Aku dan Amicia hanya berjalan sedikit menjauhi desa itu, tetapi kami tetap menjaga jarak penglihatan untuk bisa memperlihatkan posisi kami pada Orion. Akan merepotkan kalau Orion malah mencari kami karena tempat persembunyian kami terlalu jauh.
Kuda itu berada di desa cukup lama dari dugaanku, dia benar-benar membantu Sol untuk mencari Ales dan Roushi. Entah apa yang akan dia katakan jika kuberi tahu soal dugaan Amicia tentang Solastra yang berbohong soal monster.
Untuk beberapa menit yang terasa cukup panjang, aku dan Amicia memutuskan untuk bersembunyi di bawah sebuah pohon besar yang berada lumayan jauh dari desa itu. Namun, kami masih bisa melihat desa itu dari tempat kami.
Amicia berada di sisi lain pohon besar ini untuk melihat posisi kami, sedangkan aku langsung mendudukkan diri di bawah bayangan pohon besar ini.
"Jadi, kemarin malam kau menyamar menjadi apa?" tanyaku untuk memecah keheningan.
"Menjadi diriku," jawab Amicia santai. "Aku lumayan dikenal oleh orang-orang Donuemont, jadi aku hanya perlu ikut festival itu, lalu menghilang saat pesta itu mencapai puncaknya."
"Intinya, kau tidak memiliki kontribusi apa pun untuk pencurian pedang ini," ejekku.
Cewek itu biasanya tidak tahan dihina olehku, dan benar saja, dia mulai berjalan mendekat ke arahku.
Untuk sepersekian detik, aku menganggap kalau dia akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, namun yang dia lakukan jauh lebih buruk dari bayanganku.
Amicia Ekkehard, putri tunggal Masterku tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku. Tubuhku seperti membeku saat perlahan dia menempelkan bibirnya ke bibirku, lalu tersenyum lebar padaku. Hanya sebentar, namun sudah cukup untuk membuat wajahku menjadi merah padam.
Aku membutuhkan Orion di sini, karena adegan yang baru saja terjadi bisa saja membuatku dan Amicia sangat canggung. Sekarang, aku bahkan tidak berani untuk melihat wajahnya yang masih sangat dekat dengan wajahku.
"Hei, apa iblis ini terlalu cantik, sehingga kau tidak kuat untuk melihatnya?" goda Amicia.
Aku mempertahankan sedikit harga diriku sebagai lelaki, karena jika tidak, maka aku bisa saja langsung mengiyakan pertanyaannya.
Aku sudah pernah bilang kepada kalian, kalau Amicia adalah cewek dengan wajah yang cantik, terlepas dari sikap dan karakternya yang menyebalkan.
Napasku yang tidak teratur, mulai kuhembuskan perlahan agar bisa kembali tenang.
"Kau sudah menciumku dua kali, selama beberapa hari terakhir," ujarku setelah detak jantungku kembali normal.
"Kenapa? Masih ingin lagi?"
"Ciuman yang kemarin masih bisa kuterima, namun kali ini kita baru saja kehilangan seluruh warga Rebeliand," balasku.
"Aku juga warga Rebeliand, jadi aku sama kehilangannya," timpal Amicia. "Ciumanku tadi adalah sebuah tanda kalau aku akan selalu mengikutimu, apapun akhir dari perjalanan ini."
Detak jantung dan napasku kembali berpacu karena sebuah janji yang tiba-tiba diikrarkan oleh Amicia. Janji yang sangat tidak mungkin keluar dari mulut Amicia yang tukang memerintah.
"Aku tidak salah dengar?" ejekku. "Seorang Amicia Ekkehard berjanji akan mengikuti seseorang, dan orang itu adalah saingannya?"
Amicia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah menganggapmu saingan, kau yang menganggapku begitu."
"Sekarang, aku merasa kalau inilah saatnya bagiku untuk menjadi rekanmu," imbuhnya.
"Apa dengan begitu, aku bisa memberi perintah padamu?" candaku.
"Apa pun Lass, jika warga Rebeliand sudah tidak ada, maka hanya kaulah orang yang akan menjadi tujuanku," janjinya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Orion datang secara mendadak di depan kami, yang berarti percakapan berat yang baru saja kami bahas, harus diakhiri.
Kuda, sekaligus sahabatku itu tiba di depan kami dengan membawa keanehan. Dia tampak kelelahan.
“Dua bocah Rebeliand itu memang ada disana," kata Orion yang masih terengah-engah. “Mereka bahkan menangis cukup keras saat diberi kabar soal Rebeliand.”
Cukup mengherankan melihat Orion bisa berlari santai dari Donuemont ke Rebeliand tanpa lelah. Bahkan dia melakukannya secara berturut-turut, dan sekarang dia keletihan hanya karena mengantarkan satu manusia masuk ke desa.
Orion tetap memegang jabatan kuda, atau bahkan makhluk paling aneh yang menjadi sahabatku, dan berada dalam hidupku.
“Jadi dia tidak berbohong soal Ales dan Roushi," gumam Amicia. "Kita masih belum tahu apakah Sol terlibat di penculikan ini atau dia memang beruntung karena bisa sembunyi.”
“Atau sengaja ditinggalkan,” sahut Orion cepat.
Aku tidak menyangka kalau Orion bahkan memiliki dugaan yang hampir sama dengan Amicia. Sebuah dugaan bahwa selamatnya Solastra dari penculikan warga Rebeliand bukan pertanda baik, namun sebuah misteri.
Sekali lagi aku ada di situasi dimana aku tidak tahu apapun, atau lebih tepatnya tampak bodoh di depan dua makhluk ini.
“Kau tahu soal Sol berbohong kepada kita? tanyaku kesal. "Dan kau menawarkan diri masuk ke desa itu, untuk mengecek apakah memang ada Ales dan Roushi didalam?”
Orion mengangguk. “Saat dia mengatakan soal monster, aku langsung ingin dia keluar dari tim ini. Tapi karena aku ingin tahu, aku memutuskan untuk mengikuti dia sebentar," papar Orion.
Orion berpaling kepada Amicia, seolah semua perintah berasal dari cewek itu. "Jadi kita bakal kemana? Untuk ke Preant kita butuh akses istimewa dari orang ternama.”
“Kita ke Donuemont," kata Amicia setelah beberapa detik merenung. “Aku punya kenalan disana.”
"Tunggu sebentar", selaku sambil mengangkat tangan kananku. "Bukankah lebih baik kita berangkat langsung ke Preant?"
Aku menunjuk Orion. "Kau pasti tahu Preant ada dimana ,dan dengan sihirmu, kita bakal sampai lebih cepat, dan memiliki elemen kejutan untuk musuh."
Orion menggelengkan moncong putihnya. "Aku sudah mengatakan padamu Lass, bahwa aku hanya bertugas melindungi Adon."
"Jadi, sekali pun aku bisa membawa kalian ke Preant, maka tetap saja, di Preant aku hanya kuda biasa," paparnya.
"Bagaimana sayang? masih punya ide lain?" tanya Amicia.
“Aku masih punya cukup kekuatan untuk berlari cepat. Kita bahas rencana Amicia di dekat Donuemont," usul Orion.
Aku dan Amicia menyetujui usulnya. Lebih baik, kami segera pergi, karena waktu yang terbuang sia-sia juga semakin mengancam keselamatan warga kami.
Orion memberi isyarat kepadaku dan Amicia untuk naik punggunya setelah kami menyetujui usulnya.
“Persiapan lari kencang saudara-saudara!" seru kuda itu dengan bersemangat.
Lalu Orion pun kembali memamerkan kekuatannya. Di punggung Orion yang berlari secepat angin, aku memikirkan warga desaku yang diculik, terutama kedua orang tuaku.
Aku berharap kami tidak terlambat untuk menyelamatkan mereka.
Orion semakin menggila, karena dalam waktu singkat, Kota Benteng Donuemont muncul perlahan dari cakrawala. Tembok batu Donuemont tampak megah seperti dua hari lalu saat aku tiba di sini dengan tangan kosong.
Perbedaannya adalah, Donuemont hari ini beraura muram hingga ke tercium di udara. Penjagaan gerbang selatan sudah dilonggarkan, namun bukan berarti kami bisa masuk seenaknya ke tempat kami mencuri kemarin malam.
Sejujurnya, aku ragu kalau kami bakal dicurigai karena kami berhasil kabur dengan mulus. Tetapi faktor pembedanya adalah barang curian kami yang bernilai tinggi. Aku mengumpat dalam hati karena mengikuti saran Amicia soal ‘pedang raja’.
Jika saja aku hanya mencuri barang milik orang biasa, pasti kami tidak akan setakut ini. Pencarian pedang Raja akan membuat semua orang di kota kecil ini tersensus penuh.
Masuk ke kota ini lewat gerbang adalah sebuah tindakan yang konyol. Barang bawaan kami pasti diperiksa dengan ketat, apalagi kami berasal dari Rebeliand, yang terkenal sebagai kota para pencuri.
Namun, seandainya mereka malah mengaitkan fakta bahwa ada dua orang dari ‘Rebeliand’ menginap di salah satu penginapan sehari sebelum kejadian, maka mereka akan menemukan kesimpulan yang sangat memberatkan pihak kami.
Orion berhenti cukup jauh dari Donuemont, untuk tetap memastikan kami tidak terlihat. Kami perlu memastikan rencana si iblis ini.
“Aku punya reputasi baik disini. Itu alasan kenapa orang Rebeliand diterima baik di Donuemont," kata Cia memuji dirinya.
“Oke Terima kasih atas jasamu," gerutuku.
“Kita periksa, apakah reputasimu sudah cukup bagus untuk membuat kita tidak dipenggal saat kita berani menampakkan diri di gerbang selatan.”
Orion meringkik pelan, lalu dia mengusulkan, “Kalian berdebat, aku melihat keadaan. Cepat ambil keputusan sebelum...."
Orion tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menjaga perasaan kami, karena lanjutan kalimatnya kira-kira berbunyi 'sebelum kita terlambat menyelamatkan warga Rebeliand'.Kuda itu berderap pelan untuk melihat keadaan sekitar.
Aku takut Orion benar, apakah kita masih punya waktu?
“Hei Udhokh!” ujar Amicia. Cewek iblis ini melambaikan tangannya di depan wajahku, yang sontak langsung mengembalikanku dari lamunan.
“Kita akan minta bantuan Normen Harv," kata Amicia." Kutebak kau sudah bertemu dia, dan jika dia tidak mau membantu kita... maka kita mati.”
Sekarang, semua pilihan yang kami ambil memang memiliki resiko kematian, jadi aku harus mulai membiasakan diri.
Aku ingat Normen Harv. Si kepala pengawal raja, dengan wajah berwibawa dan berambut penuh uban, yang juga memiliki pedang setinggi tubuhku.
Jika kenalan yang dimaksud si iblis adalah orang itu, maka kemungkinan untuk kita ditolong dan mati sama besar. Sebuah rencana khas Amicia, yang selalu memiliki resiko dan keuntungan yang sama tingginya.
Aku ingin tahu bagaimana Amicia bisa mengenal salah satu orang penting di kerajaan Donater. Apakah reputasinya di kota ini memang tenar seperti yang dia banggakan?
Bertemu Normen berarti menyerahkan nyawa kita kepadanya, setidaknya begitulah yang ada pikiranku. Karena sudah pasti, Normen adalah orang yang paling pusing di Donuemont akibat dampak dari senjata raja yang hilang.
Pencurian yang kami lakukan sudah mencoreng harga diri Normen Harv, dan saran Amicia adalah meminta bantuan Normen untuk akses ke Preant. Mungkin Amicia memang diam-diam menjual jiwanya kepada iblis.
Tetapi kami tidak punya pilihan lain.
"Biarlah keinginan Ulea yang terjadi," batinku.
Tunggu! Kenapa aku jadi sok religius begini? Efek terlalu putus asa, membuatku akhirnya berserah kepada sang Pencipta. Itupun kalau Dia berkenan.
Amicia memandangi langit biru di depan benteng Donuemont. Ekspresinya nelangsa, “Tengah hari nanti kita masuk lewat tenggara. Normen pasti ada disitu. Semoga dia mau membantu.”
Kami butuh perkenanan dari langit, karena kami sedang tidak melakukan misi, melainkan sedang bertaruh, dan taruhannya adalah nyawa kami.