Jika ada satu saja warga Rebeliand di sini, maka aku dan Amicia sudah pasti disoraki karena berjalan berdampingan, bak sepasang pengantin muda.
Hanya saja, kami bukan pasangan manis dan lucu, melainkan duo pencuri yang tak kenal ampun garis miring bengis.
Memikirkan warga Rebeliand semakin membuatku ingin segera cepat pergi ke Preant, namun hal itu tidak dapat dilakukan. Karena menurut Amicia dan Orion, Preant adalah kerajaan yang jauh dari sini, dan membutuhkan seorang pemandu untuk sampai ke tempat itu.
Itulah alasan mengapa kami berjalan berdampingan, di jalan utama kota Donuemont pada siang bolong. Karena Amicia memiliki seorang pemandu hebat di kota ini, yang mungkin mau mengantar kami ke Preant.
"Kau tidak lapar?" tanya Amicia dengan wajah serius.
Cewek ini tidak pernah berubah. Dia selalu memasang wajah serius, di saat perkataannya hanya sesuatu yang sederhana. Sebaliknya, saat dia berada di situasi serius, dia akan tertawa bak orang gila.
Responku untuk pertanyaan Amicia adalah menggelengkan kepalaku dengan cepat. "Kau masih memiliki kemampuan untuk lapar?" gerutuku.
Dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, sambil terus memandangiku. Karena aku jarang peduli dengannya, maka aku hanya terus berjalan melewatinya.
Setelah beberapa langkah meninggalkan cewek iblis itu, aku mulai merasa khawatir dengannya. Jadi, aku kembali ke arah semula untuk menjemputnya.
Ternyata dia tidak memandangiku, melainkan sesuatu, atau lebih tepatnya sebuah toko di belakangku. Dia bahkan sudah duduk dengan santai di sebuah kedai yang berdiri di jalan utama kota ini.
"Bukannya kau tidak lapar?" tanyanya padaku setelah aku duduk di sebelahnya.
Kedai makanan itu adalah sebuah ruangan kecil yang disekat menjadi dua bagian. Bagian yang memiliki pintu di sebelah kiri, adalah milik si penjual, sedangkan bagian untuk pembeli hanya dilindungi atap, namun tbidak memiliki pintu.
Aku baru sadar, kalau kedai ini memiliki udara yang jauh lebih sejuk dari pada langsung berjalan di bawah teriknya matahari siang di Donuemont.
"Anak muda, Anda juga makan?" tanya si penjual kepadaku.
Jika aku harus menjelaskan rupa penjual ini kepada kalian, maka aku akan memakai satu kata, yaitu singa. Si penjual adalah seorang pria yang memiliki rambut lebat di bagian wajahnya, karena itu aku langsung teringat dengan seekor singa saat melihatnya.
Namun, dia tidak tampak seperti singa yang ganas, melainkan bagai raja singa yang sangat lembut kepada rakyatnya. Raut wajah pria ini tampak sangat tegas, tetapi suasana ramah juga muncul dari senyumannya.
"Samakan pesanannya dengan milikku," ujar Amicia mengambil alih pesananku.
Si pria berwajah singa tersenyum kecil kepada Amicia, lalu dia mulai memasak pesanan sahabatku itu. Aku cukup penasaran dengan sesuatu yang dijual oleh pria ini, karena selama hidupku, aku selalu makan makanan yang dimasak oleh ibuku.
Beberapa menit kemudian, sang penjual menghidangkan masing-masing semangkuk mi kepada kami, sambil berkata, "Selamat menikmati."
Amicia yang memang sudah mengeluh kelaparan, langsung menyeruput mi yang ada di depannya. Tidak ada kecurigaan di wajahnya soal bahan-bahan yang dipakai untuk membuat makanan ini.
"Pak Troya tidak mungkin memberimu racun," ujar Amicia dengan mulut yang masih penuh dengan mi. "Dia adalah penjual mi terbaik di seluruh daratan Ueter."
Karena Amicia tidak mati, meskipun sudah memakan hampir setengah mi di mangkuknya, aku pun memberanikan diri untuk pertama kalinya makan sesuatu yang tidak dimasak tangan ibuku.
Diam-diam aku berterima kasih kepada Amicia, karena membuatku bisa merasakan makanan enak ini, setelah semalaman tidak ada sesuatu yang masuk ke perutku.
"Teman barumu Nona?" tanya Pak Troya.
Amicia mengangguk setuju, sambil menepuk punggungku pelan. "Hari ini adalah pertama kalinya dia berkunjung ke Donuemont, karena ada seorang saudara jauhnya yang tinggal di kota ini."
Aku menatapnya dengan tatapan bingung, karena mendadak, aku memiliki seorang saudara di kota ini. Meskipun aku mengharapkan seorang saudara, karena aku adalah anak tunggal, namun alasan Amicia terlalu mendadak.
Pak Troya menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Apa Tuan sudah menemukan sanak saudara yang Tuan cari?"
Sandiwara bukan keahlianku, namun aku juga cukup cerdik untuk beradaptasi. "Sejauh ini belum Pak, mungkin karena namanya yang tidak terkenal di kota besar ini."
Pak Troya terkekeh, "Tidak ada yang tidak kukenal di seluruh kota ini. Katakan saja namanya, maka aku akan menunjukkan arah yang tepat untuk tempat tinggal orang yang kau cari," ujarnya bangga.
Aku berdeham, "Namanya Normen Harv, dia adalah saudara jauh saya."
"Normen Harv!" pekik si penjual mi itu. "Orang itu adalah salah satu prajurit terbaik milik Donater. Kabarnya, kemarin malam dia kehilangan pedang kesayangannya."
Mendengar soal pedang Normen Harv yang hilang membuat Amicia langsung terbatuk keras. Cewek itu bahkan hampir memuntahkan makanan yang katanya mi terbaik di daratan Ueter.
"Astaga!" ujar Pak Troya kebingungan. Pak tua itu menyuguhkan Amicia segelas air putih untuk meredakan batuknya. "Anda tidak apa-apa Nona?"
Amicia mengambil air pemberian Pak Troya, dan meminumnya. "Terimakasih Pak, Anda tahu dimana rumah Normen Harv?"
Karena Pak Troya mengatakan kalau rumah Normen Harv adalah rumah yang tempat terjadinya pencurian kemarin, maka seharusnya Amicia sudah tahu letak tempatnya. Namun, kami harus tetap bertahan kepada sandiwara yang sudah kami mulai.
"Tentu saya tahu!" ujar si wajah singa ini dengan bangga. "Rumahnya ada di ujung kompleks bangsawan, kalian akan tahu rumahnya, saat melihat banyak prajurit berkumpul di terasnya."
Setelah diberi tahu letak rumah Normen Harv, aku dan Amicia berpamitan dengan sopan kepada orang yang telah memasakkan makanan enak kepada kami. Amicia juga tidak lupa memberikan dua lembar uang Donater kepada Pak Troya, sebelum meninggalkan kedai mungilnya.
Aku sudah setengah perjalanan untuk sampai ke rumah tempat Normen berada, yang ternyata adalah rumah tempatku mencuri pedang Raja.
Misi pertama kami, memang adalah mencari tahu letak rumah Normen Harv dengan menanyakan kepada warga setempat. Aku tidak menyangka, kalau rumah itu adalah rumah tempatku kemarin mencuri pedang yang ada di punggungku.
Lucu rasanya membayangkan bahwa aku masuk kerumah tersebut untuk memaksa Normen membantuku. Kemungkinan nyawa kami melayang sangat tinggi, apalagi jika Normen sadar bahwa pedang di punggungku adalah miliknya.
"Kau yakin dengan misi ini?" bisik Amicia di sebelahku.
Sebenarnya aku masih tidak percaya dengan Yared setelah kami menemukan rumah Normen, tetapi rencana yang dia tawarkan memiliki kemungkinan berhasil yang sangat tinggi.
Jadi begini rencana Yared, Aku dan Amicia akan menyamar seperti warga biasa di Donuemont untuk mencari tahu rumah Normen.
Amicia mengatur rencana ini dengan rencana makan di kedai Pak Troya. Sayangnya, kedai milik Pak tua itu adalah kedai berjalan. Jadi, kami harus memutari Donuemont untuk mencari kedai itu.
Selama kami makan, Yared berencana untuk menguping pembicaraan kami dengan juga berpura-pura makan di kedai milik Pak Troya. Amicia sangat yakin kalau pemilik kedai itu bisa memberi tahu rumah Normen secara akurat.
Selanjutnya, kami akan berpura-pura menjadi tamu untuk Normen, sekaligus untuk mencari tahu di mana lokasi pria itu. Jika ada keadaan genting, maka kami akan melumpuhkan para prajurit penjaga Normen sebisa mungkin tanpa suara, dan menyisakan satu orang prajurit.
Sisa satu prajurit tersebut kami sisakan agar dia akan menyerang Yared yang masuk secara mendadak ke rumah lewat pintu belakang. Jika prajurit tersebut menyerang Yared, maka kekuatan si culun tersebut akan aktif.
Kekuatan Yared yang aktif jelas akan membuat kami diatas angin, misi selesai. Bagaimana? terdengar sangat rapi kan?
"Lass kau yakin tidak? Kita masih setengah perjalanan, masih ada waktu untuk putar balik," gerutu Amicia karena pertanyaannya yang pertama kuabaikan.
Di penyamaran kali ini, Amicia hanya menutupi baju khasnya dengan jubah panjang bertudung warna coklat yang dia dapatkan dari hasil membongkar isi lemari Yared.
Amicia juga menemukan sebuah jubah hitam tanpa tudung, di lemari Yared yang akhirnya sekarang kupakai. Penyamaran seadanya, dengan harapan tidak ada yang mengingat kami pernah ke kota ini.
Aku menempelkan telunjuk kebibirku, sambil berdesis, "Sssst, aku lumayan yakin rencana si culun itu bakal berhasil."
Mendengar jawabanku, Amicia langsung kembali fokus ke jalan utama Donuemont. Wajahnya yang tersembunyi dibawah tudung membuatku sulit menebak raut mukanya. Kemungkinan besar, dia akan kesal setengah mati karena aku membela Yared, ketimbang dirinya.
Kami melanjutkan perjalanan ke rumah Normen dalam diam. Beberapa kali kami mengalah dengan pejalan kaki lain, hanya untuk menjaga diri agar kami tidak perlu berbicara atau bertegur sapa dengan orang lain.
Ternyata menyamar di keramaian kota terlalu mudah untuk kami, malah apa yang kami lakukan lebih bisa disebut membaur. Kami praktis hanya berjalan biasa dan berusaha tidak menyenggol siapapun.
Hingga tidak terasa kami sampai di gerbang komplek timur laut, atau kompleks bangsawan.
Sebelum masuk ke kompleks ini, aku menyempatkan untuk melirik Amicia. Ternyata dia hanya memandang lurus ke gerbang tersebut, yang berarti Amicia sudah dalam mode fokus.
Melewati jalanan komplek timur laut juga tidak terlalu sulit, hanya saja semakin kami masuk kedalam kompleks maka semakin banyak mata yang mulai memandangi kami. Ditambah fakta bahwa jalanan kompleks ini lebarnya hanya setengah jalan utama.
Beberapa bangsawan yang berpapasan dengan kami malah dengan sengaja memberi kami jalan, yang malah mempermudah kami. Kebangsawanan mereka sepertinya bukan hanya karena keturunan, namun juga sikap dan karakter.
Kompleks bangsawan jelas tidak terbiasa dengan jubah lusuh, atau mungkin mereka hanya tidak mau berbagi kutu dengan kami. Setidaknya pikiran itulah yang pertama kali muncul di otakku saat orang-orang malah membiarkan kami melewati mereka.
Jalanan ini makin sepi saat kami mendekat dengan persimpangan akhir, ada dilema yang muncul dibatinku untuk segera bersembunyi. Namun misi dari Yared mengharuskan kami untuk menjadi pengalih perhatian, alih-alih tetap dalam gelap.
Rumah keempat di barisan paling utara kompleks bangsawan sudah terlihat, inilah saatnya eksekusi rencana seadanya yang kami buat dalam waktu singkat.
Aku memeriksa dua pisau kembarku yang tersembunyi di balik jubah kotor ini, belum lagi ada pedang curianku yang kusampirkan di punggungku untuk berjaga-jaga jika pisauku tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik.
Sampai di depan rumah Normen aku melirik Amicia, dia memberi isyarat kepadaku untuk diam. Tanpa dia suruh pun aku tetap akan diam, meskipun pengalih perhatian bukan bakatku.
Amicia melangkahkan kakinya ke pintu depan rumah tersebut, lalu mengetuk pintu perlahan.
Jantungku berdetak kencang karena apa yang kulakukan sekarang benar-benar jauh dari apa yang diajarkan Masterku. Aku tidak dalam kegelapan, tidak masuk melalui celah yang tidak bisa ditebak, dan beroperasi di siang hari.
Tiga hal yang berkebalikan dari apa yang diajarkan Masterku.
Pintu dibuka dari dalam, kepala seorang prajurit muda menyembul dari dalam. Aku menyimpulkan dia seorang prajurit, karena potongan rambutnya yang pendek dan raut wajahnya yang tegas.
Prajurit itu memandang kami dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Siapa kalian? Ada perlu apa kesini?"
Amicia maju selangkah lalu membuka tudungnya, dia berkata dengan suara yang tenang, "Tuan Normen Harv yang meminta kami kesini untuk urusan rahasia."
Mendengar nama Tuannya disebut, muka prajurit itu langsung berubah. Perlahan dia membuka pintu rumah tersebut secara utuh hingga postur tubuhnya tampak jelas.
Pria ini benar-benar prajurit sejati, setidaknya itulah yang muncul di otakku saat melihat keseluruhan tubuhnya. Meskipun dia hanya mengenakan pakaian rumah yang santai, tapi pakaian tersebut jelas tidak bisa menyembunyikan otot tubuhnya.
Tinggi orang ini berbeda sekitar dua kepala denganku, jika aku berbicara dengannya berhadapan sudah pasti aku harus mendongak, apalagi Amicia yang tinggi badannya berada di bawahku.
Selain itu orang ini punya d**a yang bidang, juga perut dan lengan berotot. Jika semua prajurit Donuemont seperti ini, maka berurusan dengan mereka adalah hal yang berbahaya bagi musuh mereka.
Prajurit itu berdiri di hadapan Amicia, dan karena cewek itu lebih pendek darinya maka dia berbicara dengan menunduk, "Sebelumnya, perkenalkan diri kalian."
Amicia tidak terintimidasi sedikitpun, padahal didepannya ada orang yang lebih tinggi darinya.
Iblis itu mendongak santai, sambil mengangkat alisnya. "Bukan urusanmu untuk tahu kami siapa, biarkan kami masuk untuk bertemu Tuanmu."
Prajurit itu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Amicia. "Aku butuh namamu dan temanmu," tegas prajurit itu.
"Sekali lagi kutegaskan, nama kami bukan urusanmu," kilah Amicia sambil tersenyum licik."Atau kau malah ingin kami pulang, dan membuat Tuanmu melampiaskan kemarahannya padamu, karena telah mengusir tamunya?"
Ancaman Amicia cukup telak menampar si prajurit, hingga akhirnya dia mengubah sikapnya setelah beberapa saat merenung serius. Dia mundur perlahan lalu membuka jalan agar kami masuk.
"Terima kasih, begitu dong dari tadi," gofa Amicia sambil menepuk d**a si prajurit dengan genit, lalu dia melenggang masuk ke rumah Normen dengan aku mengikuti dibelakangnya.
Pikiranku yang menyangka bahwa prajurit itu sudah merubah sikapnya ternyata sebuah kesalahan fatal, yang harus dibayar mahal. Semahal rencana kami yang gagal.
Kejadiannya cepat sekali tepat saat aku melewati si prajurit itu, dia langsung menutup pintu depan, menarik jubahku, dan mendorongku kepada Amicia.
Sesuatu yang ada di punggungku langsung terpelanting dan tersibak dengan jelas, setelah aku terjatuh smabil menindih Amicia di lantai rumah Normen Harv. Pedang milik Normen berada di lantai antara kami dan si prajurit.
Selama beberapa detik, aku dan Amicia saling berpandangan dengan si prajurit itu. Namun, karena kami lebih sering dilatih untuk merespon dengan cepat, maka kami berdua menerjang ke arah pedang itu.
Prajurit bertubuh besar itu kalah cepat dari kami, lalu dia segera meraung setelah Amicia menghunus pedang milik Tuannya ke arahnya.
"Pencuri!" seru prajurit itu.
Dalam sekejap, kami langsung dikelilingi oleh puluhan prajurit Donuemont yang bersenjata namun dengan balutan baju santai, akibat raungan si pria berotot.
Fakta yang lebih parah adalah, teman baru kami, alias Yared, masih belum terlihat batang hidungnya.