Wife 01
Bara menatap tajam wanita yang tengah duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk, dia enggan mengangkat kepala seakan pria di hadapannya akan langsung menerkamnya saat mata mereka beradu.
Sudah lebih dari sepuluh menit suasana hening menyelimuti mereka dan tidak ada salah satu di antara mereka yang ingin mengeluarkan sepatah katapun dan hal itu membuat si wanita meremas jemarinya di atas pangkuan yang semakin basah berkeringat.
"berbeda."ucap Bara membuat si wanita akhirnya menegakan kepalanya dan menatap mata tajam yang tengah menatapnya, tapi hanya beberapa detik setelahnya dia kembali menunduk dan memikirkan kata kata yang lelaki dihadapannya ucapkan
Berbeda.? Apanya yang berbeda
"ternyata nenek sihir itu semakin pintar." ucapnya lagi kemudian tersenyum sinis.
"ternyata dia mengubah taktiknya, setelah rencananya gagal karena menyodorkan jalang nakal padaku kali ini jalang rumahan yang dia sodorkan hem." lanjut Bara membuat wanita di hadapannya meremas jemarinya kuat dengan tubuh bergetar dan mata berkaca kaca.
Degup jantungnya berdetak kencang dan terasa sakit, baru kali ini ada yang menyebutnya seperti itu dan yang lebih parah calon Suaminya sendiri yang menyebutnya jalang.
"Angkat kepalamu.,!" ucap bara dengan nada datarnya dan dingin membuat si wanita susah payah menelan air liurnya sendiri dan perlahan menegakan kepalanya.
"siapa namamu.?"
"Arni." jawanya pelan seperti tengah berbisik.
"jadi misi apa yang dia berikan padamu.?"
Misi..? Misi apa.?
Wanita yang ternyata bernama Arni itu hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti
"apa misimu adalah membunuhku.?" tebak bara membuat kerutan di kening arni menghilang berganti dengan kedua matanya melebar
Dan menggelengkan kepalanya kuat.
"saya tidak...."
"lalu apa tugas yang dia berikan padamu.?" potong bara
"Tante vena hanya mengatakan bahwa akan menjodohkanku dengan anaknya."jelas arni masih dengan suaranya yang sepelan mungkin.
"siapa yang dia katakan anaknya.?"
Arni menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab pertanyaan bara.
"se- seseorang bernama Lazarus Bara samudra" jawab arni membuat tawa sinis Bara muncul
"Aku." ucap bara sambil menjuk dirinya
"dia bukan ibuku asal kau tahu."lanjut bara yang kembali menampilkan wajah dinginnya.
Ya aku tahu batin Arni
"jadi lebih baik kau tanyakan sekali lagi pada wanita itu, siapa anak yang dia maksud"
"saya Tahu anda bukan anak kandung tante vena, tapi beliau dengan jelas menyebutkan nama anda" jawab Arni memberanikan diri meskipun jantungnya berdegup kencang.
" Lalu aku harus menerimamu menjadi istriku.?" tanya bara sambil menatap lekat ke arah arni.membuat arni semakin takut bercampur gugup dan perlahan menganggukan kepalnya.
"Berdiri" ucap bara yang seperti perintah tegas itu membuat arni langsung menegakan tubuhnya dan berdiri tegak di hadapan Bara.
Bara menatap arni dari atas sampai bawah, bara tahu penampilan arni memang berbeda dari wanita wanita sebelumnya yang vena kirimkan untuk menjadi calon istrinya, kebanyak dari mereka berwajah cantik dan bertubuh aduhai dengan segala kemewahan yang melekat di diri mereka sedangkan arni dia berwajah polos dengan pakaian sederhana dan tidak berlebihan dan bara akui arni sedikit manis..
"Kenapa aku harus menerima mu.,? Kelebihan apa yang kau punyai.?" tanya Bara membuat arni kembali mengerutkan keninya
Aku seperti hendak melamar pekerjaan batin arni
"saya akan merawat anda dengan baik"
"kalau begitu jadi pembantuku saja"jawab cepat bara membuat arni membulatkan matanya namun hanya beberapa saat
"pe- pembantu" gagap arni
"ya bukankah yang kau sebutkan tadi seorang pembantu pun bisa melakukannya" jawab bara membuat arni meremas sisi gaun putih sederhana yang dia gunakan.
Hening beberapa saat dan bara bisa melihat raut wajah arni yang ketakutan dan semakin bingung.
namun perkataan bara selanjutnya membuat keningnya semakin berkerut.
"Lupakanlah, bilang saja pada nenek sihir itu untuk menentukan tanggal pernikahannya"ucap bara dan langsung mendapatkan protes dari sekertaris sekaligus sahabatnya Hans.
"Tapi pak,"
"antarkan saja aku kembali ke ruang kerjaku Hans." potong bara membuat Hans berdecih dan mau tidak menuruti keinginan atasannya itu,dengan perasaan kesal Hans mendorong kursi roda bara untuk kembali ke ruang kerjanya.
oOo
"Bagaimana pertemuan kalian,? Menyenangkan.?"tanya vena saat arni menjatuhkan tubuhnya di sofa dan langsung memijat pangkal hidungnya, vena duduk di samping arni dan menunggu jawaban keponakan jauhnya itu.
"Hei jawab, tante menununggu" ucap vena sambil mengguncang bahu arni, seketika arni menoleh ke arah vena dengan wajah kusutnya
"apa tante tidak lihat wajah kusut ku ini"
"tidak"
"oh ayolah, tante baru saja memasukanku ke kandang singa, aku bahkan hampir mati berdiri disana karena tatapannya saja.,"kesal arni karena memang itu yang dia rasakan
"dan tante tau, ketakutanku semakin bertambah saat dia menyetujui perjodohan ini" lanjut arni sambil kembali memijat pangkal hidungnya tapi berbeda dengan vena yang menampakan wajah bahagianya
"Benarkah, apa kau sedang mengerjai tante, ayolah arni ini bukan aprilmop"
"apa tante fikir aku sedang dalam suasana ingin bercanda sekarang.?" setelah arni menyelesaikan perkataannya tiba tiba, vena memekik tepat di sebelah telinga arni sambil memeluknya
"kyaaaa akhirnya dia mau menikah juga,"pekik vena dengan girang sambil mengguncang guncang tubuh mungil arni.
"tante berhentilah mengguncang tubuhku."kesal arni sambil mencoba melepaskan pelukan sang tante
"jadi kapan kalian akan menikah.?"
"dia menyerahkannya pada tante.!"jawab malas arni
"benarkah, kalau begitu minggu depan kalian akan menikah"
"Apa.,!"pekik arni tidak percaya
"kenapa.?"
"apa tante bercanda.?"
"apa kau fikir tante sedang dalam suasana ingin bercanda sekang" jawab vena membalikan perkataan arni tadi membuat arni menyipitkan matanya mentap ke arah vena
"sebenarnya apa yang tante rencanakan.?"tanya arni kini dengan nada seriusnya
"memangnya apa, tente hanya ingin kau jadi istrinya"
"ayolah tan jangan berpura pura di hadapanku, bahkan dia menuduhku mempunyai misi untuk membunuhnya, memangnya seberapa buruk hubungan antara kalian.?"tanya arni dengan rasa penasarannya.
Tentu saja karena dua minggu yang lalu tiba tiba saja vena mendatangi keluarganya yang mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun tidak pernah saling bertemu dan tiba tiba pula vena meminta izin pada ayah arni yang juga merupakan sepupu dari vena untuk menikahkan arni dengan anak tirinya, hanya itu saja cerita yang arni ketahui dari ayahnya, entah kenapa ayahnya langsung setuju dan membiarkan vena membawa dirinya pergi, ah apakah dirinya terlalu membebani hidup ayah dan kakaknya sehingga dengan mudah mengirimkan dirinya pada vena.
"tidak ada misi apapun, kau hanya perlu menjadi istri yang baik untuknya dan melayaninya sepenuh hatimu."jawab vena membuyarkan lamunan sesaat arni
"tapi dia"
"dia cacat" potong vena
Ya
"bukan, dia melihatku seperti mangsa yang siap dia terkam kapanpun"
"itu karena kau kelihatan lemah di hadapannya, jadilah dirimu sendiri dan Taklukan Hatinya" ucap vena.