"Lepas!" Dia menatap penuh kesal akan tindakan impulsif Pangeran yang dengan seenak jidat mengakui dirinya sebagai calon istri. "Gue juga gak bakalan mau ngikutin rencana gila lo itu!"
"Lo harus mau! Karena gue udah milih lo!"
"Lo gila, yah?" Melya mendorong tubuh Pangeran kesal. "Gue itu datang ke sini bukan buat ngehancurin masa depan gue. Tapi, cuma buat kerja doang. Jadi, gak usah aneh, deh! Gue punya prioritas hidup sendiri dan itu bukan sebuah pernikahan!"
Pangeran meremas rambutnya. Dia sudah kadung mengucap akan menikahi Melya, kalau sampai orang tuanya tahu jika semua adalah sebuah omong kosong, pasti mereka akan kecewa. Selama ini, sudah begitu banyak rumor buruk tentangnya yang membuat keluarga Mahija jelek di mata orang. Akan tetapi, semua kembali ke prinsip masing-masing.
Pangeran yang tidak suka dikekang dan juga tidak suka dengan yang namanya perempuan. Menurut dia, wanita itu ribet. So, pria berusia kepala 3 itu lebih memilih untuk sibuk mengurus perusahaan daripada mereka. Namun, sepertinya dia tengah makan buah simalakama.
"Gue bakal nurutin semua permintaan elo! Elo mau duit, barang-barang branded, rumah, tanah, atau hal lainnya bakalan gue kasih cuma-cuma ... asal lo mau nikah sama gue. Gimana?" Pangeran akhirnya memberikan sebuah pilihan yang pasti tidak akan ditolak oleh orang lain, termasuk wanita di depannya.
Melya menatap pria di depannya dengan pandangan menuntut. "Lo yakin bakalan ngasih semua itu?" tanyanya dengan tangan dilipat di depan d**a.
Pangeran mengangguk. "Apa pun!"
"Yakin, apa pun?"
Pria itu kembali mengangguk. Dia seolah sudah bingung, bahkan hampir menyerah dari jerat pertanyaan tentang masalah pernikahan yang selama ini menghantuinya. "Yakin, seyakin-yakinnya! Tapi, gue juga ada syarat yang harus lo penuhi!"
Melya menyeringai. "Ok, apa itu?"
Pangeran kemudian berbalik menuju meja kerja dan meminta Melya untuk duduk di kursi satu-satunya yang tersisa. Menyodorkan satu buah kertas kosong kepada wanita itu, sedangkan dirinya sudah mulai menulis sesuatu di lembaran tersebut.
"Apa ini?" tanya Melya sambil membolak-balikkan kertas kosong tersebut. Matanya mencoba mengintip ke arah Pangeran yang tengah sibuk sendiri. "Woi, ini kertas buat apa? Situ kalau mau ngasih sesuatu harus yang jelas, dong!"
"Banyak omong banget, sih, lo!"
Kedua bola mata Melya seketika membelalak. "Lah, si kampret malah ngomel ke gue. Dikira gue bego apa gimana!" omel Melya tanpa takut kepada Pangeran.
Pria itu pun menggebrak meja, kemudian menatap Melya dengan tatapan dingin. "Lo gue kasih kertas kosong itu buat nulis yang boleh dan tidak boleh dilakukan!"
"Contohnya!"
"Semisal, elo dilarang buat tidur satu ranjang sama gue," ucap Pangeran menyebutkan salah satu poin utama yang ditulis olehnya.
"Hah, gimana? Peraturan macam apa itu?"
"Peraturan yang gue buat. Kenapa? Lo keberatan?"
Melya diam sambil merotasikan kedua bola matanya jengah. "Terus hal lainnya?"
"Sebentar, gue tulis semua dulu dan lo mending juga tulis syarat apa aja ya lo mau dari gue!"
Melya kemudian mengedikkan bahu dan mulai fokus dengan apa yang harus ditulis. "Permintaan gue cuma satu!" ujarnya tiba-tiba.
Pangeran mendongak, menatap wajah Melya dengan datar. "Katakan!"
"Gue gak suka dikekang!"
"Hanya itu?" tanya Pangeran. "Lo gak pengin harta gue?"
Melya berdecih sinis. "Sorry, Bro! Gue bukan perempuan miskin yang suka morotin duit laki. Selama kaki dan tangan gue bisa dipakai buat nyari duit, lo gak usah khawatir gue bakalan ngerecokin elo."
Pangeran diam-diam melihat wanita itu kagum. Namun, dengan cepat pemikiran tersebut dibuang. "Awas aja kalau sampai nanti lo ingkar. Gue catet nih di kertas gue!"
Melya tak gentar. "Silakan!" Setelah itu, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Hampir 15 menit mereka terjebak dalam kebisuan hingga suara Pangeran memecah hening.
"Lo bisa baca dulu surat perjanjian ini. Lo gak usah khawatir gue bakalan ingkar janji karena sejatinya gue juga gak suka ngurusin hidup orang lain," ucap Pangeran sambil menyerahkan kertas ke Melya.
Wanita itu menerimanya, kemudian membaca dengan seksama. Berbagai macam ekspresi baru saja dikeluarkan oleh Melya saat melihat isi dari surat perjanjian mereka. "Jadi, lo mau nikah sama gue cuma buat nutupi sifat lo yang belok itu?"
"Di bagian mana gue nyantumin hal itu? Lo gak usah bikin asumsi sendiri!"
Melya mengedikkan bahu. "Ok, gue setuju!"
***
Tanpa diduga, hari itu juga Pangeran langsung membawanya untuk menemui sang keluarga. Melya benci tatapan penuh selidik dan intimidasi yang dilayangkan padanya. Seolah dirinya adalah seorang terdakwa. Kenyataannya, Melya hanyalah seorang korban.
"Jadi, apa benar kalau kalian akan menikah? Kalian tidak sedang berbohong kepada kami, 'kan?" Suara cukup berat dan tegas langsung memecah hening.
"Ayah, kenapa bicara seperti itu? Kamu menakutinya!" Ratu memukul lengan suaminya. Dia kemudian beralih menatap Melya yang tengah tersenyum kaku. "Maaf ya, Sayang. Suami saya ini emang orangnya suka begini."
"Loh, apa salah jika ayah bertanya seperti itu?"
Ratu mencubit pinggang suaminya, lalu tersenyum kepada Melya yang kini menunduk. "Diamlah, Yah! Kau sudah membuat calon mantuku merasa tertekan!' bisiknya.
"Tolong cubit gue, kalau perlu cubit ginjal gue! Astaga. Gue ini lagi ngapain, sih, di sini? Terus kenapa juga gue mau-mau aja diseret ke rumah ini!" batin Melya meronta-ronta.
"Ayah. Percayalah! Wanita ini memang sudah menjadi pilihanku. Lagian mana mungkin aku berbohong. Bukankah begitu, Sayang?" tanyanya kepada Melya yang hanya bisa mengangguk layaknya boneka.
Dia kemudian kembali melihat ke arah ketiga orang yang kini tengah menyidangnya. "Lagian, bukankah Pangeran udah pernah bilang kepada kalian. Bila suatu saat nanti ada perempuan yang aku bawa ke sini, berarti dialah calonku."
"Bukan kami tidak percaya, Dek. Tapi, kamu yakin kalau dia adalah orang yang tepat?" Sherina Altezza Mahija –anak pertama keluarga Mahija– bertanya.
"Apa kamu gak percaya sama adek kamu sendiri?" Pangeran menimpali dengan pandangan bertanya. "Ketika aku sudah membawanya ke sini, berarti aku memang serius, Mbak. Buat apa aku berbohong!" sambungnya serius.
"Benar, Sher. Bunda bisa jadi saksi. Kalau, adik kamu itu memang cinta sama Melya." Wanita itu tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke arah telinga anak pertamanya. "Apa kamu tidak melihat sesuatu di itu, tuh!" bisik Ratu sambil menunjuk ke arah leher jenjang milik Melya.
Melya yang merasa jika tengah diperhatikan kemudian memegang bagian lehernya.
"Itu beneran Pangeran yang ngelakuin, Bun?" tanya Sherina shock.
Ratu mengangguk antusias. "Iya, Sher. Adikmu bukan gay," ujarnya begitu senang hingga memukul lengan putri pertamanya. "Bunda juga tadinya nggak percaya, tapi setelah melihat sendiri … Bunda jadi percaya!" sambungnya.
Kedua bola mata Sherina melotot shock. Bukan karena marah, melainkan senang. "Kyaaaa! Adekku yang ganteng bingit ternyata kamu masih normal. Yeahhhhh!"
Melya hampir menjatuhkan rahangnya saat mendengar pekikan bahagia dari kedua wanita di sana. Namun, setelah itu dia berdecih sinis. "Cih!"
"Gue denger, Nona!" bisik Pangeran.
Melya menatap pria di sampingnya dengan tatapan sinis, tetapi kemudian tersenyum ke arah ketiga orang di sana. "Lo kalau emang doyan sama pisang, seharusnya gak ngincer jeruk Sunkist seperti gue, Boy!"
"Lo itu cuma jeruk bekas lepehan orang. Jadi, gak usah banyak tingkah, deh!" bisik Pangeran sambil mendekatkan wajahnya ke arah telinga Melya. Namun, seolah tidak ingin membuat keluarganya curiga dan akting mereka lebih meyakinkan, dia kemudian mengecup pipi wanita itu.
"Yakh!"
"Ish, kamu gak perlu malu begitu, Sayang. Bukankah kita biasanya melakukan lebih, eoh?"
"Kyaaa! Anakku ternyata beneran normal. Ayah, ayo buruan suruh mereka menikah! Aku udah gak sabar buat nimang cucu!" Ratu menjerit heboh, bahkan sampai jingkrak-jingkrak bersama dengan Sherina.
"Kalau memang kalian sudah tidak sabar, kita bisa siapkan secepatnya pernikahan kalian. Bagaimana dengan keluarga Nak Mel? Apa keluarga kami bisa bertemu dengan keluargamu?"
"Kalau bisa secepatnya, Sayang!" ucap Ratu semangat.
*
Ada 2 kegilaan yang dilakukan oleh Melya dalam hidupnya. Pertama, mau menandatangani isi kontrak dan kedua menikah kontrak dengan CEO Dingin. Bukan Yuda, Bram, atau Amer, melainkan Pangeran. Sosok yang baru saja sah menjadi pasangan hidupnya di mata hukum dan juga agama. Disaksikan oleh keluarga dan juga orang terdekat.
Kini, dua pasangan pengantin itu tengah menjamu para tamu undangan yang berjumlah tidak lebih dari 100 orang. Pangeran dan Melya memang sengaja tidak mengundang banyak tamu karena malas.
"Selamat ya, Sayang. Semoga kalian menjadi keluarga bahagia dunia dan akhirat serta dikaruniai anak-anak yang imut dan manis seperti kalian, amin!" ucap Ratu sambil menghapus air matanya.
"Bun, udah, dong jangan nangis! Malu," bisik Pangeran.
"Hush, orang emak lagi mewek malah di kayak gituin. Dasar, Pisang!"
Pangeran menatap sinis ke arah Melya yang mencibirnya. Namun, pandangan itu kemudian ditarik oleh si ibu. "Ada apa, Bun?"
"Oh, iya. Bunda udah siapin tiket penerbangan ke Korea untuk bulan madu kalian, loh!" ucap wanita paruh baya itu dengan senyum sumringah. "Dan, kalian punya waktu 3 jam dari sekarang jika tidak ingin terlambat!"
"Apa?"
"Bunda, apa ini gak terlalu cep–"
"Supir dan koper udah nungguin kalian di depan. Jadi, gak mau 'kan, kalau sampai ketinggalan pesawat?" Seringai itu begitu lebar hingga membuat Pangeran ketakutan.
"Tapi, kami belum nyiapin baju dan lainnya, Tante," sahut Melya. Kini, dia masih memakai dress putih panjang dengan bagian d**a cukup rendah hingga membuatnya terlihat begitu seksi.
"Tenang, Sayang. Semua sudah beres dan kalian tinggal caw!" ucap Ratu sambil mengerling kepada sang menantu.
"Hah? Kok, bisa?"
Tiba-tiba, ada sebuah tangan besar memeluk bagian pinggang wanita itu sehingga membuat protes dari Melya berhenti. "Udah gak usah banyak ngoceh, deh! Ikuti aja permainan ini!"