“Jawab Jill!”
Tadinya Jill ingin mengatakan sesuatu kepada Adam, tetapi Jimmy yang terus menyudutkannya membuatnya sangat kesal.
“Aku bilang bukan urusanmu. Pergi dari sini. Tentang siapa yang aku temui di hotel itu bukan hal yang perlu kamu ketahui. Sekarang pergi dari sini dan bersiaplah untuk pernikahanmu besok. Pergi atau aku lapor polisi atas penggelapan uang yang kamu lakukan!”
Mata Jill memerah, tak ada lagi rasa hormat dan cinta seperti dulu terhadap Jimmy. Semua musnah bersama dengan pengkhianatan tersebut.
Adam yang melihat Jill putus asa pun langsung sigap mengusir Jimmy. Pria itu terus berteriak saat Adam menyeretnya keluar.
Jimmy memang takut terhadap Adam, pria ini seolah mengetahui banyak hal yang bahkan sangat rahasia.
“Jill urusan kita belum selesai!” teriak Jimmy.
Jill memijat pelipisnya lalu masuk ke ruangannya dan mengunci diri. Dia tahu setelah mengurus Jimmy, Adam pasti akan datang padanya.
Dia membenamkan wajahnya di atas meja kerjanya. Rasanya begitu rapuh saat ini. Di depan Romeo sejak semalam dia berusaha tangguh. Beberapa hari belakangan sejak perusahaan mengalami masalah mendadak, dia pun tidak bisa sedikitpun meluangkan waktu untuk dirinya.
Setidaknya Jill butuh meneteskan air matanya, tetapi tak ada setetespun yang jatuh.
“Badai akan segera berlalu Jill, pertahankan dirimu. Pertahankan hatimu. Masa kegelapan ini akan segera berakhir. Bertahanlah sedikit lagi,” bisiknya pada diri sendiri.
Ruangan yang sepi itu hanya memperdengarkan suara helaan napas Jill yang begitu berat. Pundaknya yang rapuh justru harus ditimpa beban lagi. Dia sebenarnya tidak sekuat ini, dia sedang memaksakan diri.
Tak lama kemudian, seperti yang sudah Jill perkirakan, Adam datang dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat kesal, mungkin terjadi sesuatu antara dia dan Jimmy.
“Anda baik-baik saja Nona?” tanya Adam.
Jill menegakkan kepalanya, meluruskan duduknya lalu memaksakan senyuman saat menatap Adam.
Bisa Adam lihat ada luka yang begitu besar dari sorot mata nonanya. Dia tahu apa penyebabnya, dia mengerti dan dialah satu-satunya orang yang paling paham dengan kondisi Jill saat ini.
“Akan segera baik-baik saja Kak Adam,” jawab Jill sambil berdoa dalam hati semoga ucapannya tersebut akan menjadi kenyataan. “Oh ya, bagaimana dengan Jimmy, sudah pergi?” tanya Jill
Adam berdecak. “Tadi cukup sulit, dia keras kepala. Entah Nona menemukan pria seperti itu dari mana. Jujur saja, selama bersama Nona saya sering melihat sikap yang berbeda yang diam-diam terlihat dari ekspresinya.”
Jill menghela napas. Dulunya Jimmy tidak seperti ini, Jimmy sangat sopan dan penuh perhatian padanya. Kadang kala dia bertanya apakah memang ini semua karena kesalahannya yang tidak memberikan sedikit kebebasan pada Jimmy terhadapnya?
Bergegas Jill menggeleng. Dia menyadari satu hal, Jimmy bukanlah takdirnya.
“Oh ya Nona, saya tidak bermaksud ikut campur, tetapi apakah yang dikatakan Jimmy itu benar? Nona, Anda jangan mengambil risiko itu karena memikirkan masalah karyawan,” tekan Adam.
Jill menatapnya lekat. Nyatanya dia sudah mengambil risiko paling besar dalam hidupnya.
Dia tertawa pelan. “Aku, tidur dengan pria tua kaya raya? Astaga Kak Adam… kenapa mudah percaya pada ucapan Jimmy. Itu nggak mungkin!”
‘Aku justru tidur dengan pria muda yang kaya raya dan perkasa,’ lanjut Jill dalam hati.
Saat memikirkan hal tersebut, pipinya merona merah mengingat bagaimana dia menghabiskan malam bersama Romeo.
Adam menaikkan satu alisnya. “Pipi Nona kenapa memerah?”
Jill tersentak, dia lekas menyentuh pipinya yang terasa panas. ‘Sial’ umpatnya dalam hati.
“Oh, nggak kok. Hanya kepikiran ucapan Jimmy saja,” jawab Jill mengelak. “Oh ya, menurut Kak Adam apa aku ini layak menjual tubuhku pada pria tua? Apa aku serendahan itu?”
Adam langsung menggeleng. “Tolong berhenti berkata seperti itu Nona. Anda sangat berharga.”
Jill menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan ke atas. Hanya Adam dan Barra lah yang paling menghormatinya.
“Oh ya Nona, saya sudah menyelidiki siapa pemilik RR Company. Dia adalah pria misterius, jarang disorot publik tetapi rekam jejaknya sebagai pengusaha hebat di luar maupun di dalam negeri itu sangat tersohor. Anda beruntung memiliki teman sepertinya,” ucap Adam.
Jill bisa melihat kekaguman dari sorot mata Adam. Dia sendiri pun bisa merasakan hal yang sama saat bersama dengan Romeo. Pria itu bukan pria biasa, dia hebat dan auranya pun mendominasi.
“Pagi tadi sempat tersebar kabar kalau dia sudah menikah. Dia mengatakan sedang bersama istrinya dan itu memicu rasa penasaran publik. Banyak pengusaha yang berbondong-bondong untuk mencari tahu siapa istrinya. Mereka ingin mendekatinya agar bisa tembus pada pemilk RR Company tersebut.”
Jill tersedak ludahnya sendiri.
‘Pagi tadi? Bukankah itu… astaga, itu aku? Sialan! Aku bukan istrinya. Romeo gila!’ umpat Jill dalam hati.
Mengingat Romeo, dia baru tersadar jika dia punya janji bersama pria itu.
‘Aduh gawat! Dia pasti akan merajuk lagi!’ gerutu Jill dalam hati.
“Kak aku ada janji dengan teman, tolong Kak Adam handle perusahaan. Kirimkan gaji karyawan sesegera mungkin agar mereka percaya. Aku akan mengirimkan uang ke Kak Adam untuk gaji karyawan di kantor ini dan dua kantor cabang,” ucap Jill lalu dia segera mengirimkan uang tersebut.
Adam terkejut saat ponselnya berdering. Uang sebesar lima miliar masuk ke rekeningnya. Ini bahkan lebih banyak dari yang seharusnya.
“Nona, ini uangnya lebih dari yang seharusnya,” ucap Adam. “Nona dapat uang dari mana?”
Jill menghela napas. “Sisanya tolong Kak Adam kelola. Aku dapat uang dari menjual aset berharga yang selama ini aku simpan,” jawab Jill.
‘Diriku,’ lanjutnya dalam hati.
“Tapi Nona—”
Jill tidak menjawab, dia bergegas berdiri, dan pergi dengan membawa tasnya. Adam masih bingung tetapi dia tetap mengikuti Jill, mengawalnya agar tidak bertemu dengan Jimmy.
Saat tiba di lobby, dia bingung mencari mobilnya. Yang ada hanya Rolls-Royce yang terparkir dengan begitu mencolok.
Dia menepuk dahinya. “Ya ampun aku pakai mobil Romeo. Pantas saja beda sendiri!”
Jill tertawa lalu dia bergegas membuka pintu mobil. Baru saja hendak masuk, tangannya langsung ditarik dengan kasar.
“Mobil siapa ini?”
Jill terbengang, pria tak tahu malu ini rupanya masih berada di sini.
Dengan kasar Jill menghempaskan tangannya, dia sekali lagi memberikan tamparan di pipi Jimmy.
“Bukan urusanmu. Enyah dari hadapanku!”
“Jadi ucapanku tadi benar, kamu tidur bersama pria lain?” tanya Jimmy.
Saat ini di parkiran ada beberapa karyawan yang melihat perdebatan mereka. Ada yang mulai berbisik-bisik tentang Jimmy yang tidak tahu diri, sudah berkhianat tetapi masih ingin mendominasi.
Ada juga yang terkejut karena mendengar ucapan Jimmy. Mereka ingat ucapan mereka saat berdemo, meminta Jill untuk menjual diri. Apakah mungkin?
Mobil mewah itu juga menjadi buktinya.
“Hentikan! Aku dan kamu sudah tidak punya urusan lagi. Berhenti mengusik hidupku. Pulang dan urus pernikahanmu, nanti aku akan datang dan membawakan hadiah untuk kalian!”
Mendengar keributan tersebut, Adam segera mendekat bersama petugas keamanan. Dia berang terhadap Jimmy yang rupanya masih belum menyerah juga.
Satu pukulan mendarat tepat di batang hidung Jimmy hingga dia merasa sangat kesakitan. Dunia seketika gelap, kepalanya pusing dan terasa berputar. Darah segar merembes dari kedua lubang hidungnya.
“Jika masing ingin mengganggu maka saya tidak keberatan untuk berduel,” ucap Adam.
Jill terkejut, dia terpana. Selama ini dia tidak pernah melihat Adam berkelahi, rupanya diamnya Adam karena dia masih menahannya.
“Satpam, tolong usir manusia rendahan ini. Jika dia berani datang lagi maka panggil saja polisi,” titah Adam.
Jimmy tak sempat memberontak, dua satpam dengan tubuh kekar langsung menggotongnya keluar dan melemparnya di luar gerbang seolah membuang sampah.
Tangannya terkepal erat, tatapannya penuh dendam. Geraknya memang terbatas, dia akan sedikit sulit menjangkau Jill.
“Aku tidak akan pernah berhenti sebelum kamu jatuh dan terpuruk Jill. Aku ingin PT Triatmadja Cipta ini hancur tak tersisa,” gumam Jimmy dengan tangan terkepal erat.
Dia berjalan ke mobilnya yang memang diparkir agak jauh dari gerbang agar Adam tidak melihatnya. Tadi saat Adam menyeretnya keluar, dia berpura-pura pergi, lalu dia menunggu tak jauh dari gerbang untuk memantau Jill.
Sedangkan Jill, dia segera masuk ke mobil tetapi tangan Adam menahan pintunya. “Nona, ini mobil siapa?”
Jill tersentak, dia tidak tahu harus menjawab apa. Mana mungkin dia mengatakan ini mobil Romeo. Tetapi Adam bukan orang yang mudah ditipu.
Jill yang sudah duduk di kursi pengemudi itu pun menggerakkan tangannya meminta Adam untuk membungkuk.
Adam mendekat lalu Jill berbisik, “Mobil pemilik RR Company.”
Mata Adam melotot. Dia segera menjauh lalu menatap mobil itu dengan kagum. “Nona apa yang saya dengar itu benar?”
Jill tertawa lalu mengangguk. “Ya sudah Kak Adam, tolong urus perusahaan ya. Aku ingin mengembalikan mobil ini.”
Jill segera menutup pintu mobil lalu melihat jam di dashboard. “Astaga… mati aku!”