8. Tell Me about You (1)

1164 Words
Chapter 8 : Tell Me about You (1) ****** FAE menutup pintu kamarnya. Entah mengapa, mereka jadi berakhir di sini. Di kamarnya. Ia dan Riel Orion. Sial. Tadi, saat Fae melihat Riel duduk di sofa ruang tamu dan menyapanya dengan riang, Fae langsung kaget bukan main. Gadis itu langsung mematung di tempat, menatap Riel tak percaya. Apa yang pemuda ini lakukan di rumahku malam-malam begini?!! Riel memakai jaket kulit berwarna hitam. Terlihat tampan sekali malam-malam begini. “Kok kaget, sih? Kan aku cuma mau berkunjung ke rumah tetanggaku yang cantik,” kata Riel tanpa malu; dia tersenyum lebar seraya memiringkan kepalanya. Sialnya, Mama Fae malah tertawa terbahak-bahak. “Mama buatkan minuman dahulu, ya,” kata Mama. Mama langsung mengambil bungkus belanjaan dari tangan Fae (karena Fae masih mematung) dan pergi ke dapur, meninggalkan mereka berdua. “Terima kasih, Tante,” jawab Riel seraya memberikan mama Fae senyuman manis. Tak lama kemudian, Riel kembali menatap Fae. Masih dengan senyum manis (b*****t)-nya itu, dia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. “Sini. Duduk. Masa ada tamu dicuekin, sih? Jahat banget, nih, yang punya rumah.” Sompret! Di sini, Fae baru saja ditabrak memori-memori aneh saat berdiri di bawah pohon ginkgo itu; Fae juga dihinggapi perasaan aneh tatkala mengingat betapa indahnya Riel saat berdiri di bawah pohon itu, tetapi begitu dia sampai di rumah… …pemuda yang dia pikirkan malah ada di ruang tamunya, duduk santai di sofanya, dan menyapanya dengan riang begini!! Berani-beraninya dia bersikap santai begini, setelah membuat pikiran Fae terganggu?! Ah, s**l. Fae jadi bersungut-sungut sendiri dalam hati. Fae mendengkus; gadis itu langsung mendekati Riel seraya mengentakkan kakinya. Saat berada di depan Riel, dia langsung protes terang-terangan, “Apa yang kau lakukan di sini?!!!!” Bangsatnya, Riel malah memiringkan kepala dan matanya membulat polos, “Hmm? Kok marah? Seingatku, aku tak jadi mengintipmu mandi tadi sore.” …Hah? Pipi Fae kontan merona. Tunggu. …Mengintip? Sialaaaan! Riel masih ingat soal itu?! Apakah itu sebabnya tadi dia bertanya Fae sudah mandi atau belum? Dasar Jamur Oranye m***m. Dia benar-benar mengatakan itu terang-terangan di rumah Fae! “Ssshhhhhh!!!!!” Fae meletakkan telunjuknya di depan mulut, menghentikan Riel dengan panik. “Apa kau gila?!!” Riel tertawa terbahak-bahak. Tawa pemuda itu terdengar begitu keras sampai-sampai Fae panik (dia menoleh ke dapur, takut mamanya dengar), lalu langsung menutup mulut Riel dengan kedua tangannya. “Hei!!!” Riel berhenti tertawa; dia melepaskan tangan Fae dari mulutnya, lalu langsung menarik kedua tangan itu agar Fae duduk di sampingnya. Fae kaget bukan main. Mata gadis itu membulat sempurna tatkala bokongnya menghantam sofa. Tepat di sebelah Riel. Dia menatap Riel. Mulutnya menganga. Dia hampir saja mau marah-marah pada Riel, tetapi tak jadi karena… …melihat Riel tersenyum miring padanya. Ah, kacau. Pemuda berambut oranye ini memang bagaikan badai kecil yang datang di musim gugurnya. Riel menatap Fae dalam. Lekat. Namun, ada sebuah jenaka yang terkandung di kedua mata coklat gelap pemuda itu. Dia seolah-olah…menikmati situasi ini. Menikmati Reaksi Fae. Wajah Riel lama-lama mendekat ke wajah Fae. Pipi Fae langsung merona; jantungnya berdegup kencang. Di sisi lain, dia juga takut karena mamanya bisa muncul kapan saja dan memergoki mereka. Apa-apaan, sih, Jamur Oranye ini?!! Mengapa dia selalu…mengganggu Fae seperti ini?! Mengapa dia terlampau santai menyentuh Fae seperti ini?! Mengapa dia tidak malu, padahal dia dan Fae belum lama bertemu?!!! Entah, deh, soal masa kecil yang Mama bilang tadi sore. Intinya, yang Fae ingat, mereka baru bertemu kemarin!!! Apa dia memang memperlakukan semua ‘orang asing’ seperti ini?! Tidak masuk akal. Riel terlalu lengket untuk ukuran ‘orang yang baru bertemu kemarin’. Pemuda itu pasti sinting. Saat hidung mereka hampir bersentuhan, tubuh Fae mematung. Merah di pipinya semakin melebar. Wajah Riel yang tampan…dan wangi parfum Riel yang segar dan memabukkan itu…sukses membuatnya menahan napas. Satu detik kemudian, Riel pun berbicara dengan lirih. Di depan bibirnya. “Kalau dilihat-lihat, sepertinya kau belum mandi. Karena aku tidak jadi mengintip, ya?” BEDEBAAAAAAHHHH!!!!! Fae mengamuk. Dia langsung menarik-narik tangannya dari genggaman Riel, tetapi tidak berhasil. Genggaman Riel justru semakin erat dan pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Oh, hal itu bertahan sampai akhirnya mama Fae sampai di ruang tamu dan cekikikan saat melihat mereka berdua. Fae menganga dan berteriak, “Ma, kok Mama malah tertawa, sih?!!! Pemuda ini menggangguku!! Aku baru bertemu dengannya kemarin, tetapi dia seperti ini padaku!!!” Namun, Mama malah tertawa dan pergi dari ruang tamu, seolah-olah tak mau mengganggu mereka. Ujung-ujungnya, Riel meneriaki mama Fae dan berkata, “Kami mau mengerjakan PR bersama-sama, ya, Tanteee!!” “Oke. Jangan pulang malam-malam, ya!” teriak mama Fae dari ujung sana. Jamur Oranye terkutuk. Sejak kapan dia jadi akrab dengan Mama?! Jadi, di sinilah mereka berdua, berakhir di kamar Fae. Kamar Fae dominan berwarna coklat. Dindingnya, lemarinya, kayu-kayu ranjangnya...dan langit-langitnya. Ranjangnya terlihat begitu nyaman, selimutnya tebal dan lembut. Meja belajar putihnya ada di depan sana—berlawanan dengan pintu kamar—dan di samping meja belajar itu ada sebuah jendela yang tertutupi gorden. Di atas meja belajar itu ada lampu yang cahayanya berwarna krem; menerangi buku-buku Fae yang ada di sana. Fae menatap Riel. Pemuda itu sedang memperhatikan seisi kamar Fae sembari tersenyum. Diam-diam, Fae malu bukan main. Ada seorang pemuda yang masuk ke kamarnya dan melihat-lihat kamarnya. Aaarghhh! Mana ranjangnya juga tidak rapi karena dia pakai tidur tadi siang!! Ugh. Mudah-mudahan tak ada hal aneh yang menarik perhatian Riel. Riel pun melangkah ke depan sana. Ke arah meja belajar. “Wah, kamarmu kelihatan nyaman. Aku jadi ingin menginap.” Fae menganga; matanya memelotot. “Aku akan mengusirmu kalau kau benar-benar berpikir seperti itu!” Riel tertawa lagi. “Galak banget, sih, Cantik. Kan tidak ada salahnya kalau tetangga menginap.” Tidak ada salahnya dari mana?!!! Dia dapat pengetahuan itu dari mana, sih?!! Fae baru saja ingin memprotes lagi, tetapi ujung-ujungnya gadis itu memilih untuk diam dan mendengkus saja. Agaknya, semakin diladeni, Riel akan semakin menjadi-jadi. Melihat Riel yang mulai melangkah ke depan sana dan duduk di kursi belajar, Fae pun melangkah ke ranjang, duduk di pinggirannya, dan menghadap ke Riel. Mereka duduk berhadapan. “Jadi, mengapa kau datang ke rumahku?” tanya Fae dengan nada datar bercampur sebal. “Aku yakin itu bukan karena PR.” Riel, sialnya, malah tertawa lagi. Dia sampai mendongak saking kerasnya dia tertawa. “Jangan curiga terus, dong. Aku memang mau mengerjakan PR bersamamu kok.” Fae menatapnya dengan mata menyipit. “Aku tak percaya.” Riel tertawa geli. “Jadi, alasan apa yang membuatmu percaya? Kalau kubilang aku datang ke sini untuk bertemu denganmu, nanti kau marah.” Fae menganga. Apa? Kau tidak mengatakan itu pun, aku sudah kesal padamu. “Kan kita baru bertemu tadi sore,” jawab Fae seraya mendengkus. “Lagi pula, orang gila mana yang menginvasi rumah tetangga barunya di hari kedua mereka bertemu?!” “Orang gila karena cinta, mungkin,” jawab Riel seraya memegang dagunya, sok-sokan berpikir. “atau orang gila yang tidak tenang karena tidak jadi mengintip gadis cantik mandi.” Pipi Fae langsung memerah; gadis itu refleks melempar bantalnya ke arah Riel. “DASAR m***m!!!” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD