Hari ini, adalah hari terburuk yang pernah ada di hidupku.
Aku tidak pernah menyangka, kalau aku akan takluk dengan pemuda culun ini. Di belakang Yared yang sedang duduk santai di di hadapanku, Amicia masih menggelepar sambil memegangi lehernya.
Harusnya aku sudah merobek lehernya saat tadi memiliki kesempatan, namun aku malah mengampuninya karena wajah memelas yang dia tunjukkan, terlihat sangat nyata.
Yared si culun ini tidak beranjak dari kursinya. Sejak dia memilih duduk di depanku, dia hanya memandangi kami bolak-balik sambil menampakkan senyum aneh itu. Sebuah senyuman yang tidak pernah sampai ke mata.
Sesekali dia memiringkan kepalanya sambil terkekeh kecil, untuk sekedar mengejekku. Sedangkan untuk Amicia, Yared memutar pedang milik sahabatku itu di depan kedua matanya.
Kami ada di posisi yang sangat tidak berdaya. Yared bisa saja menghunus pedang yang ada di tangannya kepadaku atau Amicia, dan hasilnya, kami berdua mati di tangan pria culun ini.
Aku mulai memikirkan berbagai kemungkinan untuk menyelamatkan diri, terutama saat aku sadar bahwa bahkan kekuatan Yared mampu menahanku agar tidak dapat mengeluarkan suara apa pun.
Hanya sesaat, pikiranku beranjak ke sebuah kemungkinan, yang bisa jadi adalah kebenaran. Normen Harv, mungkin peran orang itu bukan hanya menjadi penolong kami untuk ke Preant. Mungkin, dia juga bisa mengalahkan kekuatan aneh dari Yared.
Dugaanku, Normen pasti juga memiliki sihir yang cukup kuat, karena rivalnya, Knox, sudah mendemonstrasikan seberapa besar sihir yang dia miliki. Akan sangat tidak mungkin, jika Normen memiliki kekuatan yang jauh di bawah Knox.
Tetapi, bagaimana cara kami untuk meminta bantuan kepada sang pengawal Raja?
Malahan, Normen Harv yang jadi satu-satunya harapan kami menyelamatkan warga Rebeliand, dan mengeluarkan kami dari situasi pelik ini, sudah pergi ke Donadhor, dan kesempatan kami hilang sepenuhnya.
Aku sedikit menyesal, karena tidak pernah mempelajari ilmu sihir seumur hidupku.
Melihat Orion bisa melakukan sihir hutan saja sudah membuatku rendah diri. Sedangkan hari ini, aku malah melihat dua orang yang memiliki kemampuan sihir yang luar biasa, unjuk gigi.
Dimulai dari Falereus Knox yang datang dalam balutan petir. Setelah itu, dia memenggal puluhan kepala prajurit Donuemont demi bertemu Normen, hingga menghilang tanpa jejak karena diusir secara halus oleh Raja Donater.
Sekarang kami malah bertemu si culun yang pekerjaannya merawat kuda pengunjung penginapan, dan memiliki rumah garis miring tempat sampah, yang dapat membuat dua pencuri muda terbaik Rebeliand tidak berdaya sama sekali.
Mungkin kemampuan mencuri harus diimbangi dengan sihir, karena hari ini membuktikan bahwa sihir adalah elemen pembeda dalam sebuah pertempuran.
Selagi aku bergelut dengan pikiranku, suara erangan kesakitan dari Amicia sudah tidak terdengar lagi. Sahabatku itu memang yang terbaik dalam hal beradaptasi, meskipun keadaannya sangat genting.
Aku kagum kepadanya, karena dia tidak memohon atau mengeluarkan air mata sedikit pun, meskipun beberapa saat lalu, dia meraung kesakitan. Amicia memang gadis tangguh.
Karena Amicia sudah tidak meraung lagi, maka keadaanku sekarang jauh lebih buruk dari Amicia. Entah kekuatan apa yang dimiliki Yared, tapi dia sanggup membuat tubuhku membeku sepenuhnya. Dalam hati, aku berharap dia tidak menyuruhku melakukan hal bodoh.
Yared si culun, akhirnya memulai pembicaraan. "Aku ikut kalian untuk bertemu dengan Normen Harv," putusnya.
Nada suaranya tetap sangat ramah, seperti terakhir kali aku bertemu dia di depan kamar Alestora. Namun, ada sedikit intonasi yang menjanggal saat dia mengatakan kalimat tersebut.
Dia tidak seperti memberi perintah, namun lebih ke arah sebuah permintaan yang harus aku dan Amicia turuti. Kemampuannya untuk menyembunyikan emosi, cukup membuatku terkesan.
Dan satu lagi fakta aneh untuk hari ini, bahwa permintaan Yared yang sepertinya harus kami turuti adalah dia ingin kami memasukkannya ke dalam tim pencarian Normen.
Setelah memberi kesakitan yang hebat kepada Amicia, dan membuatku menjadi seperti orang bodoh, permintaan Yared terlalu sederhana. Semua pertunjukan sihirnya seolah menjadi sia-sia, karena permintaanya yang terlalu mudah.
Selain itu, ada satu misteri lagi yang muncul dari permintaan Yared. Misteri soal identitas sebenarnya dari Normen Harv, karena hanya dalam kurun waktu yang tidak lama, sudah ada dua orang dengan kemampuan sihir yang mencarinya.
Sepertinya Normen terlalu terkenal, atau dia memiliki banyak janji yang gagal dia tepati?
Aku mencoba mengeluarkan suara untuk menjawab permintaan Yared, tetapi tetap saja kekuatan yang menahanku terlalu kuat.
Dari sebelahku tercetus sebuah pertanyaan dengan suara serak, "Untuk... untuk apa kami harus percaya denganmu?"
Ternyata Amicia sudah bisa mengatasi kesakitan di tenggorakannya, dan dia mewakiliku untuk melempar pertanyaan penting kepada Yared, sebelum kami menyetujui permintaannya.
Yared beranjak dari kursinya, lalu berjalan mendekati Amicia. "Aku kagum dengan ketangguhanmu Nona Amicia, biasanya korbanku tidak akan bisa berbicara lagi."
Saat dia tiba di sebelah Amicia yang sedang berbaring di lantai, Yared berlutut disebelah sahabatku, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
Aku tidak tahu kalimat apa yang dikatakan oleh Yared, namun setelah bisikannya, Amicia mulai kuat untuk beranjak berdiri. Atau lebih tepatnya hampir berdiri, karena sekarang, Amicia juga melakukan hal yang sama denganku. Berlutut di depan Yared.
Anak tunggal Masterku itu, sepertinya juga merasakan hal yang sama denganku, sekujur tubuhnya terlihat membeku di depan Yared. Namun, Amicia bisa berbicara, tidak sepertiku.
"Mengapa kami harus menyetujui permintaanmu?" sahut Amicia sengit.
Yared kembali tertawa kecil. "Jawabannya sederhana, karena kalian butuh aku untuk bertemu Normen."
Amicia tersenyum sinis kepada Yared. "Kami butuh kau? Padahal saat ini kau yang sedang meminta bantuan kami."
Aku paling tidak suka dengan sifat Amicia yang satu ini, sebuah sifat yang tidak bisa mengenali keadaan. Seharusnya dia tidak memprovokasi Yared lebih jauh, terlebih pria itu sedang memegang pedang di tangannya.
Mendengar jawaban, dan tatapan sinis Amicia, maka aku sudah siap melihat Yared kembali membuat Amicia kesakitan, tapi ternyata ketenangan Yared mengalahkan jawaban sinis dari Amicia.
Yared tetap memandang lekat wajah Amicia, seolah menimbang hukuman yang tepat untuk cewek itu. Namun, lagi-lagi dia kembali menampakkan senyum aneh itu. Aku semakin percaya, bahwa Yared adalah orang paling berbahaya yang pernah kutemui.
"Kau menang", kata Yared sambil beranjak berdiri. "Aku memang perlu bantuan kalian untuk menemukan Normen."
"Jadi, aku akan mengubah permintaanku, kalian mau membantuku?" tanyanya.
Amicia tetap mempertahankan tatapan sinisnya, lalu setelah dia berhasil mengendalikan napasnya, dia menjawab, "Pertama, lepaskan sihir yang membuatku tidak bisa bergerak, dan tenggorokanku kesakitan."
Setelah itu Amicia melirikku. "Dua, kembalikan suara Lass juga, dan tarik sihirmu darinya agar dia bisa bergerak."
Yared mengangguk pelan, sambil menepuk pipi Amicia. "Ada permintaan lagi Nona Amicia?"
Amicia menatap mata Yared dengan tatapan menusuk, bahkan aku yang cukup.jauh darinya, dapat merasakan aura membunuh yang berasal dari tatapan itu.
"Lepaskan tanganmu dari wajahku," ancam Amicia dengan suara lirih.
Ancaman Amicia membuat Yared sedikit berjengit, padahal Amicia yang berada di situasi tidak berdaya. Yared beranjak berdiri lalu berjalan hingga membelakangi kami.
Saat dia sudah berdiri di tempat yang cukup jauh dari kami, pria itu menggumamkan bahasa yang tidak kumengerti. Inilah pertama kalinya aku melihat seorang penyihir merapal mantra.
Perlahan aku mulai bisa mengontrol tubuhku lagi, seolah semua fungsi ototku kembali ke penguasannku. Begitu juga suaraku yang kembali bisa menggetarkan pita suara di tenggoranku.
Aku melihat ke arah Amicia, tampak dia juga sudah bisa berdiri lagi meskipun masih tampak kesakitan. Dia membalas tatapanku dengan anggukan disertai senyuman menenangkan. Amicia benar-benar gadis yang kuat.
Yared kembali menghadap ke arah kami, "Kita susun rencana," usulnya.
Pria itu mengambil dua kursi di dekatnya, lalu mendorong kursi kepadaku dan Amicia. Dia memberi isyarat kepada kami untuk duduk.
Aku masih ragu dengan keputusan untuk bernegosiasi, bahkan bekerja sama dengan si culun aneh ini. Amicia pasti juga ragu dengan Yared, tapi kami jelas tidak punya pilihan lain. Karena jika kami menolak, maka kemungkinan besar, hasilnya adalah kekalahan untuk pihak kami.
Aku dan Amicia memutuskan untuk duduk, sedangkan Yared memilih untuk tetap berdiri.
Untuk pertama kalinya, aku dapat melihat postur Yared yang seutuhnya. Karena selama dua pertemuan kami, aku tidak pernah fokus untuk melihatnya secara utuh.
Proporsi tubuh Yared kurang lebih hampir sama denganku, malah aku sedikit lebih besar dari padanya.
Dia memiliki rambut hitam sebahu yang tebakanku, tidak pernah bertemu sisir. Warna kulit Yared tidak lebih gelap ketimbang Amicia, sedangkan bola matanya berwarna hitam seperti rambutnya.
Jika aku berpapasan dengan Yared di jalan, mungkin aku mengabaikannya karena dia tampak seperti pemuda tak terurus yang tidak layak diberi salam. Siapa sangka ternyata Yared adalah orang yang berbahaya.
"Kau penyihir?"
Pertanyaan itu adalah yang pertama kali terlintas di pikiranku, setelah aku melihat semua hal yang dia lakukan pada kami.
Yared menggelengkan kepalanya. "Bukan, ini adalah... aku biasa menyebutnya anugerah.
"Hanya di keadaan terancam aku bisa melakukan hal seperti tadi, dan ancaman yang membuat anugerahku aktif adalah pedang Nona Amicia yang menempel di leherku," paparnya.
Kekuatan Yared ternyata juga sangat culun, seperti dirinya. Sebuah kekuatan besar, yang hanya bisa keluar di kala dia terancam, jadi saat tidak terancam maka Yared hanyalah seorang manusia culun.
Amicia tertawa keras. "Itu alasanmu mendobrak pintu depan dan masuk lewat belakang. Karena kami berdua l yang memiliki refleks bagus pasti akan langsung membuat keadaanmu terancam?"
Sebelum Yared meresponi ejekannya, Amicia kembali berkata, "Kau berbahaya Yared, aku tidak akan melupakan rasanya tenggorokanku yang seperti ditumpahi lahar panas."
"Maaf aku hanya ingin kau tidak berbicara," ujar Yared sambil membungkukkan badannya. "Aku tidak tahu kalau ternyata tenggorokanmu akan disakiti seperti itu."
Sebuah permintaan maaf yang terdengar tulus keluar dari mulut Yared, dan juga kepribadiannya yang berbeda dari beberapa saat lalu, saat kami ada di bawah kontrolnya.
"Tunggu sebentar," selaku. "Jadi kekuatanmu adalah keinginanmu yang pasti terkabul saat kau sedang terancam?"
Yared mengangguk kikuk sambil mengusap rambutnya. "Beberapa kali kekuatanku tidak muncul meskipun aku hampir mati, aku masih belum tahu caranya menggunakan kekuatanku."
Aku ralat perkataanku tadi soal pencuri yang juga memiliki kemampuan sihir. Kalimat yang lebih tepat adalah pencuri yang memiliki kemampuan sihir, harus mengerti cara menggunakan sihir tersebut.
Kekuatan Yared terlalu aneh bagiku, begitu juga kepribadiannya. Aku sangat yakin, kalau dia memiliki kendali penuh akan kekuatannya, apalagi ditambah senyuman anehnya saat kekuatan itu aktif.
Namun, perkataannya barusan, tidak memuat nada, maupun sikap yang mengindikasikan dia berbohong. Aku juga sangat yakin, kalau apa yang baru saja dia katakan adalah kebenaran.
Belum lagi nada bicara, maupun gesturnya sekarang, berbeda jauh dengan saat dia mengejek kami. Aku seperti bertemu orang yang berbeda dengan pria yang mengancamku beberapa saat lalu.
Sebenarnya, siapa orang ini?
Semakin aku memikirkan soal Yared, maka aku semakin sulit untuk menemui jawaban. Yared selayaknya sebuah titik hitam yang tidak dapat diselidiki lebih lanjut, kecuali dia memang membuka dirinya.
Selain itu, ada masalah yang lebih penting ketimbang identitas Yared. Kami harus menemukan Normen untuk menyelematkan warga Rebeliand yang diculik. Untuk itu, tidak ada waktu untuk berbincang santai membahas kemampuan sihir dari Yared si culun.
Aku mengalihkan topik pembicaraan, "Kita lanjutkan pembicaraan soal kekuatanmu lain kali, sekarang kita akan membahas rencana kita."
Amicia dan Yared mengangguk setuju
Selama beberapa saat yang terasa panjang akhirnya kami berhasil membuat satu rencana matang untuk bisa bertemu Normen.