Kami sadar kalau kami sudah tiba di tempat tujuan, saat Orion memutuskan berhenti berlari.
Seingatku, Orion butuh hutan, atau sebuah tempat yang membuat sihirnya dapat bekerja dengan baik. Nyatanya, Orion malah membawa kami ke salah satu desa tetangga kami.
Bukan di tengah desa, melainkan kami berhenti tepat di gerbang desa, karena didekat kami ada pos dan pos selalu berhubungan dengan pintu masuk sebuah desa, yang ditumbuhi selusin pohon. Sepertiya sihir Orion berhubungan dengan ada tidaknya pohon pada suatu tempat, sehingga dia sering kali menyebutnya sihir hutan, karena hutan selalu memiliki banyak pohon.
Tetapi padang rumput dengan beberapa pohon ternyata sudah cukup untuk sihirnya, karena buktinya dia berhenti di sini.
"Turun dari punggungku dan baringkan dia di rumput!” perintah Orion, tepat saat kakinya baru berhenti berlari.
Kuda ini semakin sering memerintah setelah dia beberapa kali memperlihatkan kekuatannya kepada kami. Padahal beberapa saat lalu, dia baru saja membahas soal tugasnya yang adalah sebagai pelayan. Atau tugas itu hanya berlaku bagi para hewan? Sedangkan bagi aku dan Amicia, yang adalah manusia biasa, kami hanya b***k yang layak dia perintah.
Ah, andai saja aku tahu dia kuda ajaib. Minimal aku bakal berbagi kentang goreng dengannya alih-alih memberinya sayur dari kebun. Mungkin dengan begitu, dia akan memperlakukanku lebih layak.
“Bukankah kau butuh hutan untuk sihirmu?”
Pertanyaan ini bukan keluar dari mulutku, melainkan dari mulut Amicia. Tentu saja jawaban dari pertanyaan itu adalah sebuah ekspresi jengkel yang menyiratkan kau-masih-berani-bertanya-di-keadaan-genting-seperti-ini? Hanya saja ekspresi jengkel itu berasal dari muka seekor kuda.
Amicia mengangkat kedua tangannya.“Oke, aku tidak bermaksud meragukanmu, hanya saja kau tahulah, ini soal Solastra.”
“Baringkan dia di rumput!” kata Orion datar, tanpa memedulikan ocehan Amicia yang terlalu gelap. “Aku sudah mengulangi kalimat itu dua kali.”
Jika saja ini bukan soal hidup mati teman kami, maka kejadian ini cukup menggelikan. Seekor kuda yang bisa berbicara, melakukan sihir, dan perintahnya diabaikan oleh dua manusia biasa yang tidak punya kekuatan apapun. Dua kali!
Dengan alasan keselamatan Sol, maka aku dan Amicia perlahan menurunkan Sol dari punggung Orion, lalu membaringkan tubuhnya di rumput. Dibawah cahaya fajar pagi, tubuh Sol terlihat damai jika mengesampingkan luka sayatan yang ada disekujur tubuhnya.
Membayangkan Sol hidup dengan luka sebanyak itu adalah hal yang sulit. Dan harapan kami kali ini, bertumpu pada seekor kuda ajaib yang akan melakukan sihir di sebuah padang rumput dekat sebuah desa. Bahkan sampai saat ini aku masih belum tahu nama desa di depan kami.
Aku berharap penduduk desa ini terbiasa bangun kesiangan, sehingga mereka tidak perlu disuguhi adegan sihir luar biasa saat mereka baru saja bangun tidur. Akan menjadi hal yang merepotkan, jika Orion harus menyembuhkan Sol dengan ditonton oleh seluruh warga desa ini.
Adegan sihir luar biasa yang aku harapkan dari Orion ternyata tidak sesuai apa yang aku bayangkan. Aku tidak tahu bagaimana pendapat Amicia soal sihir Orion, tapi Amicia tidak memasang ekspresi melongo di wajahnya seperti yang kupasang di wajahku sekarang. Dia tampak biasa saja saat Orion hanya menghentakkan dua kaki depannya ke tanah tiga kali. Setelah itu dunia seolah melambat dan selesai sudah. Solastra yang tampak seperti boneka korban gigitan anjing liar nan ganas berubah menjadi Solastra yang kutemui di pos utara di hari keberangkatanku.
Entah dunia memang melambat, atau sihir yang membuat segalanya tampak menjadi lambat, karena bahkan desir angin pun terasa seperti enggan berhembus. Seiring lambatnya waktu, tubuh sahabatku itu seakan mempercepat proses penyembuhan alaminya, sehingga setiap luka sayatan yang ada di tubuhnya kembali menutup.
Tampaknya sihir memang tidak perlu gerakan rumit dan dramatis, cukup gerakan sederhana yang elegan. Segala bayanganku soal sihir mulai menemukan sudut pandang yang berbeda karena momen hari ini. Hentakan kaki yang tegas dari Orion sudah lebih dari cukup untuk membuat Solastra kembali seperti sedia kala.
Amicia memberi Solastra minum dari botol minumnya kemudian pelan-pelan dia membantu Solastra untuk duduk.
“Kau tampak mendingan,” kataku.
Solastra tersenyum getir kepadaku, “Tidak ada kata mendingan saat kau melihat seluruh orang yang kau sayang diambil paksa dan kau hanya bisa melihat dari jauh tanpa daya.”
Kali ini Solastra malah melihat isi botol minum itu dengan tatapan kosong. Seolah berharap di botol itu dia bisa menemukan seluruh warga Rebeliand, atau hanya sekedar ingin tenggelam ke dalam air itu. Aku paham dengan apa yang dia rasakan.
Sebuah keinginan untuk mati yang jauh lebih kuat daripada keinginan untuk hidup, pasti sedang berputar di kepala sahabatku ini. Aku pasti akan merasakan hal yang sama jika aku diposisinya. Lebih baik aku menderita bersama seluruh Rebeliand, atau mati bersama mereka semua, dari pada sekarat lalu diselamatkan dan terbangun di sebuah dunia tanpa orang-orang yang kau sayangi.
Dunia yang kau bangun dan jaga sudah runtuh dalam semalam saat tujuanmu untuk tetap hidup direnggut darimu. Aku tidak bisa menenangkannya, tidak saat aku juga punya perasaan yang sama dengannya.
Melihatnya sadar dan pulih, tetap tidak mengubah fakta bahwa Rebeliand telah direnggut dari kami. Kami butuh rencana, atau lebih tepatnya sebuah solusi untuk menyelamatkan warga kami.
“Mereka monster,” kata Solastra setelah mulai menenangkan diri. Tetapi dia tetap memandang ke isi botol minum itu.
“Mereka bukan manusia, mereka monster yang berbicara,” imbuhnya. Aku masih tidak yakin dia sedang berbicara dengan siapa. Ada tiga orang di dekatnya (karena Orion bisa berbicara maka kuhitung dia sebagai orang) dan dia tidak melihat salah satu dari kami saat dia berbicara.
Tetapi kami tidak repot-repot meneriaki dia ‘Oi lihat lawan bicaramu dong!’ atau ‘Kenalkan kami dengan teman airmu!’ Kami cukup paham dengan situasi saat ini. Sol melewati malam yang lebih berat daripada kami meskipun bobot kehilangan yang kami miliki sama beratnya.
Hanya saja Solastra melihatnya dengan kedua matanya, sedangkan kami baru datang saat semua selesai. Dia perlu waktu untuk menenangkan diri sejenak, dan kami bisa memberikannya.
Amicia yang sedari tadi di sebelah Solastra ,perlahan berjongkok ke depan Solastra. Memaksa Solastra untuk memandang matanya, lalu berujar, “Solastra Wornd, kami juga bertanggung jawab”.
Dia memegang kedua tangan Solastra dan berkata, “Dan kau harus pulih secepat mungkin untuk ikut balas dendam ke siapa pun yang sudah berani menghancurkan desa kita.”
Sebuah kalimat sarat kebencian yang diucapkan dengan tampang santai. Manusia yang bisa melakukan itu hanya Amicia. Solastra hanya mengangguk lemah sebagai respon atas apa yang dikatakan oleh Amicia.
Setidaknya pesan Amicia sudah jelas tersampaikan kepadanya. Kami bisa saja terpuruk dengan kesedihan dan trauma seperti Solastra, tapi ada pilihan lain yang kami pilih. Kami akan... kami harus menyelamatkan warga desa kami.
“Kita tidak boleh disini saat orang-orang desa sudah bangun,” usul Orion. Dia mengatakannya sambil memandang ke arah desa. Selagi aku dan Amicia sedang menenangkan Solastra, Orion mengambil tugas untuk mengawasi sekitar kami.
Desa yang ada di dekat kami ini tidak tampak berbahaya, tapi kami tidak mau menjadi pusat perhatian. Jika harus melacak warga desa kami, maka kami tidak bisa bertindak dengan semua perhatian tertuju kepada kami. Saran Orion layak diperhatikan.
“Desa Tosval,” kata Solastra lirih. Dia masih terlalu lemah untuk melihat mata salah satu dari kami. “Desa ini dibangun oleh Keluarga Ozihel, jadi semua warga desa ini bekerja di penginapan Ozihel. Mereka akan ke Rebeliand dan akan menemukan Rebeliand adalah sebuah desa mati.”
Informasi terbaru ini hanya bisa didapatkan oleh seorang penjaga pos yang sering bertemu banyak orang. Praktis aku dan Amicia hanya bisa mendengarkan, karena sosialisasi bukan keahlian kami.
“Apa mereka bisa dipercaya?” tanya Orion dengan curiga.
Amicia menepuk pipi kepala Orion pelan. “Untuk seekor kuda yang memberi saran untuk cepat pergi dari sini, pertanyaan barusan terdengar cukup aneh ditelingaku.”
Jika wajah Orion bisa memerah maka sudah pasti wajahnya sudah jadi semerah darah karena sindiran Amicia. Tapi Orion malah semakin mengeraskan wajahnya. “Desamu bisa dijarah habis-habisan saat kita yang tersisa malah ada disini, dan mempersiapkan misi bunuh diri.”
“Dua orang pencuri, satu orang penjaga pos, dan satu kuda ajaib bukanlah lawan yang berat bagi sebuah desa yang ingin menjarah,” imbuh Orion.