Menjual diri?
Ponsel itu jatuh di lantai dalam keadaan retak dan sungguh mengenaskan. Jill hanya tidak menyangka saja jika kemalangan datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Entah apakah di kehidupan sebelumnya dia adalah seseorang yang jahat sehingga dia mendapatkan balasan sekejam ini di kehidupannya.
"Aku benar-benar nggak nyangka, Jimmy bahkan tega. Stefy pun sama. Padahal hubungan ini sudah terjalin bertahun-tahun dan sudah ada rencana menikah, tetapi mengapa mereka justru mengkhianatiku?"
Beberapa saat yang lalu Stefy mengirimkannya pesan yang berisi beberapa foto dan video yang menghancurkan hati Jill. Bagaimana tidak, Stefy memberinya syok terapi dengan banyaknya foto mesra dirinya bersama Jimmy. Ada juga video yang mempertontonkan adegan panas yang tidak memperlihatkan seluruhnya.
Jill tidak bodoh, dia tahu pasangan m***m itu adalah Jimmy dan Stefy.
"Kurang apa coba aku sama mereka? Aku sudah membantu Jimmy meraih kesuksesan dan membantu biaya sekolah Stefy agar dia bisa mendapat gelar dan bekerja di perusahaan Jimmy. Jadi ... inikah balasan yang harus aku terima?"
Jill menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh dan naif. Dia tidak menyadari jika selama ini mereka diam-diam menjalin hubungan.
Berbekal rasa cinta dan kepercayaan yang dia berikan pada sahabat dan mantan kekasihnya itu, Jill sama sekali tidak pernah menaruh rasa curiga. Hubungannya bersama Jimmy yang sudah terjalin bertahun-tahun tidak mungkin kandas, pikirnya.
Saat Jill sedang terpuruk di dalam ruang kerjanya, telepon berdering. Jill sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun tetapi dia tahu jika telepon kantor hanya dihubungi orang penting saja.
[Nona, Anda di mana? Apakah Anda sudah melihat berita terbaru?]
Jill tahu itu adalah Adam, asistennya yang selama ini selalu setia sejak zaman ayahnya memimpin perusahaan.
"Aku di ruanganku, Kak Adam. Aku belum membuka berita, ponselku rusak dan bisakah kamu membawakan aku yang baru?"
Tadi Jill tidak bermaksud merusak ponselnya, itu adalah keluaran terbaru dan karena emosi menguasai hatinya, tanpa pikir panjang dia pun melampiaskan kemarahannya pada ponsel tersebut.
Terdengar Adam menghela napas. [Nona, perusahaan benar-benar berada di ambang kehancuran. Uang yang kita dapatkan dari hasil penjualan beberapa aset raib entah ke mana]
Mata Jill melotot, ini adalah berita yang paling buruk. Perusahaan memang sedang dalam masalah tetapi Jill memutuskan untuk menjual beberapa aset keluarganya untuk membantu menstabilkan keuangan perusahaan.
Raib?
Kini Jill harus mengutuk dirinya sendiri karena dia baru ingat setelah penjualan aset tersebut Jimmy datang dan meminjam kartu bank miliknya.
"Aku benar-benar bodoh!"
[Anda berkata sesuatu, Nona?] tanya Adam.
Jill tidak menjawab, dia hanya meminta Adam untuk datang ke ruangannya dan membawa ponselnya ke tempat servis. Dia akan mengirit biaya dibandingkan harus membeli yang baru.
Dalam keheningan Jill menangis tanpa suara. Kekasih dan sahabatnya berkhianat, uang perusahaan diambil Jimmy dan sekarang dia harus bagaimana untuk mengatasi semua ini?
Jika dia tidak bisa mengganti rugi pada proyek yang mengalami kegagalan tempo hari, semua asetnya pasti akan disita.
"Satu-satunya kebodohanku adalah jatuh cinta."
******
Beberapa waktu berlalu, perusahaan semakin terpuruk begitupun dengan hati Jill yang sangat sakit saat mendapati undangan pernikahan dari pasangan pengkhianat itu. Padahal Jill yang merencanakan pernikahan tetapi Stefy yang menjadi mempelai wanitanya.
Ini sungguh ironi.
Jill tidak mungkin datang ke acara pernikahan itu. Dia hanya akan mempermalukan dirinya. Masalah perusahaan semakin gawat, dia harus memprioritaskan karyawannya yang beberapa kali berdemo untuk diberikan pesangon.
"Aku harus bagaimana? Menjual aset nggak akan banyak membantu. Aku juga nggak mungkin jual rumah, di mana aku akan tinggal?"
Jill sudah sangat frustrasi. Karyawan berdemo meminta hak mereka selama bekerja bertahun-tahun. Belum lagi tuntutan untuk mengganti rugi pada proyek yang gagal, bukan hanya satu tetapi ada tiga proyek gagal yang menghabiskan biaya mencapai ratusan miliar.
Sekarang dari mana Jill akan mendapatkan semua itu? Tabungannya pun tidak akan cukup.
Ponsel Jill yang sudah diperbaiki Adam saat ini berdering. Nama Barra tertera di sana, dia adalah adik Jill yang sedang melanjutkan studi di luar negeri.
Jill tidak langsung menjawabnya, dia melirik kalender kecil di atas meja lalu menghela napas dengan kasar.
Rasanya Jill ingin menangis, dia tahu Barra menghubunginya pasti meminta kiriman uang. Sekarang sudah waktunya membayar kuliah dan juga uang bulanan Barra yang terakhir kali dia berikan bulan kemarin.
"Nggak, Barra nggak boleh tahu tentang masalah ini. Dia pasti akan langsung pulang dan tidak mau melanjutkan pendidikannya. Bagaimana pun dia nggak boleh tahu."
Jill tidak mau membebani Barra. Dia adalah seorang Kakak, sudah menjadi tugasnya mengurus perusahaan, keluarga dan juga menyenangkan adiknya. Di makam kedua orang tuanya dia sudah berjanji akan memberikan yang terbaik untuk adiknya.
Panggilan kedua baru Jill berani menjawabnya. Dia tidak ingin bicara begitu lama dengan Barra seperti biasanya sebab dia tidak ingin adiknya itu mendengar keributan di kantor ini.
Di luar sana karyawan tidak berhenti berdemo. Tuntutan mereka semakin menjadi-jadi. Adam tidak bisa berbuat banyak sebab dia pun sebenarnya harus mendapatkan haknya apabila perusahaan ini tutup. Dia memiliki istri dan dua anak yang harus dinafkahi tetapi mengingat dia adalah pengikut setia di keluarga Triatmadja, Adam memilih diam.
Suara-suara sumbang itu terdengar sangat menusuk di telinga Jill. Dia hampir tidak bisa menahan air matanya saat para karyawan merendahkannya.
"Mengapa dia tidak menjual rumahnya saja? Apa dia pikir kami tidak butuh makan? Hak adalah hak, dia harus memberikannya."
"Nona Jill Samantha itu cukup cantik, mengapa dia tidak menjual dirinya pada pengusaha kaya yang mau menutupi utangnya?"
"Apa kalian tidak tahu, dua hari lagi kekasih Nona Jill akan menikah. Dia saja enggan menanggung utang Nona Jill yang begitu banyak, apalagi orang lain."
"Mungkin dia memang harus menjual dirinya pada lelaki kaya."
*****
'Menjual diri'
Kata itu terus terlintas di benak Jill. Saat ini dia hampir putus asa karena banyaknya masalah yang harus dia selesaikan. Dia harus menemukan cara instan agar bisa menyelesaikan masalah ini.
Kekasih dan sahabat berkhianat, uang perusahaan dibawa lari Jimmy, sekarang para karyawan berdemo meminta pesangon, pihak terkait pun tidak berhenti meneror Jill untuk mengganti rugi, lalu adiknya membutuhkan banyak biaya.
Bagaimana Jill tidak gila memikirkan semua itu seorang diri.
Diliriknya ponselnya yang saat ini baru saja selesai mendownload sebuah aplikasi.
Dengan hati yang mantap meskipun dia menahan tangis dalam hatinya, Jill masuk ke dalam aplikasi itu lalu membuat sebuah postingan.
[Open B.O. Masih Virgin dan bisa bermain sampai puas. Buka harga 10 miliar]
Saat postingan itu terkirim, Jill menggigit bibirnya menahan tangis. Dia sudah menjatuhkan dirinya serendah-rendahnya, sekarang tidak ada lagi yang tersisa.
[Apakah dia sedang bercanda? Bagaimana kalau sepuluh juta, Nona? Aku akan bermain dengan lembut]
[Apakah kamu adalah seorang Dewi? Mengapa hargamu terlalu tinggi? Aku akan membayarmu seratus juta tetapi apakah benar kamu masih perawan? Bermain dulu agar aku bisa memastikan kebenarannya]
Ada begitu banyak komentar yang terlihat seperti sedang merendahkannya. Jill tak kuasa lagi membuka postingannya itu.
Dia menangis memeluk lututnya di bawah meja kerjanya. Tidak ada tempat untuk bersandar dan mati pun tidak akan menyelesaikan masalah.
Ponsel Jill berbunyi, sebuah notifikasi pesan yang datang dari aplikasi yang baru saja dia buka.
[Hotel Bulan kamar 505. Aku akan membayar 10 miliar untukmu. Segera datang sebelum aku berubah pikiran]