Amicia langsung terdiam mendengar perkataan Orion, yang menandakan bahwa apa yang dikatakannya memang benar. Karen bahkan, seorang Amicia pun tidak bisa membalas kalimat Orion.
Jika yang tersisa dari Rebeliand hanya kami berempat maka kami tidak hanya bertugas mencari warga yang hilang. Namun, kami juga memiliki tugas untuk tetap menjaga Rebeliand utuh.
Rumah-rumah dan semua aset yang ada di Rebeliand harus ada yang menjaga, dan sisanya akan mencari warga Rebeliand yang hilang.
Atau saat kami menemukan seluruh warga, hal selanjutnya yang kami lakukan adalah membangun desa dari awal, karena kota kesayangan kami dijarah habis-habisan. Intinya, Rebeliand yang kosong harus dijaga.
“Aku yang akan menjaga,” usul Solastra memecah keheningan yang ditimbulkan oleh Orion.
Dia beranjak berdiri lalu mengibaskan debu dari celananya. "Kalian bertiga pergi mencari warga, dan aku akan bernegosiasi dengan semua pekerja Rebeliand," sambung Solastra.
"Orang-orang desa ini adalah kumpulan pekerja yang setia, dengan tuannya karena hormat, bukan karena takut," jelas Solastra.
“Caranya? Kita butuh nama," kata Amicia. "Aku belum sepenuhnya percaya, kalau tubuhmu sudah kembali pulih karena sihir Orion."
“Penjaga pos utara, Ales dan Roushi sedang keluar Rebeliand dimalam Rebeliand diserang. Mereka sedang mengirim pasokan s**u sapi ke desa tetangga," papar Solastra. "Dan tebak mereka pergi kemana?"
Kali ini Solastra tersenyum penuh kemenangan, kepada kami. "Ke desa didepan kita.”
Sekali lagi aku harus mengatakan pada dunia, bahwa aku paling tidak suka menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Mencuri pedang raja bersama Amicia tanpa tahu rencana pasti, hampir setahun tidak tahu bahwa kudaku bisa berbicara, dan sekarang sebuah fakta bukan hanya kami berempat yang selamat dari penculikan. Satu rahasia lagi dan aku akan bunuh diri.
“Solastra Wornd!” pekik Amicia, yang mungkin bisa membangunkan seluruh warga desa ini. “Jika kau merahasiakan satu lagi hal penting tentang Rebeliand, maka akan kupotong semua jari di tanganmu!"
Ancaman khas Amicia. Aku bahkan tidak akan terkejut, jika dia sungguh-sungguh memotong jari-jari tangan Solastra saat ini.
“Kalian juga punya rahasia," ujar Solastra lirih sambil melirik ke Orion. “Kuda itu dari tadi berbicara dengan kita, bahkan melakukan sihir untuk menyembuhkanku, dan kalian tampak biasa saja.”
Fakta lain yang kami lupakan sejak semua masalah tiba-tiba dilemparkan kedepan kami. Kami lupa bahwa Solastra tidak tahu fakta Orion bisa bicara, terlebih bisa melakukan sihir. Dan sejak tadi Solastra hanya diam saja seolah melihat kuda yang mengobrol – seringkali memerintah – adalah pemandangan umum sehari-hari.
“Kau tidak tampak kaget?” tanya Amicia.
Lalu cewek itu berkacak pinggang di depan Solastra. “Sepertinya kau sudah melihat hal yang aneh lebih daripada kuda ajaib yang dapat berbicara dan melakukan sihir,” tebak Amicia.
Aku juga memiliki kesimpulan seperti itu, hanya saja Amicia mengutarakannya lebih cepat dariku. Karena respon datar Solastra kepada Orion membuktikan kalau dia sudah melihat makhluk yang lebih ajaib dari pada kudaku ini.
Aku teringat sesuatu.
“Monster yang menyerang desa itu bukan
kiasan, itu harafiah," tebakku.
Solastra mengangguk muram. “Mereka menjijikkan, bagaikan mimpi buruk yang mewujud nyata."
"Mereka bukan binatang tapi juga bukan manusia. Aku tidak tahu bahasa mereka, itupun kalo mereka berbicara bukan menggeram," imbuhnya.
Selama mendeskripsikan soal monster itu, wajah Solastra menyiratkan kengerian karena harus mengingat seperti apa wujud mimpi buruk yang sebenarnya. Sekaligus harus mengingat momen seluruh warga Rebeliand yang diculik.
Gambaran menyeramkan berkelebat dikepalaku. Jika monster asli yang menyerang Rebeliand, maka pasukan tentara yang kami temui beberapa saat sebelum kami tiba di Rebeliand hanya kebetulan lewat.
Kebetulan yang aneh karena pasukan itu memiliki reputasi ‘selalu menumpahkan darah’. Bisa jadi, para tentara itu malah memburu monster yang menyerang kota kami. Jika benar begitu, maka darah segar yang ada di pedang mereka bukan berasal dari tubuh salah satu warga Rebeliand.
Sial, sebenarnya apa yang terjadi?
“Kami melihat sepasukan tentara...”
Amicia meremas lenganku sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Cukup keras sehingga aku berjengit dan memelototinya.
Amicia membalas pelototan mataku dengan senyuman cepat lalu dia beralih ke Solastra. “Kami melihat sepasukan tentara di Donuemont, kau tahu, Raja ada di Donuemont, jadi kota itu penuh dengan tentara.”
Amicia memegang bahu Solastra, lalu berkata, "Lindungi Rebeliand, cari semua bantuan. Kami akan menemukan semua warga.”
Apa ini hanya perasaanku, atau Amicia sedang membohongi Solastra? Aku baru saja akan menceritakan soal para tentara perak yang kami temui kemarin malam, dan dia malah menceritakan soal tentara Donuemont.
Terlebih lagi kalimat terakhirnya bukan seperti perpisahan, lebih seperti mengusir secara halus.
Solastra memegang tangan Amicia. "Aku janji akan menjaga Rebeliand dengan nyawaku. Temukan warga kita, dan bawa mereka kembali.”
“Tapi bagaimana kalau kau tidak bertemu dengan Ales dan Roushi?” tanyaku.
“Maka aku akan berjuang sendirian untuk menjaga Rebeliand,” jawab Solastra cepat, dengan nada khidmat.
Dia menunjukku dan Amicia. "Dan aku juga tahu, bahwa ada dua orang Rebeliand yang sedang menyelamatkan seluruh warga Rebeliand dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Dua misi bunuh diri dari sisa Rebeliand, cukup adil kan?”
Aku tidak tahu sebutan yang tepat untuk apa yang akan kami lakukan, tetapi menyebut dua misi kami adalah rencana bunuh diri bukan sesuatu yang berlebihan.
Hanya saja kami semua sepakat untuk memilih bunuh diri ketimbang membiarkan orang-orang yang kami sayangi tersiksa di suatu tempat. Melihat mayat mereka lebih baik daripada hanya percikan darah di setiap rumah mereka.
“Rebeliand akan utuh kembali,” ujarku sambil mengulurkan tanganku ke Solastra. “Jika kau mati, kau juga harus membawa musuhmu mati bersamamu.”
Solastra menyambut uluran tanganku. “Aku akan mati saat aku sudah membantai semua monster itu.”
Amicia mengucapkan perpisahan bukan dengan cara bersalaman sepertiku. Dia memeluk Solastra cukup erat. “Jaga dirimu baik-baik, di sisiku aku punya Lass untuk melakukan tugas itu.”
“Jangan lupakan Orion,” kata Solastra. Dia melepaskan pelukan Amicia dengan lembut, lalu memegang kedua bahu Amicia. "Bawa pulang mereka semua, dan kalian, berusahalah tetap hidup.”
Orion yang sejak tadi hanya melihat lurus ke arah desa mulai berjalan mendekati kami. “Sol, aku akan mengantarmu sampai kau bertemu dengan Ales dan Roushi.”
Orion menunjukku dengan satu kaki depannya. “Dan kau Lass, cari tempat persembunyian yang sekiranya tidak terlihat warga desa. Aku akan menyusul kalian setelah Solastra sudah menemukan dua orang itu.”
Solastra mengangguk mendengar ucapan Orion. Sekali lagi kudaku memperlihatkan bakatnya dalam hal memerintah – itu sangat berbeda dengan memimpin, pemimpin di tim ini jelas adalah aku – lalu Solastra naik ke punggung Orion.
Solastra sempat menoleh ke belakang dan melambai pelan ke kami, sampai akhirnya Orion berjalan ke arah desa. Entah kenapa, aku merasa kalau lambaian tangan Solastra adalah yang terakhir kalinya.
Tidak, aku tidak boleh pesimis, sebelum kami bahkan melakukan misi kami. Solastra adalah orang yang kuat, dia tidak akan menemui ajal secepat itu.
Semoga saja Ales dan Roushi ada di desa ini untuk membantu Solastra. Misi Solastra sudah dimulai, sekarang aku dan Amicia yang harus memulai misi kami, menyelamatkan warga Rebeliand.
Sebelum itu, kami harus mencari tempat persembunyian yang tidak mencolok untuk membuat rencana perjalanan kami.
Bukan karena aku mau diperintah oleh Orion, tetapi karena memang aku dan Amicia memang harus bersembunyi.
“Dia menyembunyikan sesuatu dari kita,"ujar Amicia lirih. “Aku menyusuri Rebeliand dengan teliti, dan aku tidak menemukan jejak monster. Yang ada hanya jejak kaki kuda.”
Aku menoleh ke Amicia, sambil mencemooh, “Kau tidak tahu apa pun soal Solastra, dia tidak mungkin berbohong, terutama kepadaku.”
Amicia mengangkat bahunya, dan membalas, “Aku hanya berbicara fakta. Sepengetahuanku, tidak ada monster yang menaiki kuda.”
Perkataan Amicia benar. Aku memang tidak seteliti dia dalam menyusuri jejak, tapi di Rebeliand memang tidak ada tanda p*********n dari monster. Itu pun jika monster memiliki jejak.
Bercak darah yang terlalu sedikit, rumah yang masih utuh, dan tidak ada korban yang mati mengenaskan cukup membuktikan bahwa desa kami tidak diserang oleh sepasukan monster. Warga desa kami lebih seperti diculik.
Melihatku memikirkan kalimatnya membuat Amicia tersenyum lebar ke arahku. “Kita pikirkan soal sahabatmu itu nanti," ejeknya.
"Sekarang, kita harus menyusun rencana untuk ke Preant, karena cuma itu petunjuk kita," imbuhnya.
Aku mengangguk muram kepada Amicia. Tentara Perak dari Preant adalah tersangka utama, sekaligus petunjuk satu-satunya yang kami miliki.
Penyerangan desa kami memang mengubah kedekatanku dengan Amicia, menjadi lebih dari pada dua orang murid dari pencuri ternama. Bagiku, dia memang tetap iblis, namun caraku memandangnya sebagai saingan telah berubah.
Kini aku bisa menganggapnya sebagai sahabatku. Terutama karena aku adalah sasaran empuk dari tangisan Amicia, yang pertama kali aku lihat, sejak kami saling mengenal.
Cewek tangguh ini berani membuka sisi lemahnya padaku, jadi aku memiliki alasan untuk menjaganya selayaknya seorang sahabat. Berbagi kesedihan dan kelemahan, adalah bukti dari persahabatan.
Selain membuatku memiliki cara pandang yang berbeda terhadap Amicia, tragedi ini sekaligus juga membuat keretakan kecil dalam kepercayaanku kepada Solastra.
Aku sedikit berharap kalau Solastra tidak berbohong padaku, dan ceritanya soal monster hanyalah ilusi yang tercipta karena ketakutannya.
Namun, apa yang sudah terjadi harus bisa kami terima. Entah Solastra menyembunyikan hal penting dalam penculikan warga desa kami, atau tidak. Kami tetap harus fokus dengan apa yang ada di depan kami.
Jika kami bertiga dapat menemukan warga Rebeliand yang diculik, maka perkataan Amicia soal Solastra bisa terbukti. Intinya, kami harus melakukan misi bunuh diri milik kami.
Mencari, dan juga menyelamatkan warga desa Rebeliand.