapa kau harus menghubungiku??” tanya Fae tak habis pikir. Riel memiringkan kepalanya. “Lho, memangnya salah kalau tetangga saling menyimpan nomor?” “Kita bakal bertemu setiap hari, jadi itu tak perlu,” jawab Fae. “Kau harus punya nomorku, Fae. Kalau tiba-tiba kau terkunci di dalam rumah dan ibumu tak ada, siapa yang akan menyelamatkanmu kalau bukan aku?” tanya Riel. Fae mengangkat alis. “Hah? Mengapa juga aku harus terkunci di dalam rumah? Konyol sekali.” “Ya aku yang akan menguncimu, supaya kau minta diselamatkan,” jawab Riel seraya tersenyum miring. SIALAN. “KAU!!!” teriak Fae. Riel kembali tertawa kencang. Agaknya, dia puas sekali mengganggu Fae malam ini. “Itu skenario sempurna untuk jatuh cinta dengan penyelamatmu.” HAH? Jatuh cinta apanyaaaa?!!! APA DIA TERLALU BANYAK MENONTON DRAMA ATAU SESUATU?! Anak ini minta dijewer. “Kau mau kubunuh, ya?!!!” kata Fae. Riel pura-pura bergidik ngeri; dia memeluk tubuhnya sendiri. Namun, dia masih tersenyum jail. “Jangan seram-seram, dong, Cantik. Jadi ngeri, nih. Kan niatnya datang ke sini mau mengunjungi calon pacar.” Fae mendengkus; dia kesal bukan main. Lagi-lagi, Riel menyebut kata ‘pacar’. Fae benar-benar tak bisa memahami isi otak pemuda satu itu. Tengil sekali. Tak lama kemudian, Riel menghela napas. Pemuda itu mulai memasang senyum lembutnya lagi. “Minta nomor ponselmu, ya?” Akhirnya, karena melihat ekspresi lembut Riel, tatapan teduh Riel, dan bagaimana Riel duduk di depan sana menunggunya, Fae pun… …menghela napas. Akhirnya, meski masih sebal, Fae mulai mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Dia membuka kontaknya dan membacakan nomornya kepada Riel (berhubung dia tak hafal nomor ponselnya sendiri). Ujung-ujungnya, mereka bertukar kontak. Menyimpan nomor ponsel satu sama lain. Namun, saat Riel mulai mengirimkan pesan pada Fae—dia mau ‘mengetes’, katanya—isi pesan pertamanya adalah: Malam, Cantik. Nanti pas mandi jangan lupa VC Abang, ya😘 Bulu kuduk Fae langsung berdiri semua tatkala melihat isi chat itu. Pipinya langsung memanas dan dia langsung meneriaki Riel habis-habisan. Namun, Riel? Seperti biasa hanya tertawa. Apa-apaan, sih?!!!! Kalau begini, bisa mampus juga Fae lama-lama. Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas kembali, tiba-tiba saja Fae mendengar Riel berbicara. “Fae, ini buku apa?” Fae langsung menoleh kepada Riel seraya mengernyitkan dahi. Di depan sana, dilihatnya Riel tengah mengangkat sebuah buku. Riel membolak-balikkan buku itu, melihat cover depan dan belakangnya. Jantung Fae nyaris saja berhenti berdegup. Mata gadis itu memelotot seketika. Wajahnya memucat. Mulutnya menganga. Itu— Itu adalah… …buku diarinya!! YA TUHAAAAANNN!!!! Fae langsung berlari. Gadis itu mendekati Riel dengan sangat panik. Astaga, dia lupa kalau dia selalu menaruh buku diarinya di atas meja!! Sialaaan! Dari semua buku yang ada di atas meja belajarnya, mengapa Riel harus mengambil buku itu, sih?!!!! Demi Bumi dan segala isinya, isi buku itu terlalu memalukan untuk dibaca orang lain! Seluruh rahasia Fae ada di sana, termasuk dia yang hampir pipis di celana waktu SMP dahulu!!! “JANGAAAAAANNNNN!!!!!” jerit Fae. Melihat Fae yang berlari ke arahnya dengan panik seraya berteriak “Jangan!!”, seketika Riel pun melebarkan matanya. …dan satu detik kemudian… …pemuda itu langsung tersenyum miring. Wah, kayaknya buku diari, nih. Riel langsung berdiri dan mengangkat sebelah tangannya ke atas (tangan yang memegang buku itu) begitu Fae sampai di depannya. Riel berjinjit dan Fae sibuk melompat-lompat agar bisa meraih buku itu. Fae tampak cemas dan panik setengah mati. Dia hampir merengek. “RIEL! BERIKAN BUKU ITU PADAKU!!” teriaknya. “RIEEELL!!!” Riel tersenyum jail, dia tampak senang bukan main. Senang di atas kegelisahan Fae. “Heeeh? Mengapa kau kelihatan panik sekali?” Fae melompat tinggi-tinggi, mengangkat tangannya ke atas untuk meraih buku itu. Namun, tidak juga sampai. Riel mengayunkan tangannya ke segala arah agar Fae tak bisa mencapainya. “BERIKAN SAJA BUKU ITU PADAKU!!!” teriak Fae lagi. Wajahnya pucat minta ampun. s**l. Di sana ada tumpahan kekesalan Fae saat pertama kali bertemu Riel kemarin, saat Riel menyebut tank top merah mudanya. “Kan aku mau baca.” Mata Riel melebar polos. “Memangnya ini buku apa, hmm?” Sialaaaaaannnnn!! Pemuda ini tahu kalau aku takut dia melihat isi buku itu, jadi dia menikmatinya!!! “RIEEEEEELLLL!!!!!!!” teriak Fae. Tawa Riel kembali lepas, seperti benar-benar sengaja. Pemuda itu melangkah mundur dan Fae mengikutinya sambil masih lompat-lompat di depannya. Fae tahu kalau dirinya sedang dipermainkan, tetapi dia menepis semua pikiran itu ke sisi terlebih dahulu. Mengambil buku diarinya dari Riel adalah hal yang terpenting saat ini!! Riel terus berjalan mundur seraya tertawa. Fae terus-menerus meneriakinya, bahkan merengek dan memohon padanya. Namun, Riel tetap mundur ke belakang (memutar ke dekat ranjang), menghindarinya, dan menggodanya dengan mengayunkan buku itu ke kanan dan ke kiri. Sampai akhirnya, kedua lutut Riel menabrak pinggiran ranjang. Tubuhnya terdorong ke belakang, oleng, dan… BRUKK!! Riel terjatuh di atas ranjang. Berbaring telentang. …dengan Fae yang ikut terjatuh bersamanya. Di atas tubuhnya. Tiba-tiba, suasana terasa sunyi. Bunyi jam di dinding jadi terdengar dengan jelas. Fae membuka mata. Tadi, saat jatuh, dia refleks menutup matanya. Se—sebentar. Dia—dia terjatuh di— Mata Fae membulat sempurna. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas. Dia…tidak terjatuh di permukaan ranjang. Dia terjatuh…di atas Riel. Memegang bagian d**a Riel; memegang permukaan jaket kulit hitam pemuda itu. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD